Oleh Adrian Diarto
Katolikana.com—Kabarnya lelaki itu sempat mengeluh sakit di dadanya, sebelum akhirnya berpulang dengan tenang di rumahnya di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.
Drs. Susilo Nugroho, atau yang berpuluh-puluh tahun kita kenal sebagai Den Baguse Ngarso, telah tiada.
Ia pergi dari teras rumahnya yang asri—sudut favorit tempat ia biasa bersantai, menjumpai tamu, atau sekadar menghabiskan sore.
Sore itu, Senin, 21 September 2026, sang maestro menutup mata di usia 66 tahun. Di dekat petinya sebelum ditutup, suara parau para sahabat pelan-pelan melantunkan lagu Mars De Britto. Sebuah tradisi pelepasan yang khidmat, mengantar salah satu alumni terbaiknya pulang.
Susilo bukan sekadar hafal lagu itu. Ia adalah sedikit dari alumni yang benar-benar menghidupi bait-bait hymne tersebut hingga napas terakhirnya.
Jiwanya merawat cita-cita yang luhur, dan kejujuran hidup ia letakkan di atas segalanya. Persis seperti Santo Yohanes de Britto, sang martir yang menanggalkan jubah kebangsawanan Portugal demi menyatu dengan rakyat jelata di India, Susilo juga menanggalkan ego besarnya sebagai seniman demi melebur bersama warga biasa.
Seluruh dayanya ia serahkan untuk Tuhan yang ia yakini, dan bangsa yang ia cintai.
Jawa baru saja kehilangan salah satu juru kelakarnya yang paling jernih.
Bagi publik Indonesia, Susilo adalah Den Baguse Ngarso—karakter priyayi desa yang sok berkuasa, agak sombong, tapi sebetulnya jenaka. Karakter ikonik ini lahir dari komedi situasi Mbangun Desa di TVRI Yogyakarta era 1980-an.
Lewat Den Baguse, Susilo tidak sedang mengejek siapa-siapa. Ia justru sedang menyodorkan cermin di depan muka kita. Humornya adalah kritik tajam yang dibungkus dengan kesantunan penuturan.
Namun, begitu keluar dari panggung Teater Gandrik atau sorot kamera, Susilo kembali menjadi warga biasa. Ia tumbuh dan berakar dari sebuah ruang hidup yang unik: Yogyakarta.
Secara kasatmata, Jogja jelas berubah. Hotel-hotel baru terus merangsek, jalanan makin padat, dan beton-beton jangkung bermunculan di sudut kota. Namun anehnya, kota ini selalu berhasil merawat rasa rindu bagi siapa saja yang pernah singgah. Mengapa bisa begitu?

Saya selalu sepakat dengan amatan sosiologi-urban dari Prof. Bakti Setiawan. Jogja memang tidak bisa dibaca dengan kacamata perkotaan Barat yang kaku. Jogja adalah sebuah “Kota Kampung”. Fisiknya mungkin bertumbuh menjadi kota modern, tetapi jiwa, mentalitas, dan cara hidup warganya tetap memegang erat nilai-nilai kekampungan.
Kekampungan di Jogja bukanlah cerita tentang kemiskinan atau ketertinggalan. Nilai itu hidup di lika-liku gang sempit yang bersih, tempat sapaan “Monggo” selalu terdengar renyah setiap kali ada orang melintas. Di lorong-lorong inilah komunikasi warga mengalir tanpa sekat. Pot-pot tanaman ditata rapi di depan rumah, anak-anak bermain dengan aman, dan tetangga saling bertukar kabar dari teras rumah yang mepet ke jalan.
Di sinilah rahasia kehangatan Jogja. Kota ini tidak dibangun oleh kemegahan arsitektur, melainkan oleh manusianya yang merawat tradisi srawung dan gotong royong secara alami.
Di dalam ekosistem Kota Kampung inilah Susilo Nugroho memilih jangkar hidupnya. Lulusan Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan IKIP Yogyakarta ini memilih untuk terus membumi. Ia bukan seniman yang menjaga jarak dengan realitas. Ia adalah tetangga yang menyapa warga di gang, duduk lesehan menikmati teh di angkringan, ikut ronda malam, dan selalu meluangkan waktu untuk hadir saat kenduri tetangga.
Batas antara studio seni dan pos ronda di Jogja memang setipis itu. Kebudayaan di kota ini tidak dihafalkan di dalam ruang seminar yang formal, melainkan dihidupi langsung dalam pergaulan harian.
Iklim kampung ini pula yang membuat hubungan antar-seniman di Jogja terasa sangat lekat. Hubungan mereka tidak diikat oleh kalkulasi bisnis yang kaku, melainkan oleh semangat sambatan—saling bantu tanpa hitung-hitungan.
Hari ini seorang seniman membantu menata panggung kawannya, besok lusa mereka bergantian meramaikan pameran bersama. Ego individual seketika luruh oleh gojekan dan kelakar di atas tikar yang sama. Jika ada seniman yang mulai tampak sombong, candaan kawan-kawannya akan dengan cepat mengembalikan mereka ke tanah.
Bahkan ketika teknologi digital masuk, kehangatan itu tidak lantas luntur. Warga kampung di Jogja selalu punya cara unik untuk beradaptasi. Grup WhatsApp RT bertransformasi menjadi pos ronda digital. Pengumuman lelayu, koordinasi kerja bakti membersihkan selokan, hingga iuran swadaya untuk tetangga yang sakit bisa bersirkulasi dan selesai dalam hitungan menit.
Selasa sore, 22 September 2026, jenazah Susilo Nugroho diantar ke peristirahatannya yang terakhir di TPU Krapyak, Bantul. Ratusan orang datang melayat. Aktor gaek, seniman muda, pejabat daerah, hingga tetangga se-RT membaur menjadi satu tanpa sekat kelas sosial.
Susilo telah pergi. Namun, ia meninggalkan satu pelajaran berharga bagi kita semua: tentang bagaimana menjadi seorang seniman besar, tanpa harus menjadi asing bagi tetangganya sendiri.
Den Baguse Ngarso memang telah berpulang, tetapi Yogyakarta akan terus dirindukan. Sebab di tengah zaman yang bergerak makin individualis, kota ini memilih untuk tetap setia menjaga gang-gang sempitnya agar selalu hangat bagi siapa saja.
Kulonuwun… Monggo..
Penulis: Adrian Diarto, pegiat Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG).
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.