Siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan Wajib Jalani Napak Tilas 30 KM untuk Mengenang Perjalanan Romo Van Lith

Bagi Alumni, Napak Tilas Jadi Pengalaman Tak Terlupakan

0 2,766

Katolikana.com—Muntilan terletak di kaki Gunung Merapi, diapit dua kota besar, Magelang dan Yogyakarta. Kota mungil yang dijuluki Bethlehem van Java ini menjadi saksi awal tumbuhnya benih iman katolik di tanah Jawa.

Di sinilah misionaris dari Belanda Romo Fransiscus Georgeus Josephus Van Lith menyebarkan benih cinta kasih Kristus dan menyebarkan visi misi pendidikan bagi pribumi. Sosoknya dikenal sangat akrab dengan masyarakat setempat.

Romo Van Lith mendidik muridnya menjadi agen perubahan sosial lewat jalur pendidikan untuk masuk ke masyarakat pribumi.  Ia berpandangan bahwa masyarakat pribumi mampu mengubah Indonesia lewat karakter katolik yang kuat.

Hingga kini SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama terus menjaga dan menanamkan spiritualitas Van Lith, salah satunya lewat kegiatan Napak Tilas yaiyu berjalan kaki mengikuti jejak atau rute perjalanan Romo Van Lith selama bermisi di Tanah Jawa.

Seperti apa Napak Tilas Perjalanan Romo Van Lith ini? Kontributor Katolikana.com Anselma Hesti Widyastika, seorang alumna  SMA Pangudi Luhur Van Lith yang kini belajar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, membagikan pengalaman dan fakta menarik tentang Napak Tilas para siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith dari Muntilan menuju Sendangsono.

Perjalanan Napak Tilas yang sudah dijalani sejak Subuh, menuju ke Borobudur. Foto: Anselma Hesti

Jejak Perjalanan Romo Van Lith

Perjalanan Romo Van Lith tidak hanya berhenti di desa Semampir namun juga melewati Borobudur, kapel Kerug dan Sendang Sono. Menurut kesaksian masyarakat setempat, Romo Van Lith sampai ke daerah pegunungan seribu dengan menyebarkan warta sukacita. Dari perjalanan itu, Romo Van Lith berhasil membaptis 162 orang di Sendang Sono yang kini menjadi tempat peziarahan bagi umat Katolik.

Kegiatan Napak Tilas ketika tiba di Kapel Kerug setelah perjalanan dari Borobudur. Foto Anselma Hesti

Satu Kali selama di Van Lith

Kegiatan Napak Tilas dilakukan semasa siswa-siswi kelas 10 pada bulan April-Mei. Selain untuk melestarikan kebudayaan dan kebiasaan, Napak Tilas ini menjadi salah satu titik penentuan bagi siswa. Ketika tiba di Sendang Sono, para siswa harus mengucapkan surat pernyataan untuk mau melanjutkan kehidupannya di Van Lith. Kegiatan ini sangat diingat oleh lulusan Van Lith karena berbeda dengan sekolah asrama lain.

“Yang paling saya ingat ketika saya harus berdiam diri, berkontemplasi membayangkan dan menjalani perjalanan kehidupan Romo Van Lith ketika bermisi di tanah Jawa,” ungkap Pupung Arifin, alumnus Van Lith yang kini Wakil Dekan III FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Jalan Kaki 30 Kilometer

Untuk menuju Sendang Sono, ada rute yang harus dijalani oleh anak Van Lith yaitu Borobudur-Kerug-Sendang Sono sejauh 30 kilometer. Sudah menjadi perjanjian di awal bahwa untuk menempuh pendidikan di SMA asrama ini harus berjalan kaki ke manapun. Aturan tersebut juga berlaku ketika Napak Tilas.

Retret Visi Misi

Untuk sampai ke titik perjalanan Napak Tilas, setiap siswa Van Lith harus mengikuti serangkaian kegiatan retret Visi dan Misi untuk mengenalkan tujuan dari romo Van Lith melakukan perjalanan dan juga penjajakan awal untuk perjalanan Napak Tilas nantinya.

Retret bertujuan agar siswa benar-benar menghidupi semangat Van Lith selama menjalani kehidupan sekolah di asrama serta memotivasi untuk makin bersemangat mengikuti kegiatan Napak Tilas.

“Harus retret dulu. Kalau tidak retret tidak mendapat pin. Retret juga harus diikuti full ampai akhir,” ujar Emil Valentino, siswa Van Lith.

Para siswa menandatangni surat pernyataan. Foto: Anselma Hesti

Pin Simbol Perjuangan

Setelah mengucapkan surat pernyataan dan berjanji pada diri sendiri, setiap siswa mendapatkan hadiah pin untuk selalu disematkan di kerah seragam sekolah.

Namun tidak semua anak Van Lith yang mengikuti kegiatan Napak Tilas langung mendapatkan pin. Sekolah sudah mencatat siswa yang dianggap kurang layak mendapatkan pin.

Setelah tahu bahwa seorang siswa tidak mendapatkan pin maka dia harus dibimbing dan memperbaiki diri sesuai kriteria, di antaranya nilai sekolah dan sikap ketika di sekolah dan asrama. Pin berbentuk logo sekolah itu harus dijaga dengan baik dan digunakan setiap hari.

Kegiatan Napak Tilas ini menunjukkan betapa spiritualitas Van Lith sangat dihidupi para siswa. Menurut pendamping SMA Pangudi Luhur Agustinus Sukirdjo, Napak Tilas dirancang sebagai program sekolah.

“Awalnya masih mencari bentuk kegiatan sekolah yang sesuai dengan visi misi Van Lith. Maka dari itu dipilihlah kegiatan ini untuk menjadi memori perjalanan misi yang selalu kita hidupi,” ungkap Ag. Sukirdjo. ***

 

Yohanes Widodo alias masboi. Guru jurnalisme di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ayah dua puteri: Anjelie dan Anjani. Bisa dihubungi melalui fb.com/masboi, Twitter @masboi, atau IG @idmasboi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.