José Luiz Sanchez del Río: Martir Muda dalam Perang Cristero

0 153

Katolikana.com – Tubuh pemuda itu terbaring di atas kain lenin. Ia berkulit putih, berkemeja putih dan mengenakan celana panjang biru. Bibirnya terkatup. Matanya terpejam. Tubuhnya terbujur kaku di balik kotak kaca panjang. Tangan kirinya menggenggam daun palma kering. Pada kedua kakinya terlihat ada luka sayatan dengan liukan yang cukup dalam. Bekas memarnya masih terlihat. Merah keunguan. Bukti penganiayaan yang ia terima semasa hidupnya, masih jelas melekat di tubuhnya. Ia memegang salib emas di tangan kirinya.

Demikian, gambaran jenazah Jose Luis Sanchez Del Rio, dalam sebuah foto di laman Facebook Antonius Joko SCJ yang ia unggah pada Minggu, 4 Agustus 2019.

Jose  Luis Sanchez Del Rio adalah seorang anak laki-laki kelahiran Kota Sahuayo, Provinsi Michoacan, pada 28 Maret 1913, di pedalaman Meksiko.

Romo Antonius menjelaskan, tubuh lelaki muda itu tidak rusak meski ia telah meninggal sekitar 91 tahun lalu.

“Dia menjalani kehidupan biasa, seperti anak laki-laki lain di pedalaman Meksiko, sampai kehidupan normal ini dihancurkan oleh kebangkitan Plutarco Elias Calles yang menguasai negara itu,” kata Romo Antonius dalam tulisannya.

Presiden kejam ini, kata Romo Antonius, yang dinyatakan sebagai sosialis/Komunis dan Freemason melakukan salah satu penganiayaan terbesar yang diderita Gereja Katolik di abad kedua puluh. Dengan dalih “membersihkan bangsa dari fanatisme agama”, Plutarco Calles memulai serangan militer terhadap para imam, religius dan umat beriman awam yang menunjukkan tanda-tanda iman Katolik.

Ia juga menyita semua Gereja, menangkap dan membunuh imam, uskup, biarawan, biarawati di antara banyak umat lainnya.

“Setelah penganiayaan tersebut, sekelompok umat Katolik yang setia dipaksa untuk mengangkat senjata untuk memastikan kelangsungan hidup mereka. Konflik ini dikenal sebagai Cristiada/Cristeros atau Perang Kristen, untuk menghormati tentara Kristen yang dikenal sebagai Cristeros,” kata Romo Antonius melanjutkan.

 

Suatu hari, Romo Antonius berkisah, ketika mengunjungi makam Yang Terberkati Martir Anacleto González Flores, yang telah meninggal selama penganiayaan dengan cara yang brutal dan kejam, Jose Luiz Sanchez del Rio berdoa kepada Tuhan bahwa ia juga bisa mati demi menjaga imannya.

Pada usia 13, ia pergi menemui Jenderal Prudencio Mendoza, yang bermarkas di desa Cotija, sehingga ia dapat bergabung dengan pasukan Cristero. Ketika dia tiba, dia berbicara kepada jenderal yang bertanya: “Apa yang kamu cari di sini, nak?”

Dia menjawab: “Aku datang ke sini untuk mati demi Kristus Raja.”

Ketulusan kata-kata itu dan pandangan tanpa takut yang jelas dari anak lelaki yang mulia ini bergema dalam di hati sang jenderal Kristen, yang mengizinkan dia masuk ke dalam milisi. Selama setahun, José Luiz Sanchez Del Río bertempur dalam banyak bentrokan sengit melawan tentara pemerintah Freemason dan Komunis.

 

Jenasah Jose yang masih utuh/pistonclasico

 

PADA FEBRUARI 1928, sekitar satu tahun setelah masuk ke dalam pasukan Cristero, bocah itu dan para konfranya terperangkap dalam sebuah penyergapan. Jose Luiz menyerahkan kudanya kepada pemimpin perlawanan, ditangkap oleh tentara sadis pemerintah Plutarch.

Untuk membuat anak itu melepaskan keyakinannya, mereka melukai telapak kakinya hingga tulang dan mengikatnya pada seekor kuda, memaksanya berjalan sekitar empat belas mil tanpa alas kaki.

“Kita tidak perlu mengatakan di sini tingkat rasa sakit yang dirasakan anak malang ini, namun pada saat-saat rasa sakitnya tak tertahankan, anak lelaki yang penuh rahmat Ilahi itu berteriak keras dan penuh semangat, “Hiduplah Kristus dan Perawan dari Guadalupe!”, kata Romo Antonius.

Tidak berhasil dalam mencoba membuat Jose Luiz untuk melepaskan keyakinannya melalui rasa sakit yang paling menyengsarakan dan menyakitkan, para prajurit mencoba mengintimidasinya dengan cara lain.

Ia dibawa ke kampung kelahirannya. Lalu para prajurit menyuruh ibunya untuk menulis sepucuk surat yang memintanya untuk menghapuskan kepercayaan Katolik agar ia bisa dibebaskan.

José pun menanggapi pesan ibunya:

Ibuku tersayang.

Aku di penjara dalam pertempuran hari ini. Aku percaya bahwa saat ini aku akan mati, tetapi tidak masalah, tidak masalah, Bu. Berbahagialah untuk kehendak Tuhan;

Aku mati sangat bahagia karena pada akhir semua ini, aku mati di samping Tuhan kita. Jangan khawatir atas kematianku. Sebaliknya, beri tahu saudara-saudaraku yang lain untuk mengikuti teladan si kecil, dan engkau melakukan kehendak Allah kita.

Beranilah dan berikanlah aku berkat bersama dengan berkat ayahku. Berikan salam mereka semua untuk yang terakhir kalinya dan engkau akhirnya menerima hati putramu yang sangat mencintaimu dan ingin melihatmu sebelum dia meninggal.

Keesokan harinya Jose dieksekusi.

Pada 10 Februari 1928, hari Jumat, bocah lelaki yang akan berusia 15 tahun itu mempersembahkan hidupnya demi menjaga kesetiaan imannya kepada Yesus Kristus.

 

Keajaiban tubuh Jose yang tetap utuh/Istimewa

MELANSIR DARI LAMAN denvercatholic.org, Paus Fransiskus mengkanonisasi Joselito, panggilan akrabnya, pada 16 Oktober 2016 di Roma, bersama enam orang lainnya.

Sejarah Joselito, berdasarkan laman tersebut menjelaskan, bahwa, kisahnya memiliki beberapa kebetulan yang menyedihkan. Pertama, Gereja Santo Yakobus Rasul di Sahuayo, tempat Joselito dibaptis, menjadi penjara. Lalu, ayah baptisnya untuk Komuni Pertama (di Meksiko, adalah tradisi untuk memilih ayah baptis atau sponsor untuk Komuni Pertama), Rafael Picazo Sanchez, adalah orang yang memerintahkan pembunuhannya.

Saksi-saksi yang mendukung kanonisasi Jose bersaksi bahwa dia adalah “anak yang normal dan sehat dengan karakter yang penuh kegembiraan.”

Pastor Missionary Fidel González, mengatakan kepada El Pueblo Católico, “Dia pergi ke kelas Katekismusnya dan terkenal karena komitmennya pada kegiatan paroki yang sulit. Meskipun membahayakan hidupnya karena ibadat umum dilarang, dia menerima sakramen kapan pun dia bisa. Dia berdoa rosario suci setiap hari bersama keluarganya. Meskipun masih sangat muda, José memahami dengan baik apa yang sedang dialami Meksiko dengan penganiayaan,” kata Pastor González.

Meskipun masih anak-anak, José bergabung dengan Cristeros, sebuah gerakan yang berusaha membela kebebasan beragama di negara itu. Dia melakukan tugas-tugas sederhana, seperti membantu logistik untuk mereka yang berperang demi iman.

Ketika terjadi bentrokan antara pasukan Cristero dan pasukan federal, José menyelamatkan salah satu pemimpin pasukannya, pemimpin Cristero Guizar Morfin. Kuda Morfin terbunuh dan dia dalam bahaya ditangkap.

José, melihat kesulitannya, dengan cepat turun dari kudanya dan menyerahkannya kepada jenderal.

“Jenderal, ambil kudaku dan selamatkan dirimu. Kamu lebih dibutuhkan daripada aku,” kata José.

Jenderal Guizar Morfin berhasil melarikan diri, tetapi pasukan federal menangkap José, membawanya ke Kota Cotija, memukuli dan menegurnya di sepanjang jalan.

Selama dipenjara, dia menulis surat kepada ibunya, “Jangan khawatir tentang kematianku, karena ini akan membuatku menderita … Berani dan kirimkan berkatmu, bersama dengan restu ayahku.”

Picazo, ayah baptisnya, tidak ingin membunuh Jose dan menawarinya berbagai proposal untuk menyelamatkan hidupnya. Dia menawarkan untuk mendaftarkannya di sekolah militer bergengsi atau mengirimnya ke Amerika Serikat, tetapi ia menolak. Ia harus menyangkal imannya.

Mereka juga meminta tebusan 5.000 peso kepada keluarganya, tetapi José juga menolak tawaran ini, mengatakan bahwa imannya “tidak dijual.”

Pada 10 Februari 1928, mereka memindahkan José ke sebuah gedung di dekat tempat dia ditahan dan memberi tahu keluarganya bahwa dia akan ditembak. Salah satu bibinya berhasil membawanya Komuni.

“Saya dijatuhi hukuman mati. Pada 8:30 malam, saat yang saya inginkan begitu, begitu banyak akan tiba. Saya berterima kasih atas semua kebaikan yang telah Anda perlihatkan kepada saya, Anda dan Magdalena,” tulis Jose kepada bibinya.

Para prajurit menyiksanya dengan memotong bagian bawah kakinya dengan pisau dan memaksanya berjalan tanpa alas kaki ke tempat peristirahatan terakhirnya, pemakaman Sahuayo.

Seorang saksi mengatakan, “Saya tidak mendengar keluhan; Saya hanya mendengar suara José yang pasrah. Saya melihat jejak kaki darah dari telapak kakinya di gerbang yang disebut Arregui yang ada di jalan yang menuju ke kuburan; di penginapan mereka juga menyiksanya. Mereka membawanya ke pemakaman di mana dia ditikam pertama kali dan kemudian mereka memberinya pukulan terakhir di kepala.”

Setibanya di kuburan, José ditikam oleh para prajurit. Dengan setiap serangan, ia berteriak, “Hidup Kristus Sang Raja! Hidup Mary Suci dari Guadalupe!” Kemudian seorang pemimpin militer menembaknya dua kali di kepala, meletakkan tubuhnya yang tak bernyawa di kuburan kecil dan menutupinya dengan tanah. Itu pukul 11:30 malam pada 10 Februari 1928.

Kardinal José Saraiva Martins pada homili beatifikasinya pada tahun 2005 di Guadalajara mengatakan, Beato José Sánchez del Río harus mengilhami kita semua, terutama Anda kaum muda. Untuk dapat memberikan kesaksian kepada Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ia dideklarasikan menjadi martir pada 22 Juni 2004 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dibeatifikasikan oleh Paus Benediktus XVI melalui Kardinal-Prefek Kongregasi bagi Penyebab Penganugerahan Gelar Santo-Santa pada 20 November 2005 di Meksiko. Paus Fransiskus menyetujui sebuah mukjizat yang diatributkan kepadanya pada 21 Januari 2016.

Editor: Basilius Triharyanto

Wartawan Katolikana.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.