Mengenang Guru Besar UGM Cornelis Lay: Interaksi Membentuk Karakter (1)

Mengenang Guru Besar FISIPOL UGM Cornelis Lay, tokoh intelektual asal Kupang

0 67

Selamat jalan Bu Ne’i! Kakak dan tetua Persaudaraan Kupang Raya (Perkuray). Selamat bertemu dengan Mas Riswanda Imawan, salah seorang Rajawali yang pergi jauh lebih awal. Banyak cita-cita 98 yang masih menjadi PR bersama.

Pengantar–Guru besar di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada Cornelis Lay  mengembuskan napas terakhir hari Rabu (5/8/2020) sekitar pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, dalam usia 61 tahun.

Sesama anak daerah dari Kupang memanggilnya Bu Ne’i. Bu Ne’i biasanya keras mendidik. Ia hanya berpesan, cari jalan sendiri dan bikin jaringan sendiri. Pesannya adalah petuah dan dikerjakan hingga hari ini.

Tulisan ini sengaja tidak diubah dari bentuk aslinya tahun 1998 (22 tahun silam). Waktu itu Pemred PASTI Elcid Li, seorang mahasiswa yang kebetulan sekota asalnya, dari Kupang, mewawancarai Cornelis Lay, sebagai salah seorang role model para mahasiswa di Jogja. 

Tahun 1990an, salah satu kantong gerakan mahasiswa di Jogja juga muncul dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Unit Penerbitan Mahasiswa PASTI juga menjadi salah satu simpul gerakan.

Buku Belajar Hidup/PASTI

Kumpulan narasi mereka sengaja menjadi bahan belajar kami. Sengaja mereka yang terpilih berasal intelektual, aktivis, seniman, penulis, pendidik, dan filsuf untuk diabadikan dalam buku yang bertajuk Belajar Untuk Hidup. Bukan sekedar belajar untuk dapat gelar.

Buku ini diterbitkan secara eksklusif untuk para mahasiswa baru tahun 1998 sebagai ‘Buku Suci Ospek’. Buku ini sendiri juga menjadi salah satu artefak sejarah, beberapa orang yang ditulis sudah meninggal, dan ada penulisnya pun yang sudah meninggal.

 

Conny, demikian ia biasa dipanggil. Lahir di Kupang, Nusa tenggara timur. Setelah lulus SMA Negeri 1 Kupang,  ia akhirnya terdampar di Jurusan Ilmu Pemerintahan  Fisipol UGM (S1) 1980- 1987. Memperoleh gelar master di International Development Studies di St. Mary’s University Canada (S2) 1989-1991. Sekarang menjadi staf pengajar Fisipol UGM dan penulis, dan pengamat politik.

Anak daerah

Seperti banyak orang dari daerah saya pengen sekali bisa sekolah di Jawa tetapi informasi dan pengetahuan tentang sekolah dan segala macam mengenai Yogya sangat minim. Satu-satunya yang saya ketahui adalah di Yogya ada Universitas Gadjah Mada.

Memang waktu itu saya belum tahu betul berapa besar dan betapa berpengaruhnya Universitas ini dalam jajaran perguruan tinggi negeri.

Setelah sampai di Yogya kok nama Gajah Mada ternyata cukup besar banyak diperhitungkan orang. Itu saya ketahui kemudian.

Dalam masa persiapan sekolah SMA di Kupang tidak banyak informasi saya peroleh. Pada tes pertama saya nggak lolos di Gajah Mada ya karena saat saya datang, tes sudah ditutup.

Saya kemudian memutuskan untuk ikut tes di Universitas Airlangga karena tingkat kompetisi yang begitu tinggi sementara kualifikasi pendidikan dari daerah apalagi di NTT sangat rendah akhirnya saya tidak lolos tes pertama. Itu sungguh mengecewakan.

Setelah itu memang ada banyak pilihan di perguruan tinggi swasta tapi standarnya sangat tinggi. Bagi rata-rata orang daerah itu merupakan beban ekonomi yang sangat besar.

Jadi karena hasrat untuk sekolah besar sekali, ya sudahlah tunggu agar bisa masuk ke UGM saja. Waktu itu kan biaya kuliah sangat murah, cuma Rp. 15.000 per semester. Sambil menunggu, saya mengikuti bimbingan tes. Tes lagi, akhirnya bisa juga lulus di UGM.

Awal-awal kuliah, seperti juga banyak anak daerah yang merasa besar di daerahnya sendiri, lingkup pergaulannya tebatas.

Ketertarikan mahasiswa dari Kupang pada lembaga atau organisasi mahasiswa, sangat minim. Tapi, secara bertahap kami mulai bisa melihat. Ternyata ada banyak organisasi, banyak orang terlibat aktif. Akhirnya, saya masuk; beraktivitas, belajar dan berorganisasi.

Saya bersyukur bisa cepat belajar, cepat melihat banyak persoalan. Ya, mulai ada kompetesi yang sangat sehat dan kuat, terutama di kalangan aktivis. Ini untuk membuktikan, bahwa akivitas di kampus bukan kompensasi melarikan diri dari kemampuan.

Saya merasa kombinasi aktivitas-aktivitas kemahasiswaan—sekaligus intensitas diskusi di antara kawan-kawan dan kelompok-kelompok—sangat luar biasa pada zaman itu.

Memang, secara pribadi saya mengalami kesulitan uang yang luar biasa ketika kuliah. Namun saya akhirnya harus berusaha sendiri menemukan solusinya.

 

Ilustrasi artikel di buku Belajar Hidup/PASTI

 

Ndesa, Survive

Yang menarik, Yogya waktu itu masih sangat ndesa. Bentuk-bentuk kehidupan, seperti yang sekarang terkenal di stasiun, dan macam-macam lainnya, tidak menjadi ganjalan. Itu sudah menjadi gejala umum. Namun, itu bukan penyelesaian atau model dari mahasiswa ataupun anak-anak SMA zaman itu.

Awal tahun 80-an, semua hal memang sangat sulit di Yogya. Sampai tahun 1982, belum ada bus kota. Saya naik colt. Kalau ke kampus, numpuk jadi satu dengan segala macam barang.

Juga, seperti biasanya, mahasiswa yang susah itu yang dari daerah-daerah. Makanya kalau makan, misalnya makan tempe; makan tiga bilang satu, makan empat bilang dua. Semua gejala itu normal terjadi.

Sementara pergaulan lintas etnik, lintas agama mulai berlangsung baik. Kami berusaha bersama memecahkan berbagai masalah, terutama ekonomi.

Lalu, saya temukan salah satu cara agar bisa survive. Yang saya lakukan, ialah mulai menulis, mengirim ke koran dan sebagainya.

Tulisan-tulisan itu mulai ada yang dimuat. Tetapi karena waktu itu, saya tidak begitu percaya diri. Saya pakai nama samaran ‘Conny’. Mungkin banyak orang sampai saat ini lebih tahu ‘Conny’. Nama itu dipakai dalam begitu banyak tulisan sampai pertengahan tahun 80-an. Begitu awalnya.

Saya bertahan hidup dengan nama itu dan terus menulis. Meski ada juga kiriman dari kakak, orang tua, sekian bulan sekali dengan jumlah yang sangat kecil.

Bagi saya, yang luar biasa adalah perluasan wawasan saya, lewat keterlibatan dalam berbagai organisasi, intensitas membaca dan sebagainya.

Terus terang di Kupang saya tidak pernah baca Koran. Nggak tahu tokoh-tokoh itu dan seterusnya. Dari aktivitas itu, tumbuh motivasi melakukan hal-hal di luar sekedar kuliah. Saya kira itu ‘perjalanan umum’.

BACA JUGA: Mengenang Guru Besar UGM Cornelis Lay: Interaksi Membentuk Karakter (2)

Moderator di Forum Academia NTT. Direktur Eksekutif IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change). Melakukan riset aksi isu petani subsisten, anak jalanan, perdagangan orang, dan pandemi Covid-19. Ia menyelesaikan studi doktoral di Departemen Sociology & Cultural Studies di University of Brimingham, Inggris. Karya tulisnya yang terbit dalam buku antologi: Tanah Ulayat, Kapitalisme dan Sikap Gereja (Oase Intim, 2015), Globalisation, the Role of the State and the Rule of Law: Human Trafficking in Eastern Indonesia (ISEAS, 2018).

Leave A Reply

Your email address will not be published.