“Jangan Sentuh Aku” dan Seksualitas dalam Gereja Katolik

Mengungkap kisah Yesus dan Magdalena dalam novel Filipina Jose Rizal, "Jangan Sentuh Aku".

1 137

Katolikana.com – Jose Rizal, novelis Filipina, pada tahun 1887 menerbitkan novelnya dengan judul “Noli Me Tangere” (Touch Me Not), yang di dalam bahasa Inggris pernah diberi judul, “An Eagle Flight” (1900), dan “The Social Cancer” (1912).

Namun kemudian diambil judul aslinya lagi. Di dalam bahasa Indonesia novel ini pernah diterjemahkan, “Jangan Sentuh Aku” (1975), oleh Tjetje Yusuf, dan diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.

Joze Rizal adalah seorang novelis yang menulis fiksi, satire dan sejarah Filipina. Menarik untuk ditelusuri apa dan siapa yang ia goreskan di dalam “Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Aku).”

Judul novelnya sangat biblis, yaitu diambil dari Yohanes 20:13-17 yang memang mengandung misteri tentang relasi antara Yesus Kristus yang telah dibangkitkan dari mati dengan Maria Magdalena, orang pertama yang menjadi saksi kebangkitan Yesus itu.

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.’

 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?’

 Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: ‘Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.’

 Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’ Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’, artinya Guru.

 Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu. (Yoh 20:13-17).

Yang pernah gandrung dengan kebudayaan kaum “hippies” (pertengahan 1960), ingat akan adanya bagian kisah Yesus dengan Maria Magdalena. Maria menyanyikan lagu, “I don’t know how to love Him”. Film itu judulnya, “Jesus Christ Superstar (1970).”

Pada tataran manusiawi, Allah menjelma menjadi manusia, Kasih Allah itu konkret dan sekaligus menyeret kita ke dalam palung samudra yang tidak bertepi.

Tahulah apa dan bagaimana kita mesti mensyukuri seksualitas yang dibalut oleh kasih cinta, seperti kita temukan di dalam syair lagu, “Hallelujah” (gubahan Leonard Cohen), seorang Raja Daud bisa blingsatan di dalam temaram sinar rembulan saat dia melihat seorang wanita yang telah bersuamikan Uria, sedang memperlihatkan kemolekannya, yaitu Bathsheba.

Kita tahu akhir dari ceritera ini, bukan? Misteri relasi pria – wanita atau sebaliknya, adalah “the given reality” (realitas terberi) yang dari sononya memang tercipta begitu. Orang boleh membenci, tetapi juga harus mensyukuri.

Pengalaman universal saling tarik-menarik ini tidak mengenal SARA. Dan di dalam ruang – waktu aspek kekonkritan mendorong Pengarang Injil, yaitu Yohanes Rasul, mengalami diri sebagai “Murid yang paling dikasihi oleh Yesus.” (lih. Yohanes 13: 23-25).

Namun, di dalam tataran spiritual, yang manusiawi bisa disublimasikan dan dibawa ke arah yang lebih sempurna, bahkan memasuki misteri Samudra Kasih yang tidak bertepi. Kok bisa?

2000 tahun sudah ada saja orang-orang beriman kristen, yang telah mempersembahkan diri untuk mengimbangi Allah yang adalah Kasih, dan menggelontorkan seluruh diri demi mencintai Dia yang hadir di dalam sesamanya.

Seperti pada Yohanes 15: 9-14, Yesus sendiri bersabda: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”.

Bagi yang cuma mendandalkan SDM diimani tidak mungkin, bukan? Tetapi yang menyandarkan pada SDI (Sumber Daya Ilahi), yang tidak mungkin menjadi mungkin. Maka, agar tidak jatuh ke dalam seksualitas yang kebablasan, ya kuatlah di dalam melengketkan pada SDI.

Demikian doa saya:

Tuhan Yesus, Gereja-Mu yang Satu , Kudus, Katolik, Apostolik, sedang dilanda oleh masalah seksualitas. Karunia yang menjadikan kami ini manusia utuh.

Namun biarkan kami menjadi persembahan yang hidup yang berkenan kepada Allah Bapa, seperti Engkau sendiri telah melakukannya.

Biarkanlah kami ada di dalam Kasih-Mu dan sekaligus secara konkret menapakkan kaki-kaki kami di muka bumi ini untuk mengasihi seperti Engkau telah mengasihi. Amin.

Berkarya pada Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus, SCJ, Provinsi Indonesia.

1 Comment
  1. Emmy says

    Keren!

Leave A Reply

Your email address will not be published.