Kisah Peziarah: Menginap di Rumah Tuhan

Peziarahan di Salburg, Austria dan menginap di biara tua St. Sebastien

0 72

Salzburg, Austria, 3 September 2019

Sebenarnya mengatur akomodasi untuk traveling sendiri itu mudah ya, asalkan sudah tahu pasti apa yang mau dicari dan sesuai dengan bugdetnya. Paling gampang dan mudah ya menginap di hostel. Irit dan bisa dapat teman seperjalanan. Meskipun demikian, nggak ada yang benar-benar murah di daerah super wisata Salzburg ini.

Jadi karena semua mahal, empat bulan sebelumnya saya sudah ancer-ancer mencari hostel. Konon semakin jauh tanggal kepergiannya, makin murah harganya. Tentu saya segera mendapatkan hostel yang cocok. Cocok harganya, juga lokasinya. Sampai dapat instruksi tegas dari ibu saya, “Pokoknya jangan di hostel! Harus hotel atau apartemen.”

Okelah, karena masih ada dua bulan lagi, saya membatalkan semua booking-an di hostel dan hunting lagi.

Oh ya, sebelumnya sempet loh saya ditakut-takuti sama ibu saya, “kamu sendirian ya di Eropa, kamu tahu gak, Salzburg itu pernah jadi daerah pembantaian Nazi? Banyak setannya loh!”

Ya Tuhan, saya lupa loh. Saya takut setan. Meskipun ‘sesama setan’ seharusnya gak saling ganggu ya.

Nah, setan itu jadi salah satu pertimbangan saya dalam menentukan hotel selama di luar negeri. Kalau bisa gedungnya enggak kuno-kuno banget, hotel yang baru, bersih dan bebas godaan setan.

 

Pintu Masuk Pemakaman_ Foto: Melissa/Katolikana

Uniknya di Salzburg ini banyak biara-biara yang alih fungsi jadi penginapan. Mungkin karena kamarnya banyak dan biarawannya berkurang. Ya jelas, saya bahagia banget donk. Langsung saya booked dua hari menginap di Biara St. Sebastien. Apalagi tujuan ke Eropa ini kan untuk berziarah. Pas lah kalau nginepnya di biara, di rumah Tuhan. Pokoke udah kepikiran kaya tinggal di rumah retret gitu. Bangun pagi langsung misa, sore misa lagi… yihaaa…

Setibanya di sana, ternyata tidak semudah itu Ferguso. Untuk sampai ke biara yang letaknya di tengah-tengah kota itu, saya harus menyeret koper di jalanan yang berbatu-batu. Lumayan ya… lumayan berisik, lumayan jauh, dan lumayan olahraganya.

Tapi ini petualangan dan perjuangan kan? Jadi hanya dengan bantuan GPS tok, saya mencari biara tadi. Dan menemukan pintu masuk ini. Dengan sisa tenaga yang ada, saya tarik koper masuk kesini.

And…SURPRISED!!!!

Turns out, ini pintu masuk ke pemakaman terbesar di Salzburg. Waktu itu sudah jam empat sore dan menurut papan pengumuman akan segera tutup dalam tiga puluh menit ke depan.

Well, saya gak paham tuh, gimana ceritanya saya sampe tiga kali muterin lokasi di depan pemakaman ini, GPS saya berkali-kali menunjukkan saya sudah sampai di penginapan. Gimana ceritanya coba? Masa tempat nginap saya di pemakaman? Ini kan penginapan terakhir manusia. Saya takut banget! Tapi insists gak mau nanya sama siapapun. Takut kalau yang saya tanya ternyata bukan manusia, kan repot. Baru juga hari kedua di Eropa masak nyali udah ciut?

 

Tangga menuju kamar. Foto: Melissa

In General, I’m Freakin’ out. Sudah mulai sore dan GPS tetep menunjukkan saya sudah sampai. In the end, saya kembali masuk lagi ke dalam pemakaman ini.

“Grek grek grek” saya menyeret koper sepanjang selasar berbatu pemakaman in door ini. Masak iya ya pintu masuknya di tengah pemakaman? Emang nembusnya kemana? Surga?

Ya Tuhan saya langsung rosario, keliling untuk terakhir kalinya karena gak lama pemakamannya tutup. Untung gak terjebak di dalam. Fiuhh…

 

Pemandangan dari jendela kamar_Foto: Melissa

 

Selesai doa rosario, akhirnya saya berhasil juga menemukan pintu masuknya. Tepat di sebelah dari pintu keluar tadi. Jadi pemakaman itu bagian pintu belakang, sedangkan biara atau penginapan adalah pintu depannya. Untung ya cuma tiga kali keliling, bukan tujuh kali kayak Yosua dan bangsa Israel.

Setelah sampai di kamar dan melihat dari jendela balkon ternyata letak biara ini tepat di sebelahnya pemakaman itu. Dan dari kamar, saya bisa melihat pintu kecil tempat saya keluar masuk sampai tiga kali itu (sudah closed).

Udah seharian berperang sama jalanan berbatu, menyeret koper, pastinya capek banget. I hope, I could sleep well.

Well, tapi apa semalam bisa tidur? Enggak.

Sepanjang malam terdengar suara ada yang naik turun tangga. Tapi cuman 3 anak tangga. Lalu berhenti. Lalu mulai lagi. Begitu terus sampai jam tiga pagi. Sampai memasuki jam saya doa kerahiman ilahi (jam 3 pagi itu) dan doa litani Santo Mikael. Baru suaranya hilang. Padahal tangga nya lumayan panjang lho.

Gereja Sebastian Tampak dari depan. Foto: Melissa
Patung St. Sebastian. Foto: Melissa

“Kadang dipikir-pikir lagi, heran ya, malem-malem siapa sih yang olahraga?” Chat saya keesokan harinya kepada sahabat saya.

“Ih, HOROR banget sis. Elu sih edian, nekat pergi sendiri. Setannya bete kali tuh, lu berisik gangguin mereka lagi bobok siang. Malemnya gantian deh mereka gangguin elu,” balas teman saya.

“Iya sis, kayaknya. Gue geret-geret kopernya barbar lagi. Cepet banget! Habisnya gue takut banget sendirian lewat pemakaman. Udah gak ada turis lain. Cuman gue sendiri. Aloneeeee….”

Yes, Alone. I think mungkin ini salah satu inisiasi sebagai turis. Belum sah kalau belum dapat pengalaman horror selama traveling.

Anyway, setelah konsultasi dengan teman di Jakarta, besoknya saya check out, meskipun saya sudah booked untuk dua hari. Saya memutuskan untuk pindah ke biara (masih seputar biara juga) lainnya, yang Thanks God, bebas godaan syaiton dan tidak satu lokasi dengan pemakaman.

Dokter dan Peziarah. Istagram:@dokter.kopi

Leave A Reply

Your email address will not be published.