Mbah Kakung dan Misa di Rumah

1 157

Katolikana.com – Sudah lebih dari tiga bulan Fransiscus Xaverius Sutono tak beribadah di dalam gereja. Tiga bulan lebih meliburkan sepatu dan kemeja untuk diajak keluar rumah. Pak Sutono atau Pak Tono adalah bapak saya. Kami lebih sering memanggilnya Mbah Kakung, bahasa Jawa untuk menyebut Kakek.

Biasanya, pukul 06.30 dia sudah mandi dan tiga puluh menit kemudian nyengklak motornya ke Gereja Bintaran, Yogya. Tak hirau dengan kantuk yang mendera, baginya Minggu pagi itu waktunya ke gereja.

Bisa dipastikan ngantuk karena harinya dimulai dari pukul 02.30 untuk segera membuat bubur. Tiga hingga empat kilogram beras akan dibuat menjadi bubur yang gurih dan pulen. Tangan ringkihnya, tetap kuat mengaduk bubur, padahal makin mendekati matang dengan tanak, makin berat untuk diaduk. Bubur akan siap pada pukul 05.30 dan tukang becak akan mengantarnya ke depan pabrik susu SGM di Yogyakarta, lengkap dengan gudeg kreceknya.

Tugasnya sudah selesai. Mbah Kakung akan rebahan menikmati semilir angin pagi. Dan istrinya akan berjualan untuk dua jam ke depan. Menjual bubur gudeg untuk tetangga kanan kiri.

Tapi kantuk ini akan hilang kalau Minggu pagi datang. Paling tidak dalam perjalanan rumah ke gereja. Kantuk pasti menyergap begitu pantat sudah diletakkan di kursi panjang di dalam gereja. Ditambah semilir kipas angin, rasanya sempurna sebagai pengantar tidur. Oh satu lagi, homili romo. Nah, tepat sudah menggenapi kantuk pagi hari.

Mbah Kakung pasti akan marah kalau baca tulisan ini. Tetapi adegan ini nyata terbayang di benak saya. Bukankah kantuk tak mengenal tempat meski di rumah Tuhan? Kalau adik saya bangun pagi, pasti akan diantarkan ke gereja, tetapi dia suka lama mandinya. Kakung tak sabar menunggu.

Kami was-was kalau Mbah Kakung yang sudah lebih dari 71 tahun ini mengendarai motor sendiri. Gas dan rem diinjaknya bersamaan. Itu gayanya naik motor dari dulu. Motor maju, meski perlahan, digas tapi juga sekaligus direm.

Korona datang, galau pun melanda. Sengantuk-ngantuknya di gereja, itu membahagiakan. Paling tidak bagi dirinya yang renta. Jumpa sesama manula, menghirup udara luar rumah dan yang pasti, saling bertukar kabar. Kehidupan sosial yang sederhana, jumpa Tuhan dan manusia.

“Gereja ditutup, kita harus beribadah dari rumah,” begitu Uti -ibuku- memberi kabar. Tak mudah mengubah kebiasan doa di gereja ke dalam handphone yang berukuran mini. Bahkan ketika bisa mengikuti misa di televisi, rasanya juga ampang. Banyak gangguan. Kucing yang lewat atau panggilan tetangga yang mengantarkan undangan atau barang. Kebayang kan tidak khusuknya?

Hanya korona yang memisahkan Kakung dengan motor matic-nya. Sebelumnya ia selalu saja pergi ke gereja atau ke mana saja dengan motornya, Mio keluaran lama. Kami selalu melarang, tapi berulangkali kebobolan. Kekhawatiran kami tidak ada artinya. Perpisahan ini kabar bahagia tentunya. Rasa khawatir kami bisa istirahat tenang. Terlebih, Kakung bisa mengikuti misa di kursi yang empuk sambil sandaran. Kantuk pun mendapat tempat yang lebih enak.

Usia 60 tahun ke atas ndak boleh lagi ke gereja, bahaya. Begitu Uti memberikan kabar berikutnya. Mbah Kakung pasrah. Apalagi kini, hosti pun selalu dikirim ke rumah untuk mereka yang lanjut usia.

Saya senang, gereja kembali ke rumah. Tempat aman tumbuhnya nilai dan juga tindakan nyata. Sejatinya memang rumah adalah gereja kita.

Sejarah gereja mencatat bahwa tubuh kita adalah gereja yang hidup. Coba lihat 1 Korintus 6:19-20 “…atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu.”

Betapa istimewanya misa dibuat hanya untuk Kakung dan Uti saja. Begitulah rasanya ibadah dari rumah. Selesai misa, tinggal ambil teh anget dan mendoan menul yang digoreng sebelumya.

Jangan kasih tahu Kakung kapan gereja buka lagi. Nanti dia cari kunci motor Mio. Eh, kamu tidak tanya kenapa Uti tidak boncengan dengan Kakung saat ke gereja? Rem dan gas yang diinjak berbarengan itu jawabannya.

Sebelas tahun menjadi wartawan dan 13 tahun menjadi Public Relations di perusahaan. Bergiat dengan Yayasan Syair kehidupan untuk mendampingi anak-anak dengan HIV, dan sosialisasi kebaya untuk pakaian sehari-hari di Komunitas Kebaya Kopi dan Buku. Alumni The Haggai Leadership Experience. Ia juga aktif di Badan Pengurus Pusat Perhumas Indonesia. Menulis untuk tetap memelihara ingatan perjalanan kehidupan. Dan bergembira belajar bahasa Indonesia secara daring setiap Senin dan Kamis di Facebook.

1 Comment
  1. George says

    Tulisan bermakna yg ditulis secara ringan ditambah unsur jenaka.
    Semoga Mbah Kakung dan Uti sehat selalu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.