Ketika Syalôm Bertemu Salam

Tentang Perdamaian dan Hubungan Agama-agama di Dunia

0 87

Katolikana.com – Seorang negarawan dan filsuf Hindu, Kautilya yang juga dikenal dengan nama Chanakya dan Vishnugupta (350-275 SM), menulis risalah klasik tentang politik yang dihimpun dalam buku Arthashastra, Sains tentang Memperoleh Materi. Dalam risalah itu, ada sebuah konsep tentang pertemanan dan permusuhan yang dirumuskan menjadi sebuah peribahasa musuh dari musuh saya adalah teman saya.

Dalam bahasa Bob Marley (1945-1981),  seorang musisi reggae dari Jamaika, “musuhmu yang paling jahat, dapat menjadi sobatmu yang paling baik”; demikian sebaliknya, “sobatmu yang paling baik bisa menjadi musuhmu yang paling jahat.”

Hal semacam itu “sangat biasa” di dunia politik yang disebut sebagai “seni kemungkinan.” Dalam dunia politik banyak hal yang musykil, tetapi juga banyak hal mudah dipahami. Yang tidak mungkin, bisa mungkin secara mudah. Sebaliknya, yang semestinya mudah, bisa menjadi rumit dan sulit. Sehingga muncul ujar-ujaran, “kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah.”

Apa yang terjadi di Timur Tengah belum lama ini—dimulainya hubungan diplomatik antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA)—adalah  gambaran dari semua itu. Yang musykil, bisa menjadi mafi mushkila, nggak ada masalah. Di Timur Tengah berlaku “musuh dari musuhmu adalah temanmu.”

Ujar-ujaran itulah yang telah menjadi “dasar” terbangunnya hubungan diplomatik antara Israel dan Uni Emirat Arab. Mereka berteman karena faktor Iran. Sebelum dengan UEA, jauh tahun Israel sudah berdamai dan menjalin hubungan diplomatik dengan Mesir (1979) dan Yordania (1994). Sebelum hubungan resmi kedua negara dimaklumkan, selama bertahun-tahun mereka menjalin hubungan secara tak resmi. Beberapa negara Arab lainnya, seperti Arab Saudi, Bahrain, Sudan, Maroko, dan Oman juga secara tak resmi menjalin hubungan dengan Israel (trtworld.com, 6/2/2020).

Persamaan kepentingan untuk menghadapi musuh yang sama—Iran—itulah yang telah mempertemukan syalôm dan salam. Tom Jacobs SJ (2007) menulis, kata syalôm (Ibrani), kurang lebih sama artinya dengan kata salam (Arab). Yang terakhir, salam, biasanya diterjemahkan dengan “damai”; sedang yang pertama syalôm diterjemahkan dengan “sejahtera”. Barangkali paling “pas” berarti: damai-sejahtera, aman-sentosa. Damai-sejahtera, aman-sentosa berarti tidak ada perang.

Ketiga tradisi yang turun dari Abraham (Ibrahim)—Yahudi, Kristen, dan Islam— menurut Zachary Karabell (2008) memiliki inti perdamaian. Di gereja-gereja di seluruh dunia, umat dalam bagian ibadat saling berpaling dan berkata, “Damai besertamu.” Masuklah ke toko, rumah, atau masjid mana saja di dunia Muslim, dan kita akan disambut dengan salam, “Salam aleikum”, “Salam sejahtera.” Dan jawabannya selalu sama: “Dan untukmu, damai sejahtera.” Orang Yahudi di Israel akan memulai dan mengakhiri percakapan dengan salam sederhana syalôm, “damai”.

Masing-masing agama mengajarkan pengikutnya untuk menyapa teman dan orang asing dengan tangan terbuka yang hangat untuk menerima. Kedamaian datang pertama dan terakhir. Karena itu, syalôm, salam, berarti keadaan yang baik. Mungkin tidak ideal tetapi bahagia, tanpa gangguan, tanpa rasa takut, tanpa kecemasan, tanpa kecurigaan, tanpa pikiran macam-macam; di sana ada persaudaraan.

Tahun lalu, di Abu Dhabi pula, terjadi pertemuan syalôm dan salam, saat Paus Fransiskus bertemu Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayed pada tanggal 4 Februari 2019. Pertemuan bersejarah ini menghasilkan The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together (Tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama).  

Dokumen Abu Dhabi ini menjadi peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Paus Fransiskus mendesak agar dokumen ini disebarluaskan sampai ke akar rumput, kepada semua umat yang beriman kepada Allah.

Lewat dokumen tersebut, kedua tokoh dunia itu mengajak semua pihak, tanpa kecuali, untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan dalam rangka meneguhkan nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua, dan untuk memajukannya di mana-mana

Dokumen Abu Dhabi mengingatkan, sejarah menunjukkan bahwa ekstremisme agama, ekstremisme nasional, dan juga intoleransi telah menimbulkan di dunia, baik itu di Timur atau Barat, apa yang mungkin disebut sebagai tanda-tanda “perang dunia ketiga yang sedang berlangsungsedikit demi sedikit”.

Karena itu, kedua pemimpin agama itu dengan tegas menyatakan bahwa agama tidak boleh memprovokasi peperangan, sikap kebencian, permusuhan, dan ekstremisme, juga tidak boleh memancing kekerasan atau penumpahan darah.  Realitas tragis ini merupakan akibat dari penyimpangan ajaran agama.

Hal-hal tersebut adalah hasil dari manipulasi politik agama-agama dan dari penafsiran yang dibuat oleh kelompok-kelompok agama yang, dalam perjalanan sejarah, telah mengambil keuntungan dari kekuatan sentimen keagamaan di hati para perempuan dan laki-laki agar membuat mereka bertindak dengan cara yang tidak berkaitan dengan kebenaran agama. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang bersifat politis, ekonomi, duniawi, dan picik.

Karena itu, Paus dan Imam el-Tayed menyerukan kepada semua pihak untuk ber-henti menggunakan agama untuk menghasut (orang) kepada kebencian, kekerasan, ekstremisme dan fanatisme buta, dan untuk menahan diri dari menggunakan nama Allah untuk membenarkan tindakan pembunuhan, peng-asingan, terorisme, dan penindasan.

Dalam syalôm dan salam, terkandung di dalamnya budaya hidup bersama, toleransi, dan persaudaraan. Itulah yang semestinya terjadi, seperti diserukan Paus Fransiskus dan Imam el-Tayed kepada seluruh umat beragama.

Dalam praktik keseharian, memang, orang sangat mudah dan fasih mengucapkan  syalôm dan salam. Kedua kata tersebut dapat dengan mudah meluncur dari mulut, di mana saja, termasuk di mimbar-mimbar terhormat, kapan saja. Seakan-akan, kata-kata indah itu memiliki sayap sehingga mudah terbang keluar dari mulut dan hingga di hati setiap orang yang mendengarnya.

Akan tetapi, banyak kali, lain di bibir lain ditindakan. Dari mulut keluar salam, dalam praktiknya tidaklah demikian. Di negeri yang Bhinneka Tunggal Ika ini, yang dari sejak semula majemuk, plural dalam segala hal hal semacam itu terjadi. Misi suci agama yakni “membuat umat manusia bahagia di mana-mana” belum sepenuhnya terwujud di negeri ini.

Maka, toleransi menjadi sangat penting untuk ditegakkan menjadi modal awal agar kita semua terbebas dari sikap intoleransi. Toleransi di Indonesia, lebih sebagai peneguhan bahwa masyarakat kita itu majemuk—masyarakat dunia juga majemuk. Artinya, itulah realitas masyarakat Indonesia, yang harus diterima dengan lapang dada, tulus ihklas, dan penuh syukur. Di sinilah arti penting syalôm dan salam, sebagai satu saudara. ***

* Artikel ini pertama kali dipublikasikan DI SINI.

Trias Kuncahyono adalah wartawan Kompas, kelahiran Yogyakarta, 11 Juni 1958. Ia menyelesaikan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1983. Sebelumnya ia menyelesaikan sekolah menengah di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Ia menulis buku: Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir (2008); Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis (2009); Jerusalem 33, Imperium Romanum, Kota Para Nabi dan Tragedi di Tanah Suci (2011); Musim Semi Suriah, Anak-Anak Sekolah Penyulut Revolusi (2013); Tahrir Square: Jantung Revolusi Mesir (2013); Pilgrim (2017).

Leave A Reply

Your email address will not be published.