Selayang Pandang Ensiklik Fratelli Tutti (1)

Dokumen terbaru Paus Fransikus, "Fratelli Tutti": On The Fraternity and Social Friendship

0 2,002

Katolikana.com – [Ensiklik Paus Fransiskus “Fratelli Tutti: On The Fraternity and Social Friendship”, dalam bahasa Indonesia “Semua Bersaudara: Persaudaraan dan Persahabatan Sosial”. Dokumen ini ditandatangani pada 3 Oktober 2020, pada saat Paus Fransisksus berkunjung ke makam Santo Frasiskus dari Asisi. Dokumen Fratelli Tutti diterbitkan keesokan harinya, pada 4 Oktober 2020, saat hari raya Santo Fransiskus dari Asisi. Terdiri 8 bab, 287 paragraf, dan tebalnya 92 halaman. Kontributor Katolikana, Albertus Joni, SCJ, menuliskan dengan ringkas bagi pembaca Indonesia agar memahami dokumen tersebut.

Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik baru berjudul Fratelli Tutti pada peringatan St. Fransiskus Assisi, 3 Oktober 2020. Judul Fratelli Tutti mungkin paling dekat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “Semua Bersaudara;” sebuah seruan yang sangat dalam dan relevan di masa kelam kemanusiaan belakangan ini. Seruan Paus Fransiskus ini ditulis dan digemakan di tengah pelbagai tanda zaman yang mengawatirkan: kelaparan, wabah, perang antar bangsa, kekerasan dan perpecahan di masyarakat semakin meluas (bdk. Lk 21: 5-11).

Ensiklik ini berfokus pada persaudaraan dan persahabatan sosial yang inspirasinya ditemukan dalam kisah dan spiritualitas St. Fransiskus Assisi, “seorang kudus dalam kasih persaudaraan, kesederhanaan dan sukacita.” Dibagi dalam delapan bab besar, refleksi Paus Fransiskus ini mendesak tiap pribadi untuk mengubah tatanan politik yang telah dijangkiti virus berbahaya ‘individualisme radikal.’

Semua orang tak boleh lupa bahwa dunia yang sedang “berdarah dan sakit” ini harus disembuhkan lewat tatanan kebaikan bersama di bidang ekonomi, politik dan ekologi. Pandemi COVID-19 ini mengingatkan pada kita betapa beratnya menjadi terpisah dan terisolasi dari yang lain dan bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk benar-benar “bermimpi sebagai satu keluarga besar bangsa manusia, di mana setiap dari kita menjadi saudara dan saudari bagi semua (par. 8).”

 

Paus Fransikus berdoa di makan Santo Fransiskus dari Asisi, 3 Oktober 2020/Foto: CNA

 

Mengulik Fenomena Kelam Globalisasi       

Sebagaimana ensiklik sosial kepausan lainnya, Fratelli Tutti dimulai dengan menyebut tajam fenomena yang memprihatinkan dari kondisi manusia di zaman ini. Di bawah sub-judul “Awan-awan Gelap di atas Dunia yang Tertutup,” bagian pertama ensiklik ini menunjukkan pelbagai kekacauan, distorsi dan manipulasi sistemis yang ironisnya ditawarkan di bawah jargon “keterbukaan” globalisasi. Kita kehilangan rasa hidup berkomunitas yang menyejarah. Semakin dunia menyatu dan model ekonomi tunduk di bawah satu model, semakin kita hidup sebagai “tetangga” dan bukan lagi sebagai “saudara” (par. 12).

Ada kekuatan ekonomi raksasa yang membuat kita, manusia, hadir “hanya” sebagai produk dan konsumen. Pengangguran, konsumerisme, kemiskinan, rasisme, perbudakan, perdagangan manusia dan organ, perempuan yang dijual-belikan dan digugurkan kandungannya, perang, serangan teroris dan persekusi atas nama agama serta ras: semua ini adalah masalah bersama yang membutuhkan solusi global. Kita membutuhkan solusi bersama yang mengembalikan kita ke horizon bersama yang menyatukan kita sebagai saudari dan saudara dalam kemanusiaan; sebagai orang-orang yang saling percaya satu sama lain.

Ada paradoks besar, menurut Paus Fransiskus, di zaman serba terbuka ini untuk membangun “budaya tembok” – baik di pikiran maupun di dunia nyata – yang membuat kita tak saling berjumpa, yang memisahkan orang-orang dan budaya-budaya (par. 27). Sekali lagi, semua ini disebabkan oleh globalisasi dan kemajuan tanpa visi tentang peta perjalanan (roadmap) bersama.

Pada paragraf 42 hingga 50, Bapa Suci menyinggung bagaimana media komunikasi digital telah berkontribusi pada proses degeneratif kemanusiaan ini. Orang sering kali kehilangan hormat pada sesama di dunia serba digital: semakin mudahlah akses memata-matai liyan, semakin banyak kampanye digital yang menyulut kebencian dan penghancuran. Budaya digital ini sering kali gagal membangun komunitas bangsa manusia dan justru makin menyuburkan individualisme, xenofobia dan serangan pada golongan masyarakat yang rentan.

 

 

Para suster menunjukan surat kabar yang mempublikasikan dokumen Paus Fransiskus “Fratelli Tutti”, 4 Oktober 2020/Foto: Vaticannews

 

Kasih dan Persaudaraan Universal Adalah Mungkin

Pada bab kedua ensiklik ini, “Seorang Asing di Tengah Jalan,” Paus Fransiskus mengangkat perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati; sebuah perumpamaan dalam Kitab Suci yang mengundang setiap orang untuk bertanggung jawab menciptakan masyarakat yang peduli dan yang mengangkat mereka yang jatuh atau sedang menderita (par. 77). Paus Fransiskus menekankan pentingnya untuk menjadi “saudari dan saudara” bagi orang lain dalam kasih (par. 81). Dalam kasih inilah ada dimensi universal yang mengatasi prasangka, kepentingan pribadi, hambatan sejarah dan budaya. Selalu ada wajah Kristus dalam tiap orang yang dikucilkan dan disingkirkan (par. 85).

Yang cukup mengejutkan dalam penutup bagian kedua ini adalah auto-kritik Paus Fransiskus pada institusi gerejani sendiri yang begitu lambat mengutuk kekejaman perbudakan manusia dan aneka kejahatan lain yang seolah mendapat justifikasinya dari konsep-konsep teologi dan spiritualitas tertentu. Penting bahwa iman menginspirasi gerakan humanis dan menggerakkan kita untuk berbicara lebih banyak dengan makna martabat manusia dan kasih pada semua saudari dan saudara kita.

Elemen universal ini diteruskan dalam bab ketiga ensiklik ini. Di bawah judul “Membayangkan dan Merancang Sebuah Dunia yang Terbuka,” bagian ini mengulas secara filosofis dan teologis dari nilai cinta yang universal. Kembali mengakarkan definisi cinta dalam teologi rahmat St. Thomas Aquinas, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa kasih tidak hanya menginginkan yang baik bagi yang dikasihi, namun pula mendorong “persatuan” antara subyek dan obyek kasih (par. 93).

Kasih membuat kita keluar dari diri kita sendiri dan menuju-bersatu dengan yang dikasihi. Eksistensi kasih yang tidak egois inilah yang membuat visi tentang persaudaraan universal ini menjadi mungkin (par. 95). “Cinta yang mampu mengatasi sekat dan batas kota-negara ini dapat disebut pertemanan sosial (par. 98).”

Konsep social friendship in berbeda dengan universalisme yang otoriter dan abstrak saja – yang sering kali dibentuk oleh segelintir orang dan kelompok dengan kepentingan untuk mendominasi, menguasai dan meratakan semua perbedaan. Konsep universalisme yang lahir dari rahim globalisasi, menurut Paus Fransiskus, menghancurkan kekayaan anugerah dan keunikan masing-masing orang serta berujung pada kehancuran makna kemanusiaan (par. 100).

Visi social friendship – pertemanan sosial – ini dengan lebih dalam dikontraskan dengan fenomena hilangnya makna “sesama” di era globalisasi. Kebangkitan kelompok dan golongan yang terlepas dari usaha memajukan kebaikan bersama adalah tanda bahwa makin sulit untuk menjadi “sesama” (neighbour) bagi liyan. Paling jauh, kelompok dan golongan seperti ini hanya mampu menjadi “gerombolan” (associates) (par. 102).

Ada tiga tujuan bersama yang dapat diusahakan dalam jejaring persaudaraan universal ini: (1) kasih universal yang makin menghargai dan mendukung martabat manusia sebagai pribadi (par. 106-111), (2) mendukung kebaikan moral yang didasarkan pada prinsip solidaritas yang transendental (par. 114-117), dan (3) merefleksi kembali peran sosial dari harta-milik (par. 118-127).

Prinsip solidaritas memang dikenal sebagai salah satu pilar ajaran sosial Gereja Katolik. Prinsip solidaritas mengikat semua orang sebagai anggota keluarga manusia yang sama; yang membuat negara-negara kaya tidak mungkin tidak peduli pada soal kelaparan, kesengsaraan dan kemiskinan negara lain yang warganya bahkan tidak dapat menikmati hak asasi manusia yang mendasar.

Prinsip solidaritas menjadi penting dalam memaknai kembali hak kepemilikan harta benda secara privat. Gereja Katolik selalu meyakini bahwa hak kepemilikan harta benda secara privat haruslah diletakkan secara proporsional dengan prinsip utama penggunaan yang sesuai dengan tujuan penciptaan dan yang sesuai dengan tata etika dan sosial. Sederhananya, hak milik pribadi bukanlah semata untuk masing-masing individu. Selalu ada dimensi etis dan sosial dalam apa yang kita miliki secara ‘pribadi.’

Dengan menohok, bagian ketiga ini ditutup dengan penekanan khusus pada masalah utang luar negeri: dengan tunduk pada pokok yang harus dibayar, namun diharapkan tidak membahayakan pertumbuhan dan penghidupan negara-negara termiskin (par. 126). (Bersambung Bagian 2)

Baca : Selayang Pandang Ensiklik Fratelli Tutti (2)

Penekun Filsafat di Marquette University, Wisconsin, Amerika Serikat

Leave A Reply

Your email address will not be published.