Belajar dari Kevin Juan Vira: Penyandang Difabel yang Gigih Berdoa di Gereja

Keterbatasan fisik tak membatasinya untuk selalu menjumpai Yesus

0 69

Ada pemandangan yang menarik setiap kali aku mengikuti ibadah perayaan Ekaristi Kudus pada hari Minggu Pagi di Gereja Santa Theresia Pandaan Malang: kehadiran seorang Ibu bersama putranya, seorang remaja penyandang difabel. Kehadiran  mereka mengingatkan kisah tentang sikap Yesus kepada Zakeus dan Paus Fransiskus kepada Gadis Kecil Roberta.

Nama remaja yang selalu hadir dalam misa Minggu di Gereja itu adalah Kevin Juan Vira. Kekagumanku akan kegigihannya untuk tidak pernah absen mengikuti perayaan Ekaristi Kudus membuatku ingin segera berkenalan. Dan benar. Setelah mengenal  lebih dekat,  remaja dipanggil Kevin itu menyimpan kisah menarik.

Pada tahun 2013 ketika berusia 10 tahun, Kevin sempat tinggal di Yayasan Bhakti Luhur Malang. Yayasan ini bergerak dalam bidang pendidikan dan pendampingan anak-anak difabel. Selama tinggal di sini Kevin belajar di SLB Bhakti Luhur.

Ketika masuk SLB Bhakti Luhur Kevin belum menerima Sakramen Permandian.  Dia baru dibaptis ketika duduk di kelas 4 SD atau saat berusia sepuluh tahun.  Jadi Kevin menjadi katolik bukan karena baptis bayi.

Masa tinggalnya di Bhakti luhur tidaklah terlalu lama, yakni tiga tahun atau pada 2015. Saat itu dia memutuskan untuk kembali ke Pandaan; menetap bersama ibunya yang sudah berusia lanjut.

Bagiku Kevin tidak hanya mengagumkan karena rajin mengikuti misa dalam kondisi badan yang harus disangga dengan dua tongkat. Remaja ini juga mengagumkan karena perjuangannya dalam menyelesaikan pendidikan. Kini Kevin duduk di kelas XII Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pandaan, Jawa Timur.

Akibat lumpuh otak

Mengenal pribadi seperti Kevin adalah mengenal sosok yang memberiku sebuah pelajaran. Dari Kevin aku belajar tentang kesabaran dan kesediaan untuk belajar mendengarkan, terutama mendengarkan  kisah hidupnya sebagai penyandang difabel.

Sejak lahir, Kevin mengalami cerebral palsy atau lumpuh otak yang membuatnya tidak dapat berjalan normal layaknya orang yang tidak berkebutuhan khusus. Oleh sebab itu dalam menjalani kegiatan sehari-hari, khususnya untuk berjalan Kevin harus menggunakan dua tongkat sebagai penyangga tubuhnya.

Sebagai penyandang difabel, Kevin tak luput dari kecenderungan perilaku manusia “normal” tertentu terhadap kaum difabel.  Dia pernah terkena aksi perundungan alias dibuli justru dari manusia yang menganggap dirinya lebih normal. Itu terjadi saat dia tinggal di  Bhakti Luhur.

Namun saat berbincang-bincang, Kevin juga menceritakan sikap Gereja yang cukup baik dan peduli terhadap ibunya dan dirinya sebagai penyandang difabel. Ketika ibunya sakit selama tiga tahun lalu selalu ada warga gereja yang mengantarkan  komuni kudus ke rumahnya.

Kedatangan orang-orang Gereja tak hanya untuk itu. Mereka juga menjenguk dan memberikan bantuan materil.  Bahkan Gereja juga memperhatikan pendidikan agama Kevin yang bersekolah di sekolah negeri.

Pelajaran hidup juga kuperoleh dari semangat Kevin untuk selalu menjumpai Yesus melalui perayaan Ekaristi. Semangatnya yang membara itu  mengingatkanku akan kisah Injil Lukas (19:1-10) tentang Zakeus.

Zakeus adalah orang Yahudi berbadan pendek dan bekerja sebagai kepala pemungut cukai. Pemungut cukai adalah orang-orang yang dibenci oleh sesama Yahudi. Orang yahudi memandang mereka sebagai pengkhianat yang bekerja untuk bangsa penjajah yaitu orang Romawi.

Dikisahkan bahwa Zakheus yang sudah lama mendengar nama Yesus ingin benar melihat sosok Yesus yang datang ke kota Yerikho. Saat itu Yerikho adalah kota pusat produksi dan ekspor untuk balsam mekkah sehingga kedudukan Zakheus sebagai kepala pemungut cukai di kota itu sangat penting.

Menurut catatan Injil Lukas, dalam perjalanan terakhir  menuju Yesrusalem, Yesus melewati kota Yerikho. Zakheus yang mendengar kabar itu sosok seperti apakah Yesus itu sehingga begitu banyak orang ingin melihatnya. Sadar bahwa badannya yang pendek tak mungkin bersaing dengan banyak orang,  berlarilah ia mendahului orang banyak lalu memanjat pohon ara di salah satu ruas jalan yang akan dilewati Yesus.

Namun betapa terperanjatnya ia ketika Yesus sampai di tempat itu. Sosok yang ingin dilihatnya melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, turunlah segera sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Bagiku perjumpaan dengan Kevin di Gereja Santa Theresia Pandaan yang berada di wilayah Keuskupan Malang merupakan rahmat yang sungguh meneguhkan dan menginspirasi, terutama bagi orang yang dianugerahi kesempurnaan fisik.

Kevin telah memberikan contoh bahwa mereka yang diciptakan Tuhan dengan kondisi tidak sempurna dalam menjalani kehidupan, terutama kegiatan rohani. Dia bagaikan mengajak orang untuk selalu menjumpai Yesus melalui perayaan Ekaristi, doa-doa pribadi dan adorasi serta mewartakan sukacita kerajaan Allah di tengah dunia.

Sebagai pengikut Kristus, Kevin juga mengajak orang untuk semakin peka dan terbuka melakukan tindakan kasih yang nyata, diiringi usaha yang tidak pernah berhenti untuk mengembangkan simpati dan daya empati serta kemampyan berbela rasa kepada para penyandang difabel atau mereka yang sedang menderita dan berkekurangan.

Lawan Perundungan!

Tentu banyak penyandang difabel di sekitar kita yang dapat dengan mudah dijumpai maupun dikunjungi. Kevin adalah penyandang difabel yang kebetulan dapat dijumpai dengan mudah dari sekian banyak penyandang difabel lainnya.

Dari sosok Kevin kita mendapatkan pelajaran untuk menahan diri lalu menghilangkan kecenderungan untuk mengucilkan dan merundung siapa pun yang tampak lebih lemah. Sabda Tuhan mengajarkan bahwa Allah menciptakan semua orang seturut dengan gambar dan citra-Nya sendiri. Oleh sebab itu mengucilkan dan merundung penyandang difabel sebenarnya merupakan sikap tidak menghargai ciptaan Allah.

Bagiku manusia Kevin justru mengingatkan bahwa sebagai murid Kristus orang punya kesempatan berbuat lebih untuk bahu-membahu melindungi bahkan memfasilitasi kaum difabel terutama dalam mengenal dan menjumpai Yesus, baik dalam Ekarisiti maupun kegiatan rohani lain.

Melalui wajah para difabel Gereja mampu menampakkan wajah belas kasih Allah, dengan sungguh-sungguh menyapa serta memberikan perhatian lebih kepada penyandang difabel. Tidak hanya secara fisik melainkan juga secara rohani, terutama  terkait pertumbuhan imannya sehingga mereka juga tumbuh menjadi pewarta di tengah dunia.

Aksi Paus Fransiskus

Kisah Kevin juga mengingatkanku akan peristiwa pada 2014. Ketika itu Paus Fransiskus sempat menyita perhatian dunia karena aksi yang dilakukannya. Dalam perjalanan pelayanannya menuju sebuah desa kecil di Italia, Paus sempat membaca spanduk yang dipasang oleh sebuah keluarga yang berada dalam barisan umat penyambut kehadiran Paus.

Tulisan pada spanduk itu memang menarik. “Paus tolong berhenti. Di sini ada seorang malaikat yang ingin bertemu denganmu. Tolong berhenti dan berkati Roberta kecil.”  Kelak orang tahu bahwa Roberta adalah gadis kecil penyandang difabel. Demi membaca tulisan itu, Paus menghentikan rombongan mobilnya dan menerobos kerumunan banyak orang  untuk mendatangi dan mencium Roberta.

Paus Fransiskus juga dikisahkan pernah memanjatkan doa bagi kesembuhan atlet difabel, Alex Zanardi melalui surat yang ditulisnya. Sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia Paus Fransiskus telah memberikan teladan nyata bagaimana belas kasih Allah bekerja melalui berbagai tindakan pelayanan bagi kaum difabel.

Laporan Kontributor: Yolanda Aprilia

Penulis: Yolanda Aprilia

Editor: JB Pramudya

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.