6 Gereja Katolik Nusantara Ini Layani Misa Bahasa Mandarin

Gereja Katolik di Nusantara merawat identitas kultural etnis Tionghoa.

0 171

Katolikana.com – Gereja Katolik berusaha menampakkan wajahnya dalam konteks lokal. Tujuannya membuat umat merasa dekat dengan gereja dan mudah menyerap inti ajaran Katolik. Untuk itulah, gereja Katolik di Nusantara sering menyelenggarakan misa ekaristi dalam berbagai bahasa daerah berbeda, termasuk bahasa Mandarin.

Bagi Gereja Katolik, tidak mudah merawat budaya dengan cara menyelenggarakan ekaristi kudus dengan bahasa Mandarin. Banyak hambatan yang senantiasa menghadang, baik dari pastor maupun dari umat. Kendala penguasaan bahasa, ketakutan atau trauma masa lalu, hingga rasa malu dianggap kuno, kerap menjadi tantangan tersendiri.

Namun sebagaimana gereja Katolik yang bersifat universal, demikian pula warna kekatolikan yang tercipta di negeri ini. Sudah sewajarnya gereja ikut memelihara identitas kultural yang dimiliki setiap umatnya, termasuk identitas etnis Tionghoa. Keberadaan mereka turut menjadi mozaik yang melengkapi keberagaman di dalam Gereja Katolik Indonesia.

Berikut ini adalah enam gereja Katolik yang melayani umatnya dalam bahasa Mandarin. Gereja-gereja ini tak hanya mengadakan misa bahasa Mandarin hanya pada saat Imlek atau perayaan Tahun Baru Cina saja, namun mereka juga merayakan misa rutin mingguan atau bulanan dalam bahasa Mandarin.

1. Gereja St. Maria de Fatima, Toasebio, Jakarta

Ornamen-orname bercorak Tionghoa di Gereja Maria de Fatima, Glodok, Jakarta/Foto: Silviagalikano.com

 

Bertempat di tengah kawasan niaga Petak Sembilan, Glodok. Gereja St. Maria de Fatima, Toasebio ini cukup terkenal di Jakarta. Ia memiliki arsitektur ala rumah tradisional Tionghoa. Hal yang sesungguhnya cukup wajar mengingat Gereja Toasebio berlokasi di area pecinan. Terlebih lagi demografi umatnya didominasi oleh etnis Tionghoa.

Menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat, Gereja Toasebio rutin mempersembahkan misa mingguan dalam bahasa Mandarin. Misa tersebut diadakan saban Minggu sore, pukul 16.15. Misa dengan pengantar bahasa Mandarin juga biasa digelar saat hari raya Natal dan Paskah.

 

2. Gereja Gembala Baik, Senghie, Pontianak

Altar Gereja Gembala Baik Pontianak saat menggelar misa Imlek tahun 2013/Foto:gembalabaikptk.wordpress.com

 

Gereja tua yang berlokasi di dekat Pelabuhan Senghie ini menyimpan sejarah tersendiri. Gedung yang kini difungsikan sebagai gereja mulanya merupakan rumah tinggal Then Seng Hie. Ia merupakan pengusaha kelahiran Tiongkok dan pernah menjadi taipan terbesar di Kalimantan Barat pada masanya. Sehingga sekarang namanya diabadikan sebagai nama pelabuhan.

Gereja ini rutin mempersembahkan misa pada Minggu pagi, pukul 06.30, memakai bahasa Mandarin. Tampaknya ini upaya gereja untuk ikut merawat kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat setempat. Sebab jamak diketahui, selain berisi suku Dayak dan Melayu, terdapat pula konsentrasi etnis Tionghoa dalam jumlah besar yang mendiami Pontianak.

 

3. Gereja St. Fransiskus Asisi, Singkawang

 

Gereka Paroki St. Fransiskus Asisi, Singkawang/Foto:parokisingkawang.org

Singkawang yang kondang sebagai pecinan terbesar di Indonesia nyatanya tak hanya memiliki aneka ragam kelenteng saja. Di salah satu sudut kotanya, tepatnya di Singkawang Barat, berdiri pula Gereja St. Fransiskus Asisi. Gereja ini merupakan oase rohani bagi umat Katolik setempat.

Berada di ‘Kota Seribu Kelenteng’, gereja ini teguh menjunjung tinggi tradisi lokal. Apalagi mayoritas umat gereja ini berasal dari kelompok etnis Tionghoa. Maka saban Sabtu malam pukul 18.00, gereja menyelenggarakan ekaristi dengan bahasa Mandarin. Ini menjadi salah satu ciri khas yang dimiliki Gereja St. Fransiskus Asisi.

4. Gereja St. Mikael, Semarang

Gereja yang terhitung masih muda ini terletak di Perumahan Semarang Indah. Sebagai gereja yang dibangun seiring pertumbuhan hunian baru di Semarang medio 90-an, komposisi umat di gereja ini sangat beragam. Banyak warga pendatang yang akhirnya memilih menetap di komplek perumahan sekitar gereja yang lantas menjadi umat Gereja St. Mikael.

Tak sedikit diantara penduduk tersebut adalah orang-orang Tionghoa. Maka untuk merangkul mereka, Gereja St. Mikael menjadwalkan misa berbahasa Mandarin sebulan sekali. Misa khusus ini diadakan setiap Sabtu sore di pekan kedua, pada pukul 17.30.

5. Gereja Kristus Raja, Medan

 

 

Misa perayaan Imlek di Gereja Kristus Raja Meda pada 2020/Foto:komsoskam.com

 

Didirikan sejak 1934, gereja ini dikenal juga sebagai Paroki Nusantara. Sebutan itu lahir karena keragaman etnis dan budaya umatnya. Umat Gereja Kristus Raja berasal dari etnis Batak, Nias, Tionghoa, Jawa, dan juga orang-orang dari Indonesia Timur. Wajar saja, mengingat lokasi gereja ini berada di sentra perdagangan di pusat kota Medan.

Maka misa berbahasa Mandarin tak dikhususkan bagi umat beretnis Tionghoa saja. Misa yang selalu digelar di minggu keempat pukul 17.00 ini justru menjadi sarana pembauran budaya antarumat. Hadirnya beragam etnis dalam misa berbahasa Mandarin menunjukkan betapa kuatnya persaudaraan dan kekeluargaan antarumat di Paroki Nusantara.

6. Gereja Redemptor Mundi, Surabaya

Berada di bilangan Surabaya selatan, gereja ini sebenarnya hadir dalam wajah Jawa. Ia mengambil bentuk dasar joglo sebagaimana rumah tradisional Jawa. Selain itu, dekorasi gereja dengan ornamen kayu banyak dihiasi dengan ragam corak dekoratif khas Jawa.

Akan tetapi, gereja ini tetap membuka diri pada semua kalangan. Memiliki nama yang bermakna “penebus dunia”, gereja ini ingin menjadi rumah bagi semua orang. Buktinya, mereka memiliki misa berbahasa Inggris, Jawa, dan Mandarin. Khusus misa dalam bahasa Mandarin digelar pada 2-3 bulan sekali. Misa diadakan setiap minggu kelima pada pukul 05.00.

Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.