Rabu Abu Tanpa Abu di Dahi, Bagaimana Menunjukkan ‘Stempel Katolik’?

kita diajak beranjak dari abu simbolis menuju substansi prapaskah: berdoa, berpuasa, berpantang, dan berbagi dengan sesama.

0 42

Katolikana.com – Semasa kecil, Rabu Abu adalah momen penting saya untuk unjuk diri sebagai orang Katolik. Setidaknya sampai duduk di bangku SMP, sepulang misa Rabu Abu, saya punya kebiasaan memamerkan abu di kening seharian. Saya menjaga selama mungkin supaya abu itu tak terhapus dari kening. Supaya orang-orang dapat melihatnya dengan benderang.

Dalam bentuk yang cukup wagu, saya dulu merasa keren sekali dengan lambang abu tersebut. Serasa memiliki stempel identitas yang bisa dipamerkan di muka umum. Menjadi wagu sebab tak banyak orang Indonesia yang tahu soal Rabu Abu. Wajar karena hari raya ini bukan hari libur dalam kalender nasional. Terlebih, tanda abu itu tak selalu jelas berbentuk salib. Boro-boro orang jadi ngeh kalau saya orang Katolik yang sedang berpuasa. Seringkali mereka cuma mengira dahi saya cemong kena debu di jalanan.

Saya ingat saya semasa kecil tak sendiri. Banyak juga orang-orang yang tak segera menghapus abu di kening mereka setelah mengikuti misa. Tak hanya yang seumuran bocah seperti saya. Sebagian besarnya malah orang dewasa. Mungkin mereka sekadar merasa tak perlu, toh nanti juga hilang sendiri? Mungkin orang tersebut bangga akan kekatolikannya? Mungkin cara pamer secara subtil jika ia mulai berpuasa, seperti saya? Saya tak tahu persis.

Apapun alasannya, saat ini situasinya berbeda. Sekarang kita semua “dipaksa” merayakan Rabu Abu tanpa abu di dahi. Tak ada lagi penanda kasat mata di dahi kita untuk mengawali masa prapaskah. Tidak ada “stempel Katolik” yang bisa ditunjukkan kepada khalayak seusai misa. Sepintas, situasi seperti ini membikin masygul. Tanpa olesan abu, serasa ada yang kurang untuk memulai masa prapaskah.

Baru saja berpikir begitu, seorang teman mengirimkan pesan. Singkat saja, ia menulis, “Selamat retret prapaskah.”

Deg! Saya tertegun. Benar juga, bukannya identitas prapaskah memang begitu? Prapaskah tak semeriah Natal yang ramai dengan simbol-simbol. Sinterklas, rusa kutub, pohon cemara, salju, kado-kado. Ornamen kegembiraan semacam itu absen ketika prapaskah. Dibandingkan dengan Natal yang sudah semarak sejak penghujung November, prapaskah adalah bulan puasa yang sepi sunyi.

Maka prapaskah sering pula disebut sebagai retret agung. Dalam retret, alih-alih menonjolkan diri, orang justru diminta untuk mengecilkan dirinya. Retret menuntut kita menarik diri dari keramaian dan mengambil jarak dari kenikmatan serta kenyamanan duniawi. Dan Rabu Abu hanyalah pintu masuk kita untuk memulai perjalanan retret agung tersebut selama 40 hari.

Maka justru inilah prakondisi yang sempurna untuk memulai sebuah retret agung. Jika sebelumnya, kita mengawali masa puasa dan pantang dengan penanda yang mudah dikenali secara kasat mata, saat ini satu-satunya penanda tersebut telah luruh pula. Kini kita diminta mengasingkan diri tanpa sibuk berkoar-koar kalau kita tengah mengasingkan diri.

Secara implisit, kita diajak beranjak dari abu simbolis menuju substansi prapaskah: berdoa, berpuasa, berpantang, dan berbagi dengan sesama. Tanpa abu di dahi, kita diingatkan untuk tidak hanya sibuk pamer diri sedang bermati raga tapi mengabaikan esensi prapaskah. Rabu Abu mengantar kita untuk bermati raga. Tindakan mati raga menggembleng kita untuk rendah hati. Sikap rendah hati melembutkan nurani kita untuk mudah berbela rasa dengan sesama.

Sehingga tidak ada yang istimewa dari tanda abu di dahi jika setelah Rabu Abu berlalu lantas kita malah lupa untuk mengecilkan diri laksana abu. Bukankah demikian?

Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.