Testimoni Afra (1) : “Mantan” Biarawati Korban Aksi Kekerasan Seksual oleh Seorang Pastor

Tragedi pada Pekan Suci.

10 2,920

Katolikana.com – Sebelum menjadi korban aksi kekerasan seksual, Afra adalah biarawati yang telah berkaul kekal. Tetapi dalam perjalanan meniti panggilannya, ia sempat menghadapi pergulatan hidup yang berat.

Pada Desember 2019, ia memutuskan untuk mundur dari hidup berselibat. Ia telah menyerahkan jubah dan cincin kaul kekal kepada pimpinan biarawati. Ia mengambil waktu untuk merefleksikan dan mematangkan panggilannya.

Pada saat menapaki tahun refleksinya itu, ia sempat menghubungi sebuah kongregasi lain yang menerima dirinya untuk kembali menjalani hidup selibat. Ia merasa panggilan itu masih ada dalam jiwanya. Ia juga sempat kembali ke rumah keluarganya di kampung.

Di rumahnya  ia sempat mengungkapkan masalah panggilannya kepada keluarga, termasuk kakaknya, Adrian. Adrian adalah seorang pastor diosesan yang berkarya di sebuah paroki di wilayah Keuskupan Weetebula. Di paroki ia menjabat sebagai pastor kepala. (Kepada Katolikana dan The Jakarta Post Afra meminta agar nama kakaknya juga disamarkan.)

BACA! Laporan Khusus: Nyanyi Sunyi “Mantan” Biarawati, Korban Aksi Kekerasan Seksual di Jantung Gereja 

Setelah mengungkapkan kondisi yang sedang dihadapinya, sang kakak, Romo Adrian, memintanya tinggal di pastoran, tempatnya bertugas. Maksud Romo Adrian,  kata Afra, dengan tinggal bersamanya di pastoran dirinya memiliki kesempatan menjalani satu tahun refleksi dengan lebih baik hingga mampu mengambil keputusan yang tepat.

Pada April 2020, Adrian menjemput Afra. Sepanjang perjalanan dan setelah tinggal di pastoran, beberapa kali sang kakak memberikan dukungannya kepada sang adik yang telah memutuskan untuk melanjutkan panggilan hidupnya sebagai biarawati.

Selama berada di pastoran, selain melanjutkan refleksi pemantapan, Afra membantu berbagai kegiatan gereja dan pastoran. Di pastoran inilah Afra bertemu dengan seorang pastor yang disebutnya berinisial MT.

Afra dan MT berasal dari daerah yang sama. Di daerah asalnya, Afra hanya mengenali MT sebagai pastor. Hubungannya tidak dekat. Ia baru mulai kenal dekat dengan MT ketika tinggal di pastoran itu.

Di pastoran, Afra bertugas membantu rumah tangga paroki, mengerjakan tugas-tugas liturgi, dan mengikuti kegiatan  paroki. Ia juga bekerja sama dengan MT, yang merupakan pastor pembantu di paroki yang dipimpin Romo Adrian.

Setelah beberapa kali bekerja sama, hubungannya dengan MT menjadi semakin dekat. Setelah kenal lebih dekat di pastoran itulah, tuturnya dalam kesaksian secara daring itu, MT mulai menyatakan rasa sukanya. Alasannya, kata Afra, (Romo) MT juga sedang berada dalam pergulatan hidup sebagai pastor. (Kelak kata-kata ini ia sebut sebagai cara MT merayu Afra sekaligus menghapus jejak aksi serupa sebelumnya)

“Katanya, ia (MT) memang menampilkan diri sebagai seorang romo, tapi hatinya tidak lagi (berada) ‘di dalam’. Dia membujuk saya beberapa kali untuk mengambil keputusan, berpikir lagi supaya kami jadian, keluar (dari hidup selibat), dan menikah untuk hidup besama,” tutur Afra.

Afra percaya kepada omongan MT, yang menyatakan akan bertanggung jawab dan keluar sebagai pastor untuk hidup berkeluarga dengannya. Tapi Afra juga sempat menanyakan cara menyampaikan situasi ini kepada keluarganya. Ia kembali menerima jawaban serupa. MT menyatakan akan menyampaikan rencana itu kepada keluarganya.

Afra juga mengaku sempat menanyakan langkah MT untuk menemui Bapa Uskup karena MT adalah pastor diosesan pada Keuskupan Weetebula. Ia meminta ketegasan MT untuk menyelesaikan masalah ini dengan Sang Uskup sebagai pimpinannya.

Saat meminta ketegasan itulah Afra menangkap adanya informasi lain di balik jawaban MT. Ternyata lelaki itu telah memiliki kasus seksual yang pertama. Kasus kedua ini, kata MT seperti dituturkan Afra, dianggap sebagai jalan hidupnya.

Mendengar berbagai jawaban MT, Afra luluh dan percaya.

Tragedi pada Pekan Suci

Saat itu April 2020, Gereja sedang memasuki hari pertama Tri Hari Suci, Kamis Putih. Seperti biasa, kegiatan Afra di pastoran,  antara lain,  mencuci pakaian di kamar mandi, yang terletak di luar bangunan pastoran.

Saat sedang mencuci itulah, kenang Afra dalam kesaksiannya, tiba-tiba MT muncul mendekatinya dan memintanya untuk mencuci pakaian di kamar mandi MT. Alasannya di kamar MT ada mesin cuci. Afra menuruti permintaan itu.

Pada saat Afra mencuci pakaian dengan mesin cuci di kamar mandi, MT menungguinya. Saat menungguinya itu, lanjut Afra, MT mengaku bahwa pria itu punya penyakit. Tapi MT juga menggunakan kesempatan itu untuk meyakinkan Afra bahwa ia ingin menikah dan hidup bersamanya.

“Pokoknya dia yakinkan saya bahwa dia mau hidup dengan saya dan mau bertanggung jawab. Saya percaya saja apa yang dia omongkan,” tutur Afra, diam sejenak, lalu dengan gemetar Afra mengatakan bahwa saat itu juga terjadilah hubungan seksual.

Sesudah kejadian itu, sambung Afra, MT menyatakan bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya. Tetapi ia melarang Afra memberitahukan apa yang terjadi kepada Romo Adrian, maupun saudara-saudara lainnya. Menurut Afra,  MT sendiri yang akan menyampaikannya.

Tak lama kemudian Afra hamil. Ia menyampaikan kondisi kehamilannya kepada MT. Afra, kembali menerima jawaban bahwa MT akan bertanggung jawab. “Dia bilang dia buat (hubungan seksual) itu secara sadar, tahu, dan mau. Jadi saya percaya saja,” ungkap Afra.

Pada akhir Mei, Afra mulai sakit-sakitan karena pengaruh kehamilannya. Ia meminta MT menyampaikan kondisinya kepada keluarganya.  Namun laki-laki itu tak kunjung menyampaikan informasi tentang kondisi Afra kepada keluarganya.

Hingga tibalah waktu  2 Juni 2020, pagi, Afra tak kuat lagi menahan rasa sakit. Akhirnya ia menelepon keluarganya di kampung agar menjemputnya. Tapi ia tak berani memberi tahu Adrian. Ia takut sang kakak akan jatuh sakit jika mengetahui fakta yang sebenarnya.

Sore harinya keluarga Afra dari kampung datang. Tapi Afra mengaku, sejak pagi ia tidak berani keluar kamar. Ia juga tidak makan hingga  sang kakak mendatangi kamarnya.

“Kaka Romo datang ke kamar saya. Kaka tanya, ‘Kenapa kamu, Ade?. Saya sampaikan semuanya ke Kaka Romo. Kaka saya waktu itu langsung shock,  langsung jatuh sakit. Trus langsung dibawa ke rumah sakit,” ujar Afra.

Pada siang hari, saudara lainnya datang ke pastoran menemui Afra dan MT. Tapi Afra tak berani menyampaikan kondisinya kepada keluarganya. Saudara-suadaranya pun langsung menemui MT untuk menanyakan hal yang sebenarnya telah terjadi.

“Seperti yang pernah sa dengar, MT menyampaikan, ia melakukannya dengan sadar, tahu, dan mau.”  Kemudian Afra menirukan kata-kata saudaranya. “’Kalau seperti ini (kejadiannya), kamu dua tidak boleh tinggal di sini lagi. Kamu dua tidak baik. Ini rumah Tuhan. Kenapa kamu dua tinggal di sini?”

Kesaksian Afra berlanjut. Ia pulang kampung bersama saudara-saudaranya. MT ikut serta dan kemudian tinggal di rumah keluarga itu selama tiga hari.

Pada hari ketiga, Romo Adrian datang untuk menyampaikan pesan Bapa Uskup agar MT dan Afra datang ke keuskupan,  keesokan harinya, pukul 10.00 WITA. Selain Adrian, pada sore harinya, saudara-saudara MT juga datang di rumah itu.

Sejak kedatangan Adrian dan saudara-saudara MT, Afra melihat MT terus-menerus menerima panggilan telepon pada malam hari. Entah dari siapa panggilan telepon itu.

“Saya pikir (MT) terima telepon dari keluarganya, menjelaskan keadaannya seperti apa. Saya tidak berpikir yang lain-lain,” ungkap Afra seraya menyatakan saat itu dirinya masih tetap berbaik sangka.

Tapi pada 4 Mei 2020, sekitar pukul lima pagi, saat Afra terbangun, ia terkejut. MT tak tampak batang hidungnya. Afra langsung keluar, mencari-cari  MT di sekitar rumah. Tapi ia tak segera menemukannya.

Afra juga mengaku tak menemukan pesan apa pun yang ditinggalkan MT di rumah atau di ponsel. Karena itu ia menelepon MT  berulang-ulang, tapi tak ada yang tersambung. Afra sempat melihat messenger-nya akfif tapi itu 50 menit yang lalu.

Sejak itu pula, komunikasinya dengan MT terputus sama sekali. Afra lantas hanya mampu memegang kata-kata MT ketika bertemu dengan keluarganya di rumahnya: lelaki itu (masih) mencintai (sakramen) imamatnya, tapi dengan cara lain.

Afra melanjutkan kesaksiannya. Hari itu  dirinya masih tetap berpikir positif tentang MT. Ia memandang MT masih memerlukan waktu untuk berpikir. Tapi tak lama kemudian Afra punya pikiran lain.

“Tapi kemudian saya juga berpikir bahwa dia benar-benar (telah) melecehkan saya. Dia mempermainkan saya. Dia pergi…(Afra terdiam beberapa saat) dan kondisi saya waktu itu hamil. Saya benar-benar malu. Saya ti (tidak) tahu harus buat apa….,” isaknya.

Afra mengaku marah bercampur kecewa. Ia merasa harapannya pupus. Jalan kembali bergabung dengan sebuah kongregasi biarawati pun gelap; tertutup.

“Saya kan juga baru sedang (menjalani) refleksi dari kongregasi. Sudah itu ketemu dia. Dan dia buat saya seperti itu, meninggalkan saya. Sakit sekali hati saya. Dia benar-benar kurang ajar kepada saya. Dia kasih harapan, (tapi kemudian) dia pergi (begitu saja),” ujar Afra, terisak, sambil melanjutkan kesaksiannya yang ia sebut sebagai pukulan berat.

Afra semakin bingung karena keluarganya juga sangat terpukul. Terlebih kakaknya, Romo Adrian. Menurut Afra, Adrian juga mengalami dilema.

“Kaka Romo bilang,’Bagaimana saya membantu ko, Ade (Adik!). Mau omong (tapi) sa kena lutut sendiri. Dia (MT) pastor; kamu adik kandung saya. Sa (harus) bagaimana, Ade?,” ungkap Afra, menirukan kata-kata kakaknya, dengan terisak.

– Bersambung ke tulisan – Testimoni Afra (2): “Berlindung” di Balik Jubah 

Editor: JB. Pramudya

Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.

10 Comments
  1. L. Benevides says

    Kalau boleh usul, cerita ini perlu suara dari pelaku n pihak keuskupan juga keluarga dan kk suster korban. Tanya juga saudara sekongregasi suster korban itu untuk tau kenapa suster itu sempat meminta jeda untuk refleksikan panggilanya. Supaya reportase ini lebih seimbang n objektif. Saya paham kalau cerita biasa memihak korban, tp jgn menghilangkan aspek kebenaran interpersonal yg substansial. Terima kasih

  2. Deo Reiki says

    Saya sangat prihatin dengan Sdri Afra. Semoga Bapa Uskup bijaksana dalam mengambil keputusan….

  3. Agust. Dapa Loka says

    Tulisan ini sangat tidak berimbang. Wartawan Katolikana membuat berita sepihak yg tdk teruji kebenarannya. Anda bermaksud membuka perbuatan2 di seputar gereja utk jadi bahan refleksi. Tapi akibat akurasinya lemah, anda justru sedang membuat berita bohong.

  4. Agust. Dapa Loka says

    Tulisan ini sangat tidak berimbang. Wartawan Katolikana membuat berita sepihak yg tdk teruji kebenarannya. Anda bermaksud membuka perbuatan2 di seputar gereja utk jadi bahan refleksi. Tapi akibat akurasinya lemah, anda justru sedang membuat berita bohong.

  5. Herman says

    Penulis harus berhati-hati dalam memaparkan tulisan, saya yakin ini kesaksian yang bahkan penulis TDK tahu kebenarannya. Saudara hanya mendengarkan kesaksian dari satu pihak dan belum tentu kesaksiannya benar. Jangn mencoreng nama gereja Katolik dengan publikasi tulisan saudara yg belum tentu benar. Bijak dan profesionallah menjadi seorang penulis

    1. Agust. Dapa Loka says

      Sy sdh mendapat kabar lg bhw tulisan yg sama dimuat di The Jakarta Post. Wartawan koq nyari duit dg menyebar berita hoax ya

  6. Isto Dappa Tadi says

    Penulis memuat berita yang sangat tendensius tanpa mengetahui akar persoalan sesunghuhnya. Anda mengatakan perempuan itu korban kekerasan seksual. Apa dasarnya? Dikatakan korban jika : 1). Dia di bawah umur. 2). ada unsur paksaan atau pemerkosaan dari pihak laki-laki. 3). Ada intimidasi dan kekerasan saat terjadi hubungan. Tapi keduanya adalah pribadi dewasa dan mereka lakukan hubungan itu atas dasar suka sama suka. Lalu anda katakan dia perempuan itu.Di mana anaknya sekarang? Banyak hal yg tidak sesuai fakta yg anda paparkan. Jadi sebagai seorang penulis anda harus lebih independen dan menjaga kredibilitas anda. Kita akui bahwa ada noda hitam dalam tubuh gereja sudah sejak dulu. Tapi dalam pemberitaan anda harus berimbang. Hemat saya, kalau anda mau biar anda yang memfasilitasi masalah ini untuk dibawah di hukum pidana supaya menjadi jelas. Trima kasih

  7. Isto Dappa Tadi says

    Penulis memuat berita yang sangat tendensius tanpa mengetahui akar persoalan sesungguhnya. Anda mengatakan perempuan itu korban kekerasan seksual. Apa dasarnya? Dikatakan korban jika : 1). Dia di bawah umur. 2). ada unsur paksaan atau pemerkosaan dari pihak laki-laki. 3). Ada intimidasi dan kekerasan saat terjadi hubungan. Tapi keduanya adalah pribadi dewasa dan mereka lakukan hubungan itu atas dasar suka sama suka. Lalu anda katakan bahwa perempuan itu dia hamil. Di mana anaknya sekarang? Banyak hal yg tidak sesuai fakta yg anda paparkan. Jadi sebagai seorang penulis anda harus lebih independen dan menjaga kredibilitas anda. Kita akui bahwa ada noda hitam dalam tubuh gereja sudah sejak dulu. Tapi dalam pemberitaan anda harus berimbang. Hemat saya, kalau anda mau biar anda yang memfasilitasi masalah ini untuk dibawah di hukum pidana supaya menjadi jelas. Trima kasih

  8. Isto Dappa Tadi says

    Maaf saya ada koreksi sdikit sehingga saya kirim komentar kedua.

  9. Fransiskus says

    Pelaku sama dari KAS di biarkan juga dan di diamkan oleh para uskup yg mengetahuinya, sekarang pelaku ada di gereja st merapi fak fak, silahkan pulang selesaikan kasusnya setelah 12th di gantung oleh KAS.

Reply To Herman
Cancel Reply

Your email address will not be published.