Laporan Khusus: Nyanyi Sunyi “Mantan” Biarawati Korban Aksi Kekerasan Seksual di Jantung Gereja

Korban menuntut keadilan dan mendesak Gereja peduli.

2 6,985

Katolikana.comLaporan ini bukan kabar gembira. Boleh jadi Anda akan berhenti membacanya saat menyadari bahwa hasil peliputan ini berisi kesaksian seorang “mantan” biarawati yang menjadi korban aksi kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang pastor. Ini tak menyenangkan bagi Gereja. Namun, luka pada tubuh Gereja akan sangat sulit diobati jika kasus seperti ini terus berulang. Katolikana yang berkolaborasi dengan The Jakarta Post mempersembahkan liputan khusus ini dalam lima tulisan bersambung. 

Afra, seorang mantan biarawati yang meminta namanya disamarkan, merasa pupus hidupnya. Kata frustrasi tak cukup untuk menggambarkan kondisi kejiwaan perempuan berusia 41 tahun ini. Ia mengalami tekanan mental dan trauma teramat berat.

Langit di rumah keluarganya muram, terutama sejak seorang pastor yang dalam sebuah kesaksian dikatakan harus bertanggungjawab atas aksi seksualnya pergi meninggalkannya pada awal Juni 2020. Afra sering menyendiri, tak henti menangis, juga tak mau makan.

Bahkan beberapa kali ia pergi dari rumah dalam keadaan bingung, hanya berjalan kaki tanpa mengenakan sepatu atau sandal, juga tanpa tahu tujuannya. Suatu kali keluarganya menemukannya sedang duduk di pinggir jalan. Kali lain ia didapati sedang  berada  di sebuah pertokoan lalu di Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya,  Nusa Tenggara Timur (NTT).

Afra kini adalah penyintas. Ia korban aksi kekerasan seksual ganda-berganda. Selepas menjadi korban aksi kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang pastor diosesan di sebuah pastoran paroki yang berada di bawah Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT, ia justru mendapat tekanan berat: dari keluarga dan dari warga di lingkungan gereja setempat.

Beban yang dipikulnya kian berat karena kakaknya juga seorang pastor. Sang kakak sempat harus dilarikan ke rumah sakit begitu tahu bahwa sang adik hamil akibat perbuatan yang dilakukan pria yang menjadi mitra kerjanya.

Afra bahkan mengaku merasa hidupnya telah berada di tubir kehancuran. Rencana melakukan penguatan untuk kembali ke jalan panggilan sebagai biarawati kandas. Ia hamil dan sakit-sakitan pada usia yang tak lagi muda untuk mengandung.

Saat mengalami depresi berat, Afra merasakan sakit yang sangat pada perutnya selama beberapa hari, antara 5-9 Juli 2020. Puncak dari rasa sakitnya adalah peristiwa keguguran.

Karena takut kegugurannya bedampak buruk, Afra memberanikan diri pergi ke dokter kandungan bersama saudarinya untuk memeriksakan diri. Ia mengaku tahu betul dampak yang lebih parah jika rasa sakit akibat keguguran dibiarkan saja.

Beruntung saat berada pada masa-masa gelap itu, muncul uluran tangan para suster yang berkarya pada sebuah lembaga kemanusiaan yang peduli kepada korban kekerasan seksual. Lembaga ini berada di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Berkat pendampingan khusus para suster yang berhimpun dalam lembaga itu, sedikit demi sedikit, Afra bangkit.

Ia mengaku bersyukur mampu melewati masa-masa yang ia katakan paling berat dalam hidupnya. Sisa kekuatan yang ada menuntunnya untuk berani mengungkapkan kasus aksi penjahatan seksual dan berbagai pengalaman buruk yang menimpanya  pascakejadian kepada Katolikana dan The Jakarta Post secara daring pada akhir November 2020 lalu.

Saat menuturkan pengalaman hidupnya yang menurutnya sangat getir itu, ia memandang lelakon yang dialaminya sebagai hal yang tidak hanya memalukan tetapi sekaligus memilukan, dan mungkin mencederai Gereja. Namun, ia juga menegaskan, dirinya lebih memilih menyampaikan kebenaran kepada publik.

“Kebenaran itu yang saya mau (sampaikan). Keadilan itu (harus) ada,” tutur Afra yang tampak didampingi beberapa suster dari lembaga kemanusiaan yang bermarkas di Maumere.

Ketika akhirnya mampu mengungkapkan pengalaman teramat getir itu, Afra mengaku sedikit lega. Menurutnya, tak mudah baginya menyampaikan peristiwa yang menderanya karena ia mengalami banyak tantangan berat dari keluarga dan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Tetapi putusannya bulat sudah. Afra merasa harus berbicara ke publik agar suaranya didengar dan kebenaran terungkap. Ia berharap, Gereja betul-betul memperhatikan korban, sekaligus memberikan efek jera kepada pelaku. Juga kepada para klerus lain yang diduga harus bertanggung jawab atas kejadian ini agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

— Bersambung ke tulisan:

Editor: JB. Pramudya

Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.

2 Comments
  1. Johan says

    Apakah telah ada tim advokasi yang mendampingi suster tersebut?

  2. Letty says

    Pastor ataupun Suster manusia biasa dg segala kelebihan dan kekurangannya.Hanya sayangnya klo memang sdh memberikan diri utk Tuhan dan hidup selibat,mengapa masih tidak takut akan Tuhan.?.Mantan Pastor itu memang hrs dihukum utk bertanggung jwb dg segala perbuatannya yg sdh merusak hidup seorg Biarawati.Semoga Tuhan memberikan yg terbaik utk semua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.