Komsos Keuskupan Hadapi Persoalan Klasik Hingga Tantangan AI

0 10

Para pegiat komunikasi ikuti penguatan kompetensi kelola media Gereja dalam workshop jurnalistik, podcast, video dan konten kreatif.

Pontianak, Katolikana.com – Para Ketua Komisi Komsos dari 18 keuskupan di Indonesia, pada hari ketiga Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII membahas poin krusial di Pontianak, Kamis (28/05/2026).

Poin krusial tersebut adalah pengelolaan dan pembenahan media Gereja Katolik di bawah Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) keuskupan dari persoalan klasik yang membuat sebagian Komsos mati suri.

Dalam rilis yang diterima redaksi Katolikana.com, pembenahan manajemen menjadi semakin mendesak, terlebih lini informasi keagamaan berhadapan dengan riuh-rendahnya jagat maya serta kencangnya perkembangan teknologi informasi termasuk kecerdasan buatan (AI).

Mereka menggodok Draft Pedoman Umum Pastoral Komsos sebagai acuan bersama tata kelola pelayanan komunikasi di keuskupan masing-masing.

Dua isu utama
Pembahasan diantaranya menyentuh dasar teologis, landasan spiritual, hingga langkah taktis menghadapi media siber baru.

Dua isu utama yang paling mengemuka berupa penguatan tata kelola keuangan dan panduan etis teknologi baru.

Sekretaris Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, mengatakan, Komsos setiap keuskupan harus mampu memetakan masalah kemudian menjawab situasi konkret terkait tata kelola ini.

Dia menjelaskan, tantangan klasik yang masih membayangi Komsos di daerah, di antaranya, belum meratanya ketersediaan sukarelawan yang mempunyai kemampuan memadai hingga tingginya tingkat perputaran (turnover) pegiat media Gereja.

Setiap Komsos keuskupan memiliki persoalan sendiri-sendiri yang memerlukan pendekatan khas.

“Masalah keterbatasan dana dan kebingungan merintis tata kelola organisasi di tingkat lokal juga kerap menjadi batu sandungan. Ada tiga solusi strategis, yakni menaruh kepercayaan pada potensi umat di daerah, menggalang donasi publik lewat konsistensi karya media, serta wajib membangun komunikasi yang erat dengan Bapa Uskup sebagai kunci utama dukungan,” papar Agoeng.

Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik berbincang dengan peserta PKSN XIII, Selasa (26/05/2026). (Foto: Komsos KAP)

Harapan Ketua Komisi Komsos KWI
Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, berharap delegasi komsos mampu menghayati pesan Paus Leo XIV “menjaga suara dan wajah manusia” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan perutusan suci.

Beliau mengingatkan agar Komisi Komsos Keuskupan tidak jatuh menjadi ‘kelompok ahli yang eksklusif’. Sebaliknya menjadi komunitas ramah dan aktif memberdayakan Orang Muda Katolik (OMK) untuk menghadirkan wajah keuskupan yang penuh keramahan.

“Komsos harus membangun kolaborasi erat dengan Sekretaris Uskup, kuria, dan komisi-komisi lain agar media resmi keuskupan dapat menguatkan relasi kuria dengan umat secara konsisten. Komsos juga harus berjejaring dengan insan pers lokal sebagai mitra pewartaan,” kata Mgr Didik.

Keterampilan teknis relawan

Langkah mewujudkan berbagai cita-cita itu, para peserta PKSN XIII yang menjadi relawan di Komisi Komsos masing-masing, dibekali keterampilan teknis memproduksi konten.

Ratusan penggerak media paroki dari berbagai keuskupan itu dibagi dalam empat kelas workshop yakni jurnalistik, podcast, video, dan konten kreatif.

Wartawan senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, menyampaikan materi jurnalistik bagi pegiat komunikasi peserta PKSN XIII di Pontianak, Kamis (28/05/2026). (Foto: Komsos KAP)

Kelas jurnalistik
Di kelas jurnalistik, peserta dibekali dengan keterampilan merencanakan liputan dan menyusun berita. Gabriel Abdi Susanto dan Kornelius Purba menjadi mentor yang menegaskan pentingnya kedisiplinan dan bijaksana menggunakan AI.

“Buat perencanaan yang matang agar kalian tetap terarah. AI itu sebatas alat bantu, dan kalian harus disiplin verifikasi atas info dari AI,” tegas Kornelius Purba, wartawan senior The Jakarta Post.

Para pegiat komunikasi sedang berlatih memproduksi podcast di workshop dalam rangkaian Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII hari ketiga, Kamis (28/05/2026) di Pontianak. (Foto: Komsos KAP)

Kelas podcast
Pada kelas podcast, peserta digembleng oleh Jose Marwoto dan Romo Antonius Steven Lalu, mengenai teknik dasar berbicara di depan kamera, olah vokal diafragma, hingga cara membagi pandangan mata agar tampil komunikatif.

Para peserta berpraktik dalam kelompok, mensimulasikan peran penyusun konsep, host dan narasumber. Simulasi itu kemudian direkam untuk memudahkan evaluasi.

“Podcast yang baik harus dikonsep terlebih dahulu. Kemasannya harus menarik sehingga orang betah menonton dan pesan tersampaikan,” kata Jose Marwoto.

Kelas video
Sementara itu, proses produksi visual dipelajari di kelas video bersama Ignasius Christopher Adisurya dan Samuel Krismanto. Mereka belajar pembuatan dokumenter naratif pendek.

Mulai dari taktik memikat penonton pada 10 detik pertama hingga penggunaan log sheet serta editing emosional cerita. Peserta dibagi kelompok dan harus memproduksi video bersama sebagai tindak lanjutnya.

Kelas konten kreatif
Dan di kelas konten kreatif yang dipandu Fransiscus Borgia Edgar dan Chrysania Hartanto, peserta mendapatkan pengetahuan cara merancang konten yang menghibur sekaligus edukatif. Mentor mengingatkan pentingnya melakukan validasi ulang setiap informasi yang dihasilkan oleh mesin AI, untuk menghindari pengaruh tren digital yang manipulatif.

Literasi teknologi
Literasi teknologi di PKSN XIII tidak hanya menyasar para pegiat media, melainkan juga menyentuh ranah keluarga melalui Seminar Konten Kreatif khusus kelompok ibu-ibu. Sesi interaktif yang dipandu oleh Fransiscus Borgia Edgar mengajak kaum ibu mempraktikkan langsung penggunaan AI untuk berbagai produk komunikasi.

Di antaranya pembuatan poster UMKM, pengumuman paroki, hingga katekese singkat. Karya ibu-ibu ini langsung ditampilkan di layar videotron ruangan, sehingga semua peserta bisa melihatnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.