Cahaya di Penfui : Sebuah Kenangan Baru di Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui Kupang

Ditulis oleh Sr. M. Yulita, OSF.

0 26

Katolikana.com -Minggu pagi 12 juli 2026, pukul 08.00 WITA suasana masih tenang di Kupang. Angin menyapa lembut saat saya melangkah masuk ke halaman Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui.

Hawa sejuk di pagi hari, namun terasa hangat saat menjelang siang. Itulah suasana khas Kupang yang terasa kental. Saat saya melintasi ambang pintu gereja, rasa damai, sejuk, segera menyelimuti diri saya.

Saya, seorang pendatang baru di kota ini, saya pindah karya dari Kota Bengawan Solo. Ada sebuah rasa hinggap berbeda.

Suasana berubah ramai ketika umat berdatangan untuk Misa pagi. Awalnya saya terasa asing.

Memasuki pintu gereja, saya mencari tempat duduk di bagian sayap kiri, mencoba menyerap suasana di sekitar.

Arsitektur gereja yang modern, megah, mengundang kekaguman.

Mata saya tertuju pada altar utama. Di sana fokus perhatian saya terhenti, terkunci.

Pusat dari seluruh pemandangan altar adalah sebuah salib besar yang berdiri tegak.

Salib yang memancarkan cahaya di Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui Kupang (Foto Sr. M. Yulita, OSF)

Salib kayu yang kokoh dengan patung Yesus yang terpaku, bukanlah sekadar dekorasi.

Ada sesuatu yang saya tangkap berbeda memandang salib ini.

Cahaya lampu gereja memantul di permukaan salib, tapi ada yang lebih dari itu.

Seakan-akan, salib itu memiliki auranya sendiri. Saya menatap salib Yesus yang tenang, dan tatapan-Nya seolah langsung menembus ke dalam jiwa saya.

Pancaran yang kuat seakan-akan memancar dari salib tersebut. Bukan cahaya fisik yang menyilaukan mata, melainkan sebuah energi halus namun begitu kuat.

Cahaya itu, bagaikan sinar yang tak kasat mata, menyentuh hati saya yang gelisah, merangkul ketidakpastian saya sebagai seorang umat baru di tempat itu, dan perlahan-lahan memberikan kekuatan batin yang luar biasa.

Suasana dalam Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph Pekerja, Penfui Kupang (Foto : Darco Lado)

Saat Misa dimulai, aura tersebut seakan semakin pekat. Setiap doa yang diucapkan, setiap lagu yang dinyanyikan, seakan beresonansi dengan kekuatan yang memancar dari salib.

Saya merasa seluruh hati dan diri saya di penuhi dengan kekuatan yang dasyat digantikan oleh rasa tenang dan keyakinan.

Salib Yesus di Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui bukanlah sekadar simbol penderitaan, melainkan sebuah menara kekuatan.

Sinar-Nya, meski tak kasat mata, terasa begitu nyata di dalam hati.

Di pagi itu, di tengah umat yang bernyanyi dengan khusyuk, saya menyadari bahwa saya telah menemukan tempat berlindung, sumber kekuatan, dan rumah spiritual yang hangat di kota baru ini.

Sr. M. Yulita,OSF

Aura salib itu telah menyentuh saya, memberikan kekuatan yang saya butuhkan untuk melangkah maju di tanah Timor. Batukarang tercinta.

Cahaya Salib-Mu menyinari iman, pengharapan dan kasih yang menyentuh dan memberi kehangatan yang tidak bisa saya tuliskan dalam kata. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.