10 Tahun Seminari Mario John Boen Pangkalpinang: “Saatnya Panen di Kebun Sendiri”

0 82

Katolikana.com – Seminari Menengah Mario John Boen (SMMJB), Keuskupan Pangkalpinang, telah berusia 10 tahun pada 25 April 2021. Pada Lustrum II ini menghidupkan cita-cita “Saatnya Panen di Kebun Sendiri” – judul buku kenangan SMMJB – kelak diharapkan lahir para pastor dan pemimpin religius dari Keuskupan Pangkalpinang.

Dalam perayaan Lustrum II tersebut SMMJB menyelenggarakan dua kegiatan live streaming pada Jumat, 23 April 2021, yaitu talkshow dan launching buku kenangan SMMJB yang berjudul, “Saatnya Panen di Kebun Sendiri”.

Acara talkshow dipandu oleh Desria Manalu, dihadiri empat narasumber; Uskup Keuskupan Pangkalpinang Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro, Imam senior Keuskupan Pangkalpinang RD. FX. Hendrawinata, dan Rektor SMMJB RD. Stanis Bani.

Talskhow Lustrum II Seminari Mario John Boen Pangkalpinang pada Jumat (23/4/21). Foto: RD Martin Da Silva

Awal Mula Mendirikan Seminari

Dalam talkshow tersebut, RD. FX. Hendrawinata yang merupakan pelaku sejarah pendirian mengisahkan mulai tahun 1950 hingga periode kedua Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, memimpin Keuskupan Pangkalpinang, para seminaris dari Bangka dikirim ke Seminari Menengah  St. Paulus Palembang. Kemudian, melihat bertambahnya orang-orang muda dari Bangka yang belajar di Seminari St. Paulus Palembang, maka terpikir gagasan untuk mendirikan seminari sendiri di Pangkalpinang.

Ide pendirian seminari itu terganjal oleh masalah dana. Dua puluh tahun kemudian, ide pendirian seminari tersebut baru terlaksana. Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD mendirikan seminari yang dikenal Seminari Menengah Mario Jonn Boen.

Menurut Pastor Hendra, pemberian nama seminari itu dengan nama Pastor Mario John Boen karena ia merupakan pastor diosesan pribumi pertama di Indonesia, yang juga berasal dari Pangkalpinang. Dialah pastor kebanggaan Keuskupan Pangkalpinang karena dekat dengan umat dan rendah hati.

“Pastor John Boen sangat menginspirasi dan berdedikasi akan pelayanannya selama menjadi imam, dia mengunjungi para orang tua dan melayani umat-umat dengan penuh rendah hati,” ungkap Pastor Hendra, yang pernah satu  rumah dengan Pastor Mario John Boen.

Orang Tua Mendorong Anaknya

Dalam talkshow itu, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM mengungkapkan perasaan saat pertama kali ditunjuk sebagai uskup Keuskupan Pangkalpinang. Bapak Uskup menyebutkan bahwa Nuntio sempat memberikan penghiburan kepada beliau bahwa Keuskupan Pangkalpinang sudah memiliki seminari menengah dan dalam perjalanan waktu setelah mengikuti beberapa kali pertemuan dengan para uskup lainnya barulah beliau memahami makna penghiburan itu.

Peletakan Batu Pertama Kapel St. Yohanes Maria Vianney di Seminari Menengah Mario John Boen, menutup puncak perayaah Lustrum II, Minggu (25/4/21). (Foto: RD Martin Da Silva)

Bapak Uskup tidak lupa berterimakasih atas kerja sama para perintis SMMJB, serta mengajak keluarga-keluarga terutama orang tua seminaris untuk memberikan perhatian lebih kepada para seminaris dalam proses panggilan mereka. Mgr. Adrianus juga mengakui bahwa banyak umat yang turut mendukung keberlangsungan hidup para seminaris.

“Ada pun bimbingan dan dukungan juga diberikan oleh banyak orang dari berbagai pihak, mulai dari bantuan para donatur dan umat Allah baik melalui doa maupun material”, ungkap Uskup Adrianus.

Hampir setiap kesempatan berbicara Bapa Uskup menyerukan harapan agar orang tua senantiasa mendoakan dan mendorong puteranya untuk masuk seminari. Bapak Uskup pun menyampaikan terima kasih kepada para orang tua seminaris dan mengajak para seminaris untuk selalu bersyukur. “Secara khusus saya ingin berterima kasih kepada para orang tua seminaris yang dengan rela memberi restu bagi anak-anak mereka untuk masuk seminari. Untuk para seminaris sendiri, jangan lupa bersyukur atas anugerah panggilan khusus ini”.

Teknologi dan Pendidikan Seminari

Dirjen Bimas Katolik mengungkapkan bahwa Kementerian Agama senantiasa membantu dan mendorong perkembangan seminari terutama di bidang sarana dan prasarana pendidikan. Ia menegaskan bahwa sejak pertama SMMJB berdiri Bimas Katolik mempunyai tanggung jawab untuk ikut membina seminari ini menjadi salah satu SMAK di bawah binaan Kemenag.

Yohanes Bayu Samudro juga menekankan harapan dan manfaat dari keberadaan SMMJB di kalangan masyarakat Pangkalpinang, dan Indonesia pada umumnya. “Kami berharap Seminari Menengah Mario John Boen ini mendidik dan membesarkan pribadi-pribadi Katolik yang sungguh-sungguh dewasa, sungguh-sungguh merasakan bahwa pribadi-pribadi katolik ini pribadi yang bermanfaat nanti bagi kemajuan masyarakat Indonesia secara umum”, ungkap Dirjen Bimas.

Kemampuan musik dan bernyanyi para seminaris ditampilkan dalam misa perayaan ulang tahun ke-10 Seminari, 25 April 2021. (Foto: RD Martin Da Silva)

Yohanes Bayu Samodro juga menghimbau agar para seminaris dituntut untuk semakin mahir dan mampu menguasai teknologi yang sedang dan akan terus berkembang. Sebab sebagai calon imam, seminaris mau tidak mau akan mulai berkatekese melalui media sosial dan berbagai macam teknologi lainnya. Seminaris juga diharapkan dan dituntut untuk terus menjaga dan merawat kearifan lokal budaya masing-masing, serta hidup di tengah keberagaman dengan adanya kebersamaan dan kesatuan sebagai jalan mencapai satu tujuan.

Nilai-nilai karakter pendidinkan di seminari juga ditekankan oleh Rektor SMMJB RD. Stanis Bani. Menurutnya, Pastor John Boen menjadi sosok teladan bagi para seminaris. “Seminaris mengalami perubahan karakter menjadi lebih baik, mereka lebih rendah hati, sabar, dan lemah lembut seturut perilaku pastor Boen,” ungkap Pastor Stanis.

Ia melanjutkan bahwa Seminari Mario John Boen dapat terus berkembang hingga saat ini karena keteladanan serta semangat yang diwariskan Pastor Boen, para formator, para pendidik, dan seminaris sendiri. Komunikasi yang terjalin kuat di antara para pendidik tersebut yang bisa mengembangkan dan memajukan Seminari Menengah Mario John Boen.

Selain itu, Pastor Stanis juga memberi informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler di SMMJB. Mulai dari jurnalistik, olahraga, english club, seni teater sampai dengan kerajinan tangan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler ini seminaris diharapkan memiliki karakter yang kelak bisa dimanfaatkan sebagai sarana mewartakan Yesus.

Informasi lain yang disampaikan Romo Rektor tentang jumlah calon seminaris yang tahun ajaran baru ini hanya empat belas orang mengikuti tes. Jumlah ini sangat berbeda bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Romo Rektor Stanis mengatakan bahwa perbedaan ini bukan sebuah penurunan karena ketiadaan namun lebih disebabkan oleh situasi pandemi yang kita alami saat ini.  Oleh sebab itu sangat dibutuhkan kesatuan doa sebagai wujud komunio dari dalam keluarga agar semakin banyak kaum muda terpanggil masuk seminari dan menjadi imam.

Launching Buku Kenangan

Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko dan Dirjen Bimas Katolik Y. Bayu Samudro, membuka launching buku kenangan seminari pada Jumat (23/4/2021). Foto: RD Martinus Da Silva

Selain talkshow pendidikan seminari, acara Lustrum II juga diadakan peluncuran Buku Kenangan Sepuluh Tahun SMMJB: “Saatnya Panen di Kebun Sendiri”. Buku ini dibedah oleh RD. Benny Balun, Ketua Tribunal Keuskupan Pangkalpinang.

Romo Benny Balun menyoroti dua bagian penting dalam buku kenangan yaitu sejarah dan hasil (output), harapan, peluang dan tantangan SMMJB selama sepuluh tahun. Pertama, sejarah tentang pendirian SMMJB yang dirintis oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Pada masa itu Keuskupan Pangkalpinang hanya mempunyai satu imam diosesan. Dengan membangun seminari Keuskupan Pangkalpinang kelak memanen di kebun sendiri, dengan kata lain kelak mentahbiskan imam lulusan dari SMMJB.

Selain itu, tentang pemberian nama Pastor Mario John Boen menjadi pelindung SMMJB. Ia Imam Diosesan pertama dan imam pribumi pertama berasal dari Pangkalpinang yang memiliki keutamaan kerendahan hati dan murah hati.

Kedua, mengenai output. Diharapkan tamatan SMMJB memiliki dua kemampuan yang bisa diandalkan, yaitu kemampuan intelektual dan pengembangan bakat. Kemampuan mengekspresikan diri, kemampuan intelektual dan apostolik.

Pada bagian akhir, RD. Benny Balun mengutip ungkapan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, perlunya mengupayakan pastoral panggilan, terutama pada anak-anak remaja dan memberi motivasi serta ajakan untuk meningkatkan tanggung jawab bersama dalam menjamin keberlangsungan proses pembentukan para calon imam di Keuskupan Pangkalpinang.

Editor: Basilius Triharyanto

Staf di Seminari Menengah Mario John Boen Pangkal Pinang

Leave A Reply

Your email address will not be published.