Surat Birgaldo Sinaga Kepada Putri Semata Wayangnya

0 70

Katolikana.com–Penulis dan pegiat kemanusiasan Birgaldo Sinaga telah berpulang ke Allah Bapa hari Sabtu (16/5/2021) sekitar pukul 06.00 WIB karena Covid-19.

Dalam sejumlah tulisannya, Birgaldo menyuarakan tentang kemanusiaan, keadilan, kebebasan berkeyakinan dan masalah sosial politik. Ia juga aktif membantu korban bencana gempa bumi. Ia juga kerap membela orang2 kecil yang terpinggirkan hidupnya.

Pegiat media sosial Damar Juniarto menulis di laman Facebooknya, dia ketemu Birgaldo saat mencuat kasus tuntutan hukum pada Romesko Purba yang mengangkat hambatan izin mendirikan bangunan untuk renovasi Gereja St. Yosef Karimun.

“Kami ngobrol seputar kasus ini dan upaya yang dapat dilakukan untuk membantu. Birgaldo cukup paham isunya karena ia berkali-kali sudah ke lokasi dan bertemu pihak yang bersengketa,” tulis Damar.

Birgaldo Sinaga berfoto di depan Gereja St. Yosef Karimun. Foto: Romesko Purba

Setelah Birgaldo berpulang, beredar surat Birgaldo Sinaga kepada anak semata wayangnya.
Terkait surat ini, Setyo Budiyantoro menulis di laman Facebooknya sebagai berikut:

“Salah satu pidato paling masyhur dalam sejarah dunia adalah “Aku Memiliki Sebuah Mimpi” (I have a dream) dari Martin Luther King tentang kesetaraan.

Salah satu isi pidato yang menggetarkan ketika ia dengan lantang berkata, “Aku memiliki mimpi, keempat anak-anak-ku yang masih kecil suatu hari nanti bisa hidup di negara, dimana mereka tak akan dihakimi berdasarkan warna kulit melainkan berdasarkan isi karakter mereka”.

“Sebelumnya, saya membayangkan kita sudah jauh melampaui apa yang dialami Martin Luther dalam ketidaksetaraan. Namun membaca surat (alm) Birgaldo kepada anak semata wayangnya membuat saya menghela nafas panjang, ternyata kita masih belum beranjak jauh. Kebangsaan Indonesia yang setara pada semua warganegaranya tanpa diskriminasi suku, agama dan/atau ras, tampaknya masih jauh atau bahkan menjauh,” tulis Setyo.

Berikut surat Birgaldo Sinaga untuk Baby K, anak semata wayangnya:

Surat Kedua Untuk Baby K

Dear My Baby K..
Papa mau cerita untukmu. Cerita tentang mengapa Papa selalu ada di Jakarta. Saking seringnya Papa tinggalkanmu kamu jadi tahu kalo naik sawat itu pasti pergi jauh. Tapi kalo naik motor pergi sebentar. Kalo kamu bilang “Papa naik sawat ya” itu artinya Papa harus membujukmu dengan bermain pesawat terbang. Kamu naik ke bahu Papa lalu kita keliling rumah dengan suara meniru sawat terbang.

Anakku Baby K…
Hari-harimu tidaklah bisa kudampingi setiap hari. Tidak akan bisa kembali papa dapatkan waktu emas bersamamu itu. Kadang kamu begitu cerewet meminta papa menemanimu seharian bermain. Bermain rumah-rumahan. Habis itu kamu tarik papa main kuda-kudaan. Lalu main umpet-umpetan. Pasti kamu rindu ya karena ditinggal lama.

Saat malam menjelang tidur kamu bahkan dengan nada tinggi memanggil Papa agar ikut berdoa tidur. Doamu lucu. Singkat. Papa catat hanya 10 detik. Papa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Yang terdengar seperti orang menggumam. Tapi Papa tahu kamu sedang mendoakan keselamatan dan perlindungan Tuhan menjaga rumah kita dari orang jahat.

Anakku Baby K…
Berat memang meninggalkanmu saat kamu sedang lucu-lucunya. Tapi sesungguhnya Papa ingin menuliskan cerita tentang perjuangan Papa agar kamu kelak bangga anakku. Papa sedang berjuang agar kelak kamu bisa punya mimpi yang sama dengan si Aisyah temanmu untuk menjadi gubernur di seluruh Indonesia. Papa ingin kamu punya mimpi yang sama dengan si Ahmad anak Pak Abdullah itu agar bisa menjadi Presiden Indonesia.

Mimpimu itu ingin papa perjuangkan karena papa percaya pada konstitusi bangsa. Semua anak bangsa sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Setara, sejajar tanpa kecuali. Pada diri Ahok minoritas China Kristen itu sejarah sepertinya akan tertoreh. Papa hadir berjuang dengan sesama anak bangsa bukan karena Ahok sama-sama seagama dengan papa. Namun karena nilai kebangsaan dan keadilan sedang diperjuangkannya.

Anakku Baby K…
Kemarin Ahok tidak menang. Ia gagal menorehkan sejarah pembuka. Ia kalah setelah hujan peluru hujatan, caci maki, sumpah serapah memberondong dadanya hingga remuk tidak bertulang.

Setelah Ia kalah, Ahok juga diputus bersalah atas kesalahan yang tidak pernah ada diniatkannya. Ia langsung masuk penjara. Orang-orang bersukacita bersorak sorai atas hukuman keji itu. Padahal apa dosa kesalahannya? Ia jujur. Ia tidak mencuri. Ia tidak korup. Ia sepenuh hati memikirkan rakyatnya.

Ia menjaga uang rakyat dengan perisai dadanya. Ia menangis pada orang kecil dan susah. Ia memberikan apa pun buat kebaikan rakyatnya sekali pun Ia kehilangan orang yang dikasihinya sendiri. Entah apa yang bisa membuat Ahok masih bisa bertahan. Papa tidak tahu.

Melihat kejam dan bengisnya apa yang dialami Ahok, Papa jadi kecut sendiri. Kecut dan ciut nyali. Papa malu jadinya. Bagaimana mungkin Papa membiarkanmu memiliki mimpi menjadi pelayan publik jika nilai idealismemu kelak dianggap nilai kafir penghuni neraka jahanam haram jadah?

Anakku Baby K…
Dunia memang tidak adil. Darah dan air mata kakek nenekmu ada dalam pendirian republik ini. Tapi kini seakan darah dan air mata memperjuangkan kemerdekaan ini hendak dihapus oleh manusia rasis dan penuh kebencian.

Papa tidak mengerti dan tidak tahu mengapa bisa terjadi. Dulu tidak begini anakku. Dulu masa kanak kanak papa mereka teman teman papa adalah malaikat bagi papa. Kini mereka menatap buas penuh auman kebencian meneriakkan kafir..kafir…kafir.. dengan penuh kebencian. Apa salah kita terlahir dari rahim ibu yang berbeda suku dan agama? Apa dosa kita tercipta oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan perbedaan iman dan etnis? Why?

Anakku Baby K..
Entah bangga atau kecewa papa mau bilang berhentilah bermimpi punya cita dan mimpi menjadi gubernur atau presiden. Bumi tempatmu ini lahir bukanlah bumi nusantara yang dulu. Nusantara tempat nenek moyang kita berburu babi dan rusa tanpa makian dan hinaan. Kini bumi nusantaramu penuh cacian kutil babi bagi kita yang tidak sefaham dan seagama dengan mereka.

Anakku Baby K…
Secercah harapan meski teramat kecil harapan itu muncul dari balik dinding ruang pengadilan PK hari ini. Hari ini, Senin 26 Februari 2018, teman2 papa dari Bara Baja yang dulu setiap minggu menemani Ahok di pengadilan mengabarkan kepada papa bahwa hakim PK menerima PK Ahok. Papa tidak ada di sana karena masih di Medan bersama relawan Djarot Sihar berjuang untuk harapan baru Sumut. Kota kelahiran papa.

Anakku Baby K
Harapan keadilan itu meski bak sebatang api lilin di tengah samudera luas kegelapan tetaplah harus papa perjuangkan bersama teman2 relawan dan seluruh rakyat Indonesia. Apalah artinya doa dan sembahyang kita kepada Allah Yang Maha Adil jika kita membiarkan ketidakadilan dan kezaliman berlaku di depan mata kita. Tanggal 6 Maret nanti, Hakim PK di MA akan memutus nasib Ahok. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan.

My Baby K…
Papa hanya ingin kau tahu anakku..kelak ketika kau dewasa, Papa hanya ingin melihatmu terbang tinggi dengan sayap kokoh mengangkasa ke belahan dunia dimana cinta, harmoni dan keberagaman menjadi rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Pencipta. Semoga para hakim yang arif bijaksana penuh rasa adil dirahmati Tuhan Yang Maha Adil dalam memutus nasib anak bangsa yang tidak berdosa dan bersalah.

Terbanglah anakku…bawalah cinta nan lembut kepada sesamamu tanpa peduli apa agama dan sukunya.

Maafkan papa yang telah lama meninggalkanmu.

Peluk cium sehangat mungkin.
Your papa

Birgaldo Sinaga

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.