Menyalakan Lentera Pendidikan di Bukit Bergota

0 23

Katolikana.com – Di pusat kota Semarang, tepatnya di bilangan Tugu Muda, terdapat satu sekolah yang unik. Sekolah itu TK-SD PL Servatius Gunung Brintik. Sudah lebih setengah abad sekolah PL Servatius ini berjuang memberi terang dalam dunia pendidikan di komunitas warga sekitar pemakaman umum.

TK-SD Pangudi Luhur Servatius Gunung Brintik terletak di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota. Bangunan sekolah berdiri di pucuk bukit, dihimpir oleh rumah-rumah warga dan kompleks TPU Bergota.

TK-SD Gunung Brintik, begitu warga setempat biasa menyebutnya, sejak didirikan pada 1967 oleh Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS), merupakan sekolah gratis yang didedikasikan secara khusus bagi anak-anak tidak mampu di area tersebut.

Satu tangga akses ke sekolah. (Foto: Katolikana/Ageng Yudha)

Menurut Sabarina Sr. Vincentia (2018), YSS sebagai Yayasan Katolik milik Keuskupan Agung Semarang ini merasa memiliki kewajiban moral untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi kaum marginal yang tinggal di TPU Bergota. Terlebih, jarak sekolah itu berjarak selemparan batu dari Gereja Katedral Semarang.

Misi pendidikan di sekolah Gunung Brintik ini diawali dengan keterbatasan. Pertama, lahan yang tersedia untuk pembangunan TK-SD Gunung Brintik tidak luas dan medannya berbukit. Alhasil sekolah ini didirikan tanpa membangun pagar dan dua bangunan sekolah ini dipisahkan oleh sebuah gang kecil. Sebab sekolah perlu memberi akses jalan untuk mobilitas warga setempat. Sehingga wajar saja jika kadang ada orang yang berlalu-lalang melintas di tengah gang kecil di area sekolah.

Sempitnya lahan juga membuat TK-SD Gunung Brintik tidak memiliki lapangan bermain seperti lazimnya sekolah pada umumnya. Lumrah saja jika kita bertandang ke sana, kita bakal menjumpai pemandangan anak-anak yang asyik bermain di jalan gang sekolah atau diantara nisan-nisan makam.

Kegiatan belajar mengajar pun pada mulanya dilakukan dengan fasilitas seadanya. Jangankan komputer, meja dan kursi pun tidak ada di masa-masa awal sekolah ini didirikan. Murid-murid belajar secara lesehan di ruangan kelas. Dari kondisi yang serba sederhana tersebut, sekolah ini mampu merintis karya pendidikan formal bagi warga setempat. Kelak, fasilitas sekolah bisa ditambahkan secara bertahap setelah pengelolaan sekolah ini diambil alih oleh Yayasan Pangudi Luhur (PL).

Namun salah besar jika menganggap lahirnya sekolah ini langsung disambut antusiasme warga sekitar. Adanya sekolah formal gratis tak membuat warga setempat otomatis berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sana. Setiap jelang awal tahun ajaran baru, para guru TK-SD Gunung Brintik tetap harus melakukan pendekatan jemput bola untuk memperoleh murid baru.

Kebanyakan warga memang tidak terlalu ambil pusing dengan urusan pendidikan formal. Sehingga tidak terbersit pula pikiran untuk menyekolahkan anak-anak mereka karena pola pikir tersebut. Disertasi Y.Y.F.R Sunarjan dengan judul “Survival Strategy Komunitas Makam Gunung Brintik Semarang” memberi gambaran yang cukup gamblang mengenai hal ini.

Warga Gunung Brintik umumnya bekerja serabutan alias tidak memiliki pekerjaan tetap. Kadangkala mereka menggali makam, sebagian dipercaya menjadi penjaga makam, lainnya lagi melakoni pekerjaan harian apapun yang bisa mereka kerjakan. Mulai dari tukang sampah, tukang becak, hingga buruh serabutan di pasar. Tidak sedikit pula warga yang menganggur tanpa pekerjaan.

Sebuah jalan setapak akses menuju sekolah TK-SD PL Servatius Gunung Brintik. (Foto: Katolikana/Ageng Yudha)

Dengan kondisi demikian, tidak heran jika warga setempat lebih senang mendorong anak-anak mereka ikut turun ke jalan membantu orang tua daripada bersekolah. Entah dengan menjadi pengamen atau menjajakan koran di lampu merah. Penelitian antropologi Ria Susanty pada 2019 menegaskan jika aktivitas anak-anak yang mengamen, mengemis, dan menjual koran dianggap lebih bermanfaat bagi perekonomian keluarga.

Maka, perlahan-lahan sekolah ini berusaha mengubah pola pikir warga setempat agar bisa memandang pendidikan sebagai bekal hidup yang utama bagi anak-anak mereka. Suatu upaya mulia yang masih terus mereka lakukan sampai 54 tahun karya pendidikan mereka berjalan.

Lalu untuk apa pihak sekolah ini berpayah-payah mengerahkan segala upaya melelahkan seperti itu? Sebagian mungkin berprasangka status sebagai sekolah Katolik bakal membuat anak-anak yang bersekolah di tempat ini banyak yang dibaptis menjadi Katolik. Istimewanya, hal demikian tidak terjadi. Meski dikelola oleh yayasan Katolik, nyatanya, murid-murid Katolik dan Kristen Protestan merupakan minoritas di TK-SD Gunung Brintik. Data terbaru Kemendikbud pun mencatat 70% murid di sekolah ini beragama Islam.

Memang sedari awal tujuan sekolah ini lahir untuk menghadirkan pendidikan berkualitas untuk orang-orang miskin. Sehingga sekolah ini tidak melihat latar belakang agama sebagai syarat untuk menerima murid. Dengan alasan serupa, sejak berdirinya sampai sekarang, sekolah ini konsisten tidak menarik biaya pendidikan sepeser pun dari para orang tua murid.

Bagi anak-anak para penggali kubur, penjaga makam, tukang sampah, pengamen, dan buruh pasar, sekolah ini hadir. Bagi merekalah, TK-SD Gunung Brintik berusaha menyalakan lentera pendidikan dari puncak Bergota.

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.