Rabu Abu Saat Pandemi: Abu Tak Dioleskan tapi Ditaburkan di Kepala

Gereja Katolik telah menerbitkan tatacara penerimaan abu secara khusus saat misa Rabu Abu di masa pandemi.

0 15,617

Hari Rabu Abu pada tahun ini akan jatuh pada 17 Februari 2021. Menyikapi situasi dunia yang masih berkutat dengan Covid-19, Gereja Katolik telah menerbitkan tatacara penerimaan abu secara khusus saat misa Rabu Abu di masa pandemi.

Pastor Postinus Gulo, OSC mencuitkan pedoman liturgis ini di Twitternya. Pastor yang berkarya di Keuskupan Bandung ini menyitir catatan yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen pada tanggal 12 Januari 2021.

Perbedaan yang kentara dalam misa Rabu Abu tahun ini akan terlihat saat memasuki prosesi pemberian abu. Pastor akan mengucapkan doa untuk memberkati abu yang akan diberikan kepada umat. Lalu imam memerciki abu dengan air suci tanpa mengucapkan apapun.

Kemudian abu diperciki dengan air suci dan setelah itu pastor mengucapkan pesan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” atau “Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Salah satu dari dua kalimat ini hanya akan diucapkan sekali saja oleh pastor dan ditujukan kepada seluruh umat yang hadir di dalam misa.

Sesudahnya pastor membersihkan tangannya, kembali memakai masker, dan mulai menerimakan abu kepada umat. Bedanya, kali ini abu tidak akan dioleskan di dahi umat, tetapi ditaburkan di atas kepala umat. Hal ini untuk meminimalisir kontak fisik antara pastor dan umat. Pastor juga tidak mengucapkan apapun saat penerimaan abu karena pesan pertobatan telah disampaikan secara general sebelum penerimaan abu.

Sementara itu, bagi umat yang memilih untuk tidak menghadiri misa Rabu Abu di gereja, umat dipersilakan untuk tetap menghadiri misa secara online dengan khidmat dan tidak perlu menerima penaburan abu secara langsung.

Hal ini akan menjadi tradisi yang baru di Indonesia. Sebab selama ini umat Katolik di Indonesia selalu menerima abu dengan bentuk tanda salib di dahi. Baru pada tahun ini, umat tidak akan mendapat penanda abu di dahi setelah mengikuti misa Rabu Abu.

Bahkan umat masih dapat merasakan pemberian abu di dahi saat misa Rabu Abu tahun lalu meskipun mereka merayakan Paskah secara online. Mengingat Indonesia baru mengalami pandemi sejak awal Maret 2020, alias di tengah-tengah masa Prapaskah.

Namun hal ini bukanlah masalah besar. Sebab memang Gereja Katolik mengizinkan dua cara pemberian abu dalam liturgi Rabu Abu. Cara pertama adalah pengolesan abu di dahi, seperti tradisi di Indonesia. Cara kedua yaitu penaburan abu di atas kepala, kebiasaan yang lazim dilakukan di Roma. Sehingga tatacara ini bukanlah tatacara yang baru dikreasi akibat adanya pandemi.

Di akhir cuitannya, Pastor Postinus menegaskan, menerima abu itu merupakan tanda pertobatan. Sehingga cara menerima abu mestinya tidak perlu dirisaukan secara berlebihan. Bahkan umat dibolehkan tidak tidak menerima abu jika situasinya tidak memungkinkan.

“Perlu kita refleksikan bersama bahwa abu yang kita terima merupakan tanda bahwa kita memasuki masa pertobatan yang diikuti oleh tindakan nyata: berpuasa, berpantang, dan beramal. Maka hal yang paling penting adalah pertobatan dan perbuatan amal kita untuk solider kepada yang lain,” demikian ucap Pastor Postinus.

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.