Puisi Romo Paschal: “Berkawan Waktu Yang Sombong”

0 58

Katolikana.com – RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus, imam diosesan Keuskupan Pangkalpinang, sedang menjalani isolasi di rumah sakit karena terinfeksi virus Covid-19. Romo Paschal, sebutan akrabnya, dikenal sebagai pegiat anti perdagangan manusia dan pembela perempuan dan anak korban kekerasan di wilayah Kepulauan Riau.

Jumat, 21 Mei 2021, hari ke-10 Romo Paschal menjalani isolasi di RS. Elisabeth, Batam. Kepada Katolikana.com, Romo Paschal, mengirimkan puisi-puisinya. Selama empat belas hari, ia akan menulis puisi. Empat belas hari–masa isolasi bagi penyintas Covid-19. Hingga hari ke-10, ia menulis tujuh buah puisi. Liriknya menyentuh. Dialog dirinya dengan Elisbaeth, rumah sakit di Batam, tempat hari-harinya menjalani isolasi.

Puisi ini ia beri judul “Berkawan Waktu yang Sombong”. Silakan membacanya, dan turut mendukung dan mendoakan untuk kebugaran dan kesembuhan Romo Paschal, tentu juga menanti puisi lanjutannya. 

“Berkawan Waktu Yang Sombong”
(1)
Ah, Elisabeth..
ajari aku jatuh cinta
di sarapan pagi yang mati rasa
kau tahu..
kenapa aku menunggu
suara cicak di dinding
Elisabeth,
aku mau bilang
kasur ini tipis nak mampos
memuncak gerah
sepi kian berarti
sendiri itu serupa dinding,
pemanas air, cas hp, roti jagung ,minyak kayu putih,
selimut, dan sebakul rindu
ku tulis
untuk mu
entah untuk apa
Covid ini bedabah !

(2)
Dilangit kamar
Dia tersenyum
nafas tersengal
pikiran ku pekat
merangkak dalam sakit
berkelahi dengan
sorot mataNya
cinta memang mesti berkorban
mengapa tak ku hirau
deras mengalir
Ah,
sebutir cinta
di malam panjang
berkabut
Elisabeth,
sudahkan hujan turun
kabari ku

(3)
lorong lorong itu
menanti ambulance
membawa matahari
kecelah hati
kita mesti apa
singkirkan debu
satu isarat
Kembali
Sujud
Elisabeth,
serupa obat
serupa kecupanNya
menyambut hari ku

(4)
barangkali
ini telaga
barangkali
aku tak mengerti
barangkali
aku rindu nasi padang
barangkali
susu beruang itu
barangkali
masih ada waktu
barangkali
KAU
jiwa ku bergetar
kunikmati bayang bayang

(5)
katakan pada ku
tentang malam mu
entah bisik mu
pada bulan
virus ini
bersarang dimana
terbenamlah !

(6)
lampu kamar
coba terka
apa di benak ku
Elisabeth
ini pukul berapa

(7)
tepi jendela
mengintip matahari
mencari embun
di tangkai patah
Maaf,
tidak ada jam besuk
ku pejamkan mata
berjalan kian kemari
Elisabeth
semua pecah di dada

BACA JUGA: Jalani Hari-hari Isolasi Mandiri, Romo Pachal Tulis Puisi dan Lagu

Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.