Insecure Melihat Unggahan Orang Lain di Media Sosial? Ini Cara Mengatasinya!

Rasa insecure sering dialami banyak orang. Mereka kerap merasa insecure terutama ketika melihat unggahan orang lain di media sosial. Bagaimana cara mengatasinya?

0 13

Katolikana.com—Pendiri @healyou.id dan konselor psikologi Jeannita Anyatazha Rose, S. Psi serta mahasiswi Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia Dewi Suryaningsih membahas fenomena insecure yang dialami oleh orang muda dalam Live Talkshow #KatolikanaMuda dengan tema “Insecure Melihat Unggahan Orang Lain di Media Sosial?”, Minggu (30/5/2021), dipandu oleh Vincentia Ivena Kasatyo dan Imanuel Karel Handy.

Narasumber dan host Talkshow. Foto: Tangkapan Layar

Menjaga Kesehatan Mental dimulai dari Bercerita

Menurut Anya, ketika seseorang merasa memiliki tekanan dalam hal apa pun yang berdampak pada mengganggu aktivitas, hubungan sosial, atau bahkan memberikan rasa cemas yang berlebih, sebaiknya memutuskan untuk pergi ke psikolog untuk melakukan diskusi terkait masalah yang dihadapi.

“Saat ini, tidak ada lagi alasan malu untuk pergi ke psikolog dan bercerita karena sudah banyak tersedia website yang memfasilitasi curhat secara anonim,” tukas Anya.

Insecure merupakan keadaan di mana seseorang merasa cemas, merasa dunia ini sebuah tekanan yang harus dihadapi.

Pendiri @healyou.id dan konselor psikologi Jeannita Anyatazha Rose, S. Psi. Foto: Instagram

Tanda-Tanda Insecure

Di era modern ini, di mana masyarakat menjadikan media sosial sebagai media berselancar yang utama, tak jarang membandingkan kehidupan satu sama lain.

Hal ini perlu diperhatikan karena bisa jadi kemunculan rasa insecure yang menjadi alasan tidak habisnya kita membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.

Rasa insecure berlebihan menyebabkan individu takut untuk keluar dari zona nyaman. Ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial, nyalinya menciut dan merasa dirinya tidak berarti sama sekali.

Mereka yang dihantui rasa insecure tidak akan melihat sesuatu dari sisi lainnya, dalam hal ini tidak mencoba mencari cara untuk membuat pencapaian juga.

Ia akan stuck dan terjebak dalam situasi terus melihat pencapaian orang lain tanpa membangun dirinya.

“Ah, aku tidak bisa lebih dari dia! Ah, aku tidak mungkin bisa mencapai seperti yang ia capai!”

Anya menjelaskan pola pikir ini kerap dibentuk oleh mereka yang memiliki rasa insecure. Menjadi rendah diri dan menutup dirinya dari segala hal yang mungkin saja bisa ia capai tanpa harus merasa stuck.

Anya menegaskan ketika seseorang mulai haus akan pujian dengan menghalalkan segala cara, misalnya ingin terlihat cantik lalu memoles foto sedemikian rupa dengan harapan memperoleh pujian dari orang di media sosial, ini perlu diwaspadai pula sebagai tanda rasa insecure mulai menguasai diri.

Insecure Karena Putus Cinta

Dewi mengalami insecure bermula dari putus cinta dengan pasangannya dan berujung pada rasa takut serta adanya tekanan pada dirinya ketika harus mengunggah sesuatu di media sosial.

“Pengen ngepost ini deh, tapi insecure, takut. Sampai akhirnya, sudah post saja, itu cantik kok, biarin saja ada hate comment,” ujarnya.

Adanya gejolak dan rasa takut yang dialami Dewi mungkin relate dengan kita semua sebagai pengguna media sosial. Namun, ketika kita berani bersuara atau sekadar bercerita ke teman-teman mengenai rasa insecure yang dimiliki, justru akan ada bantuan yang diberikan oleh mereka.

“Teman-teman aku akhirnya membantu memberikan positive comment,” tukas Dewi.

Dewi Suryaningsih, mahasiswi Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia. Foto: Instagram

Menghadapi Orang Insecure

“Yuk, bisa yuk!” Kata-kata ini mungkin sering dilontarkan ketika kita mencoba menanggapi permasalahan yang dialami orang di sekitar kita.

Namun perlu dipahami pula, tidak selamanya kata-kata tersebut dapat membantu atau justru salah sasaran menyebabkan orang yang tengah bercerita menjadi kesal.

Menghadapi mereka yang berada dalam tekanan atau masalah, hal yang sulit dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Kita perlu berlatih menjadi pendengar yang baik sebelum nantinya menjadi perespon yang baik.

Ketika orang datang dan melakukan curhat, ada baiknya kita cukup mendengarkan saja. Beberapa orang hanya perlu didengar tanpa perlu ditanggapi.

Ada saatnya kita bisa bertanya: “Kamu perlu sebuah tanggapan atau kamu hanya ingin didengar?” Pertanyaan konfirmasi ini baik agar teman yang sedang berkeluh kesah bisa lebih nyaman.

Di akhir perbincangan, kedua narasumber mengingatkan agar ketika merasa insecure jangan terlalu terbawa dalam situasi insecure tersebut karena dapat menyebabkan penyakit mental yang tidak baik untuk diri tentunya.

Di bagian penutup, Anya melontarkan kalimat pamungkas yang bisa dipakai oleh siapa pun yang sedang insecure: “Saya unik dan keunikan ini tidak akan dimiliki oleh siapa-siapa. Jadi, untuk apa insecure karena setiap orang sudah memiliki porsi masing-masing dalam hal keunikan itu.” *

Kontributor: Vincentia Ivena Kasatyo, Skolastika Natasya Olivia Irmadela, Imanuel Karel Handy, Bertha Virginia Yosmar (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.