Seminari Menengah ‘Yuniorat OMI Beato Mario Borzaga’: Langkah Awal Menjawab Panggilan Tuhan

Kegiatan harian dibagi dalam lima pilar: Kepribadian, Intelektual, Hidup Rohani, Komunitas, dan Pastoral.

1 99

Katolikana.com—Panggilan hidup untuk menjadi biarawan atau biarawati bukanlah hal mudah. Tidak setiap orang mendapatkan panggilan ini. Selain prosesnya yang panjang, menjadi seorang biarawan atau biarawati memiliki tantangan tersendiri.

Para biarawan dan biarawati terikat akan kaul yang menjadi tanda pengabdian seluruh hidup kepada Tuhan dengan tidak menjalin hubungan pernikahan. Karena itu, pembinaan iman dalam menjalani panggilan sangatlah penting.

Seseorang yang ingin menjadi pastor atau biarawan harus menjalani proses pendidikan di seminari. Seminari adalah lembaga pendidikan bagi para calon pendeta (padri, pastor) Katolik Roma.

Seminari Menengah Beato Mario Borzaga terletak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tepatnya di Jalan Kendeng,RT 04/ RW15, Sidanegara, Cilacap Tengah. Seminari ini dikenal sebagai Yuniorat OMI karena berada di bawah kongregasi OMI.

Seminari ini menjadi tempat pendidikan bagi mereka yang memiliki panggilan menjadi seorang Romo atau Bruder Kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI).

Para siswa seminari atau yuniorat terdiri dari kelompok. Pertama, mereka yang lulus pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan memasuki jenjang SMA, dikenal sebagai Yuniorat Kelas Persiapan Pertama (KPP). Kedua, mereka yang telah lulus pendidkan di SMA disebut sebagai Yuniorat Kelas Persiapan Atas (KPA).

Struktur Pimpinan Yuniorat OMI. Infografis: Tim

Sejarah

Yuniorat OMI Seminari Menengah Beato Mario Borzaga diresmikan dan diberkati pada 28 Agustus 2016. Acara ini dipimpin langsung oleh Provinsial OMI Indonesia Pastor Antonius Rajabana, OMI.

Pada awal pembentukan, Pastor Aloysius Wahyu Nugroho, OMI ditunjuk sebagai Promotor Panggilan dan Pastor Bernardus Agus Rukmono, OMI menjadi Pembina Seminari Menengah Yuniorat OMI Beato Mario Borzaga. Saat ini pembina atau Direktur Yuniorat dijabat oleh Romo Wahyu OMI.

Romo Direktur Yuniorat dibantu oleh Frater atau Bruder yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral. Jangka waktunya biasanya satu tahun. Namun, semua kembali kepada penugasan atau perutusan yang diberikan Romo Rektor Skolastikat.

Tim Borzaga di Puncak Gunung Sindoro. Foto: omiindonesia.org

Frater Henrikus Prasojo, OMI saat ini sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Yuniorat OMI Cilacap sebagai Socius, bagian dari perutusan Romo Rektor Skolastikat, Antonius Widiatmoko, OMI. 

Yuniores OMI

Tahun ajaran 2020/2021 total yuniores berjumlah 29 orang, meliputi: Kelas 1 SMA 7 orang, Kelas 2 SMA 14 orang, Kelas 3 SMA 6 orang, dan KPA 2 orang.

Kehidupan sehari-hari para yunioeres, terutama KPP, adalah menjalani pendidikan di SMA Yos Sudarso Cilacap.

Selain belajar, ada agenda atau kegiatan rutin lain yang dijalani.

“Secara garis besar, kegiatan harian dibagi dalam lima pilar: Kepribadian, Intelektual, Hidup Rohani, Komunitas, dan Pastoral,” kata Frater Prasojo kepada Katolikana, Rabu (26/5/2021).

Kegiatan tersebut dibagi dalam jadwal-jadwal atau waktu tertentu yang telah disusun oleh Direktur Yuniorat.

Pada masa pandemi, jadwal yang ada ditinjau ulang dan disesuaikan dengan perubahan sesuai arahan Direktur Yuniorat.

Selain tugas membuat agenda harian, Romo Direktur Yuniorat juga menyusun peraturan yang harus ditaati untuk kepentingan bersama.

Peraturan yang ada ini lebih dimaknai sebagai kesepakatan hidup bersama. Kesepakatan tersebut kurang lebih mengatur tentang penggunaan gawai dan hal-hal lain yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Kehidupan di Yuniorat OMI

Seminari Menengah ini menjadi ajang latihan atau pembentukan diri sebelum menuju proses Pra-Novis yang lebih kompleks. Segala hal diatur untuk mendidik para yuniores.

Misalnya, bertemu keluarga atau kembali ke rumah masing-masing hanya diberi kesempatan setahun sekali, yakni saat liburan kenaikan kelas.

Frater Prasojo menjelaskan, tahun lalu semua yuniores tidak ada yang diperkenankan kembali ke daerah asalnya karena alasan pandemi, termasuk yang berasal dari Cilacap.

Laurentius Enggal yuniores Kelas 1 mengatakan belum banyak pengalaman yang ia peroleh selama satu tahun, namun lebih banyak suka yang ia rasakan dari pada duka.

Yuniores asal Karangkandri, Cilacap ini mengaku senang bisa hidup dalam komunitas secara bersama-sama. Menurutnya, awalnya penuh tantangan dan perlu penyesuaian.

“Dulu hancur pas awal, belum betah, belum saling kenal. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya satu sama lain saling mengenal, saling dukung, dan mencoba betah apa pun hal yang membuat terombang-ambing,” ujar Enggal.

Adit, yuniores kelas 2 menjelaskan sejak awal dirinya mencoba betah karena bisa masuk ke Yuniorat adalah keinginannya sejak dulu.

“Di sini kehidupan teratur. Belum tentu di luar aku bisa bagi waktu. Apalagi bagi aku yang cenderung malas dan suka menunda-nunda, cukup terbantu di sini,” ujar Yuniores asal Sepauk, Sintang, Kalimantan Barat ini.

Dalam menjalani hidup komunitas apalagi yang fokus pada panggilan Tuhan, tentu banyak tantangan dan pergumulan tersendiri.

Infografis: Tim

Fibo, yuniores kelas 3 asal Cilacap mengatakan bahwa dahulu dirinya juga sempat merasa ingin mundur. Namun, dengan keyakinan dan tekat yang kuat, semua keraguan berhasil ia singkirkan.

“Kalau kepikiran mundur pernah. Cuma selalu ada orang-orang yang mengingatkan, misalnya dengan bercanda hal-hal sepele, tapi bisa menguatkan,” ujar Fibo.

“Selain itu juga ingat teman-teman komunitas, terutama satu angkatan. Juga ke flashback masa lalu, banyak proses yang sudah dilewatkan. Masa, mau meninggalkan demi hasrat duniawi,” kata yuniores yang diterima di tahap Pra-Novis, Juni 2021 ini.

Dalam menjalani panggilan tentu ada tantangan dan pergumulan. Frater Prasojo berharap mereka tetap setia pada panggilan Tuhan dan terus-menerus memelihara hal tersebut dalam kasih Tuhan.

“Mantap memilih dan bertanggung jawab atas panggilan,” pungkas Frater Prasojo.*

Kontributor: Maria Fransiska Ayu Diva Yulita, Maria Friday Letisia, Maria Aufrida Ardhieawati,
Nicholas Feby Kurniawan (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

1 Comment
  1. Yunita Kristanti says

    Selamat menjalani panggilan tugasNya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.