Pendamping SEKAMI: Sarana Pelayanan, Pengembangan Iman dan Belajar

Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner (SEKAMI) merupakan wadah bina iman bagi anak dan remaja di Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

0 39

Katolikana.com—Pelayanan dalam gereja dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan menjadi pendamping Sekami untuk mengajarkan pendidikan iman sejak dini.

Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner (SEKAMI) merupakan wadah bina iman bagi anak dan remaja di Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

Sekami memberikan kesempatan kepada umat untuk menjadi pendamping anak-anak. Umumnya usia pendamping berkisar 17 hingga 60 tahun.

Sedangkan umur anak-anak yang berada dalam naungan Sekami, berusia sejak dari dalam kandungan sampai dengan remaja 14 tahun.

Vincentsius Ragung bersama anak-anak SEKAMI. Foto: Istimewa

Umat yang sudah berkeluarga juga sering mengajak anaknya yang baru berusia lima tahun untuk datang mengikuti kegiatan Sekami tiap minggu.

Temu dan pendampingan Sekami dilakukan setiap hari Minggu pukul 09.00 WITA, kecuali minggu kedua dalam bulan. Kegiatan akan diisi dengan nyanyian, pembahasan materi, dan permainan.

Menjadi pendamping Sekami tidak memerlukan dasar katekis, namun dapat didasari dengan niat dan kemauan untuk membimbing anak-anak serta mengabdi dalam gereja.

Meski tidak membutuhkan dasar katekis, menjadi pendamping bagi anak-anak Sekami tidaklah mudah. Pendamping harus memahami karakter anak-anak dan menyesuaikan cara mengajar.

Hal tersebut dirasakan oleh Vincentsius Ragung (52) selaku pengajar Sekami.

“Sebelum mendampingi Sekami, saya harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu dan memperhatikan kegiatan Sekami untuk memahami cara mengajar yang baik,” ungkap Vincentsius.

Pelatihan ini disebut dengan School of Missionary Animators (SOMA). Kegiatan pelatihan perlu diikuti oleh calon pendamping Sekami selama beberapa hari sebagai pembekalan diri pendamping.

“Kegiatan diisi dengan pengenalam tentang Sekami serta pelatihan terkait cara mengajar hingga bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak,” ujar Vincentsius.

Vincentsius telah mendampingi Sekami sejak tahun 2006 dan masih aktif membantu mengajar bila memiliki waktu senggang. Ia menyebutkan sebelum mendampingi terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.

Vinsentsius Ragung (kanan) bersama tim pendamping SEKAMI Katedral Denpasar. Foto: Istimewa

Proses Pendampingan Sekami

Sebelum melakukan temu Sekami di hari Minggu, para pendamping akan melaksanakan pertemuan yang diadakan setiap hari Kamis.

Pertemuan tersebut akan membahas simulasi kegiatan di hari Minggu mulai dari awal sampai pembagian kelas anak-anak. Simulasi juga dilakukan untuk membedah materi yang akan disampaikan.

Vincentsius mengatakan bahwa materi yang dibagikan oleh pendamping berdasar pada liturgi mingguan yang dibawakan dalam misa. Materi juga berbeda-beda mengikuti pedoman tahun liturgi yang digunakan.

“Materi akan berkaitan dengan bacaan liturgi pada hari Minggu, tetapi dibawakan dengan lebih ringan dan ditambahkan dalam bentuk permainan,” jelas Vincentsius.

Setiap minggu, salah satu pendamping akan ditunjuk untuk menjabarkan materi yang telah ditentukan. Namun sebelum itu, bahan materi pendamping harus dikonsultasikan kepada Romo Paroki.

Hal ini untuk memeriksa apakah materi sudah sesuai dan agar dapat meminimalisir kesalahan dalam kegiatan bina iman. Selain itu, seluruh pendamping juga memiliki buku paket yang menjadi acuan dalam mengajar.

“Buku paket itu isinya informasi tentang Sekami, tata cara mengajar, dan materi,” ungkap Vincentsius.

Mira Wangge. Foto: Istimewa

Generasi Pendamping Muda

Tak hanya dari kalangan orang tua, kalangan muda di Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar juga turut berperan dalam mendampingi Sekami. Salah satunya Mira Wangge (20) yang menjadi pendamping sejak usia 17 tahun.

Awalnya Mira adalah anak yang dibimbing dalam Sekami, namun setelah berusia 15 tahun dan sudah tidak digolongkan dalam Sekami. Mira pun tertarik untuk menjadi pendamping Sekami.

“Saya mulai memperhatikan cara untuk mendamping sejak usia 15 tahun, karena mengikuti kakak saya yang menjadi pendamping dan baru bisa terjun langsung di umur 17 tahun,” ucap Mira.

Mira menyebutkan bahwa jumlah anak muda yang mendampingi Sekami sudah cukup banyak dan beberapa berasal dari anggota Orang Katolik Muda (OMK) gereja Katedral.

“Jumlah anak muda yang aktif mendampingi lumayan banyak, jadi seimbang sama yang orang tua,” kata Mira.

Mira menambahkan, meskipun memiliki banyak pendamping muda, Sekami tetap membutuhkan bantuan dari orang muda Katolik untuk menjadi generasi penerus.

Bagi Mira, Sekami tidak hanya menjadi sarana untuk pelayanan, tetapi juga menjadi tempat untuk mengembangkan iman dan belajar.

“Saya belajar banyak dari Sekami, terutama pelajaran tentang hidup dan bagaimana berkomunikasi yang baik,” jelas Mira.

Mira Wangge Mengajar Sekami. Foto: Istimewa

Terdapat berbagai hal lain yang Mira pelajari melalui Sekami dan pengalaman tersebut sangat berkesan baginya. Ia juga menambahkan bahwa orang muda patut berperan dalam pelayanan Sekami.

Mengingat orang muda dapat lebih mudah beradaptasi dan cepat tanggap. Selain itu, orang muda dapat memberikan ide dan kreativitas baru dalam mengajar anak-anak Sekami.

Sekami pun mengajak dan merangkul umat, khususnya pemuda dan pemudi gereja melakukan pelayanan dengan menjadi pendamping anak-anak.*

Kontributor: Maria Fransiska Ayu Diva Yulita, Maria Friday Letisia, Maria Aufrida Ardhieawati,
Nicholas Feby Kurniawan (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.