Covid-19: Serikat Jesus di India Alami Jumlah Kematian Terbesar

Pandemi Covid-19 telah merenggut 3 uskup, 125 iman diosesan dan 131 imam biarawan, 9 bruder dan 248 suster (total 516 orang).

0 33

Katolikana.com—Anggota Serikat Jesus menderita jumlah kematian Covid-19 terbesar di antara para imam Katolik di India.

“Terlepas dari niat baik dan upaya kami, kami kehilangan sekitar 37 anggota Jesuit karena Covid-19 tahun ini,” kata Pastor Stanislaus D’Souza, presiden Konferensi Jesuit Asia Selatan kepada Matters India pada Kamis (10/6/2021).

Pastor Stanislaus D’Souza, presiden Konferensi Jesuit Asia Selatan. Foto: mangalorean.com

Matters India melaporkan, menurut daftar yang disusun oleh Pastor Suresh Mathew Kapusin, editor mingguan Indian Currents, hingga Jumat (11/6/2021), pandemi Covid-19 telah merenggut 3 uskup, 125 iman diosesan dan 131 imam biarawan, 9 bruder dan 248 suster (total 516 orang).

Pada hari yang sama, India mencatat 29.331.030 kasus Covid-19 dan 367.325 total kematian.

Kasus Covid-19 pertama di India dilaporkan di Kerala pada 30 Januari 2020, dan kematian pertama terjadi pada 12 Maret tahun itu di Karnataka.

Di Gereja Katolik, Pastor Pascal Petrus, 70, dari Keuskupan Agung Madras-Mylapore adalah imam pertama yang meninggal karena Covid-19 pada 30 Mei 2020.

Korban pertama Jesuit adalah Pastor Joseph L Pragasam, 83, yang meninggal 3 Juli 2020, di Madurai, Tamil Nadu.

Menurut daftar yang disusun oleh Pastor Mathew, sebanyak 44 orang anggota Jesuit meninggal dunia, tertinggi di antara kelompok imam dan biarawan.

Sementara anggota Missionaries of Charity dari Mother Teresa terdapat 19 orang suster yang meninggal dunia, tertinggi di antara kelompok biarawati.

Pastor D’Souza menyayangkan bahwa sebanyak 29 anggota yang meninggal karena Covid19 berusia antara 50-70 tahun, kelompok usia paling aktif dan bekerja di antara para Jesuit setelah pelatihan dan studi yang panjang.

“Hampir semua memiliki penyakit penyerta: beberapa masalah yang berkaitan dengan jantung, otak dan ginjal, beberapa lainnya kanker dan diabetes, namun yang lain adalah pasien tekanan darah tinggi (blood pressure). Karena itu, masalah kesehatan menimbulkan komplikasi,” jelasnya.

Beberapa, lanjutnya, membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa mereka menderita Covid-19 dan menunda pengobatan mereka.

“Beberapa mengalami kesulitan menemukan rumah sakit yang tepat,” tambahnya.

Dengan lebih dari 4.000 anggota, Jesuit melayani Asia Selatan melalui 19 provinsi dan dua wilayah.

Saat gelombang kedua melanda negara itu, Pastor D’Souza mengirimkan dua surat ke semua provinsi untuk mengurus para Jesuit dan orang-orang yang mereka layani.

“Pertemuan tingkat provinsi diadakan untuk membahas, membedakan dan sampai pada beberapa keputusan konkret untuk menghadapi kemungkinan ancaman,” tambahnya.

Dia mengatakan, otoritas Jesuit di India memutuskan untuk menangani penyakit di antara orang-orang yang mereka layani.

Untuk itu, mereka membentuk Conference Covid Relief Fund untuk membantu provinsi-provinsi miskin di Asia Selatan dan Disaster Management Committee (DMC) di setiap provinsi.

DCM bergerak di sejumlah provinsi dan melakukan intervensi pada tingkat yang berbeda untuk menyelamatkan orang, termasuk para Jesuit, kata pimpinan Jesuit itu.

Pusat Peduli Covid mendistribusikan perlengkapan medis dan bahan makanan kepada keluarga terdampak Covid dan mereka yang membutuhkan makanan karena lockdown.

Para Jesuit juga mengumpulkan dana dan mendistribusikannya ke enam provinsi, satu rumah bersama dan dua rumah sakit untuk menghadapi ancaman.

Sejumlah provinsi bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah serta lembaga terkait Gereja.

“Pekerjaan baik berlanjut di tingkat yang berbeda,” kata Pastor D’Souza.

Ordo Serikat Jesus juga membentuk Satgas Covid untuk memantau pekerjaan terkait Covid di provinsi.

“Gugus tugas akan segera menyerahkan laporannya tentang pekerjaan yang dilakukan selama ini dan mengusulkan jalan ke depan,” tambahnya.

Pastor Joseph Xavier, direktur Institut Sosial India yang dikelola Jesuit di Bengaluru, prihatin dengan jumlah Jesuit yang bekerja maksimal yang sekarat dalam gelombang kedua pandemi.

Namun, dia menyatakan keyakinannya bahwa “pekerjaan baik yang ditinggalkan oleh orang-orang ini akan terus berlanjut tanpa gangguan karena para Jesuit sangat berkomitmen untuk berkolaborasi dan berjejaring.”

Kapitel Umum ke-36 Jesuit pada Oktober 2016 telah mengamanatkan mereka untuk meluncurkan kolaborasi dan jaringan yang kuat dengan orang-orang yang berkehendak baik.

“Jadi misi Serikat Jesus adalah misi kolaboratif semua,” kata Pastor Xavier kepada Matters India.

Pastor D’Souza juga mengungkapkan optimisme. “Saya pikir kita lebih siap sekarang untuk menjaga orang-orang kita dan orang-orang yang kita layani. Namun, sebagai orang beriman, kita melakukan yang terbaik dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan.” **

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); delegatus Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Palembang; pengelola Tabloid Komunio dan Majalah Fiat milik Keuskupan Agung Palembang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.