‘Ridvania’ akan Melahirkan Kampung Inggris di Klaten

Budhe, itulah panggilan akrab anak-anak RW 14 Padukuhan Gajihan Klaten kepada Rika Aminah Sijaya.

0 230

Katolikana.com—Setelah melanglang buana ke Ghana dan Timor Leste, sejak Januari 2021, Rika Aminah Sijaya berpindah ke RT 46 RW 14, Padukuhan Gajihan, Pandes, Wedi, Klaten.

“Selama ini selalu hidup di kota, sekarang ingin merasakan kehidupan di desa di mana selalu dapat melihat pegunungan dan persawahan,” ujar perempuan kelahiran Makasar, Sulawesi Selatan yang aktif di Komunitas Baha’i dan Komunitas Suling Bambu Nusantara (KSBN) ini.

Rika Aminah Sijaya membawa cita-cita yang pernah terajut sejak di Ghana, Afrika dan Tasitolu, Timor Leste, yaitu membangun Taman Baca, Belajar, dan Bermain Ridvania.

Ridvania secara etimologi berasal dari kata ‘ridwan’ yang berarti ‘surga’. Rika memilih Ridvania sebagai ekspresi yang menegaskan eksistensi perempuan dalam kepedulian terhadap minat baca anak-anak sejak usia dini.

“Ridvania adalah salah satu social action yang kami lakukan untuk membantu masyarakat. Tujuannya membantu anak-anak yang sudah dua tahun ini tidak bersekolah yang hampir seluruh waktunya ke gawai.”

“Dengan adanya Taman Baca ini setidaknya satu sampai dua jam anak-anak istirahat dari kebiasaannya dan kembali ke buku, pekerjaan tangan, atau bermain,” paparnya.

Rika Aminah Sijaya, yang biasa dipanggil Budhe, berswafoto di Taman Baca Ridvania. Foto: Istimewa

Tertarik dengan Community Library

Ketika berada di Ghana, Afrika, Rika tertarik dengan komunitas perpustakaan. Hal itu juga tidak terlepas dari pola pembentukan kebiasaan kepada anak-anak dalam mencintai buku.

“Ketiga anak saya semuanya lahir di Ghana. Ketika berumur 5-10 tahun, mereka sudah pintar baca. Saya selalu memberikan mereka buku. Walaupun buku-buku itu dirobek, saya plester lagi. Saya tidak pernah membelikan mainan. Kalau mereka mendapatkan mainan, itu pasti teman-teman saya.

Setiap minggu saya membawa mereka ke perpustakaan kota. Sampai sekitar dua-tiga tahun mereka bilang, ‘Ini buku ini sudah berulang kami baca. Kami mau baca buku baru.’ Kemudian saya cari perpustakaan lain.

Akhirnya ia menemukan sebuah community library di suatu pelosok kampung dan saya membawa mereka ke sana. Di situlah awal ketertarikan saya kepada community library.

Perpustakaan itu dikelola oleh masyarakat. Lahan tanah dari warga yang  kemudian dibeli oleh seorang Ibu. Lalu dia membangun rumah dan mendatangkan buku-buku cerita dari Amerika,” kisah Rika.

Kekaguman Rika makin bertambah ketika menemukan bahwa pengelola perpustakaan itu adalah pemuda-pemudi kampung setempat dan pengunjung perpustakaan itu pun anak-anak di kampung itu.

“Saya melihat anak-anak muda membuat program seperti menggambar dan  melukis. Hal itu sangat mendukung anak-anak setempat tertarik untuk datang membaca buku di perpustakaan,” tambah Rika.

Pengalaman di Timor Leste

Rika sangat berminat untuk membuat komunitas perpustakaan sendiri. Namun belum terwujud karena ia dan keluarga pindah ke Timor Leste.

“Di sana saya bertemu seorang teman yang juga punya hasrat bekerja sama mengaktifkan anak-anak muda di situ. Kami diberi satu rumah untuk perpustakaan dan memberdayakan anak-anak di situ.”

Ketika itu, Timor Leste sering mendapatkan donasi dari berbagai negara. Rika pun berinisiatif membantu anak-anak membuat proposal untuk dikirim ke kedutaan Australia.

“Kebetulan waktu itu Kedutaan Australia membantu banyak kegiatan masyarakat. Melalui proposal itu mereka mendapatkan bantuan alat musik, televisi, CCTV, dan lain-lain,” kenang Rika.

Rika juga bekerja sama dengan sekolah serta rumah siswa untuk berdialog tentang kehadiran perpustakaan dan aneka upaya pemberdayaan anak-anak di daerah Tasitolu, Timor Leste.

“Kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Saya menghadap Kepala Sekolah dan mengatakan murid-murid selesai pulang sekolah atau liburan bisa pergi ke perpustakaan. Saya juga menemui orang tua mereka. Mereka menunjang sehingga menjadikan perpustakaan ramai,” ujar Rika.

Selain bergerak di bidang manajemen, Rika juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan keterampilan yang dirancang bersama pemuda-pemudi Timor Leste sebelum akhirnya pindah ke Indonesia.

“Kami membuat beberapa aktivitas keterampilan. Kebetulan saya mempunyai beberapa keterampilan yang bisa dibagikan kepada pemuda-pemudi di Tasitolu, Dili, Timor Leste. Mereka akhirnya mampu mandiri dan mengelola sendiri.

Tasitolu adalah daerah pantai, jadi sangat menarik. Ketika ke Jogja untuk mengunjungi anak-anak karena mereka sekolah di Yogyakarta, saya pergi ke Malioboro untuk melihat kerajinan-kerajinan tangan yang dijual sebagai suvenir khas Jogja.

Saya foto, terus saya bawa ke Timor Leste dan belajar bersama mereka untuk membuat kerajinan tangan itu secara mandiri,” papar Rika.

Ridvania Community Library

Setelah melewati kesepakatan bersama Dukuh, Ketua RT, Ketua RW, dan tokoh-tokoh masyarakat Padukuhan Gajihan, Pandes, Wedi, Klaten, Ridvania mulai menghimpun anak-anak RW 14 Padukuhan Gajihan sejak 19 Mei 2021.

Peserta Tanam Baca adalah siswa kelas 2-6 Sekolah Dasar. Hingga Agustus 2021, jumlah anak-anak yang terdaftar sekitar 30 anak.

Kegiatan membaca, belajar dan bermain dimulai dari pukul 12.00-15.00. Ridvania bukan saja fokus pada kegiatan membaca, namun ada juga aktivitas belajar dan bermain.

Anak-anak yang datang diwajibkan membaca dua hingga tiga buku terlebih dahulu. Setelah itu, mereka melakukan aktivitas seperti: belajar Bahasa Inggris, bermain angklung, suling, menggambar, mewarnai, melipat, mencetak.

Mereka juga membuat pekerjaan tangan (daur ulang), seperti mengolah kertas menjadi kalung, alas piring atau kardus untuk wadah pensil.

Menurut Rika, kebanyakan anak-anak itu orang tuanya bekerja sebagai pedagang di Pasar Wedi. Jadi sejak pagi hingga malam mereka ditinggalkan orang tua mereka. Beberapa tinggal bersama nenek di rumah.

Melihat keresahan anak-anak akan kehilangan pendampingan orang tua dalam proses belajar, Rika makin teguh dengan kehadiran Ridvania sebagai rumah bagi anak-anak bertumbuh dan mekar.

“Saya ini masih dalam tahap bagaimana mengubah pemikiran orang tua bahwa membaca itu penting untuk anak-anak. Jika orang tua berjualan di pasar berarti harapan ke depan, anaknya bisa melanjutkan pekerjaan orang tuanya.”

“Ini yang mau saya ubah. Supaya anak-anak setidaknya ada waktu untuk suka buku. Jika anak-anak suka buku, akhirnya mau baca, akhirnya cinta buku melekat ke mereka dan pemahaman meningkat,” tambahnya.

Minat baca anak-anak sudah mulai tumbuh. Hal ini dapat dibuktikan dengan permintaan anak-anak agar bisa membaca buku-buku sastra seperti kumpulan puisi, komik, dan novel remaja.

 “Anak-anak minta buku-buku puisi, komik, novel-novel remaja. Novel-novel di sini semuanya berbahasa Inggris. Ada banyak teman yang mau menyumbang buku. Ada juga yang menyarankan untuk membuat proposal untuk pengajuan pengadaan buku. Tapi saya takut nanti buang-buang buku, lalu tidak ada pembaca.”

Kampung Inggris

Rika berharap suatu saat Padukuhan Gajihan akan menjadi Kampung Inggris.

“Saya mau anak-anak serius dan dapat dukungan dari orang tua agar Kampung ini bisa jadi Kampung Inggris. Mereka masih di Sekolah Dasar. Kalau mereka serius belajar Bahasa Inggris, misalnya satu hari lima kata, satu bulan sudah dapat 150 kata, apalagi satu tahun.”

Rika sedang melakukan riset untuk mempelajari hubungan antara anak-anak dengan orang tua yang sibuk jualan di pasar sepanjang hari.

Di tengah pencarian itu, Rika mengumpulkan karya anak-anak agar suatu saat dipamerkan pada sebuah festival sehingga bisa dilihat oleh orang tua mereka.**

Kontributor: Kornelis Mauk, anggota Katolikana Muda.

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.