Endarto Perkenalkan Batik pada Anak Muda

Endarto mulai mengenal dan mempelajari batik sejak usia 15 tahun.

0 178

Katolikana.comBatik salah satu warisan budaya yang kini mulai luntur. Endarto, seniman batik asal Yogyakarta, memiliki niat mulia menjadi guru demi melestarikan warisan budaya batik kepada anak muda.

“Kalau membatik sudah dari SMP saat berusia 15 tahun,” kata Endarto, seniman sekaligus owner dan guru batik, Selasa (12/10/2021).

Faktor lingkungan tempat tinggal menjadikan Endarto sejak kecil tertarik dan belajar seni membatik.

Tak heran, hingga kini Endarto banyak menerima pesanan batik dan permintaan  workshop di rumah serta pelatihan batik kepada masyarakat.

“Kesibukan saat ini menyiapkan desain-desain baru untuk menyongsong tahun 2022 dan memproduksi seragam pemda di luar Jawa,” kata Endarto.

“Saya memberikan pelatihan kepada UKM binaan dinas perindustrian dan perdagangan,” lanjut Endarto.

Hidup menjadi seniman, owner batik, dan guru dijalankan oleh Endarto seperti air mengalir.

Semua dijalani berbarengan, sambil menikmati proses dan hasilnya. Bagi Endarto, ia lakukan semua itu dengan keyakinan dan dengan niat ibadah.

Jenis batik yang dikenalkan Endarto melalui pelatihan atau workshop adalah batik klasik dengan canting dan batik kontemporer atau batik abstrak.

Batik klasik canting (kiri) dan batik kontemporer atau abstrak kuas (kanan). Foto: Instagram

“Jenis batik yang diajarkan tergantung permintaan. Kalau kawula muda biasanya belajar batik kontemporer karena lebih mudah dan efisien. Kalau dikasih klasik mungkin jenuh. Jadi, alternatif yang bagus supaya peserta workshop mudah memahami karena teknik yang sederhana,” jelas Endarto.

Menurut Endarto, alasan anak muda lebih suka dengan batik kontemporer yaitu karena waktu pembuatan yang cepat dan proses pembuatan yang simpel.

Cara Pembuatan Batik Kontemporer

  1. Siapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan meliputi canting, kuas, wajan kecil, kompor listrik, dan kain polos. Bahan yang digunakan yakni malam (lilin batik), HCL, dan pewarna batik.
  2. Lelehkan lilin batik, lalu oleskan lilin tadi menggunakan kuas ke atas kain polos, dan bentuk sesuai pola yang diinginkan. Jika sudah, angin-anginkan kain tersebut supaya lilin mengering.
  3. Jika sudah kering, berikan pewarna batik menggunakan kuas cat sesuai selera warna yang di Lalu angin-anginkan supaya kering sehingga jika diberi warna lagi, warna yang sebelumnya tidak luntur.
  4. Jika ingin menambah motif dan pewarna, bisa mengulangi langkah nomor 2 dan 3. Bisa juga ditambahkan motif esen-esen batik menggunakan canting.
  5. Kain yang sudah kering bisa langsung dikunci dengan menggunakan larutan HCL. Tujuannya supaya ketika kain dilorot (direbus untuk menghilangkan lilin) dan dicuci tidak luntur.
  6. Kain dijemur di bawah terik matahari, namun tak boleh terlalu lama karena kain bisa sobek.
  7. Kain direbus (proses pelorotan) guna menghilangkan lilin.
  8. Jika lilin sudah meleleh/lorot, kain dicuci menggunakan air mengalir dan dijemur di bawah matahari sampai kering.
  9. Kain siap dijahit.

Proses ini memang terlihat panjang. Namun, ketika langsung praktik, jauh lebih sederhana daripada membuat batik tradisional atau batik lukis.

Aksi Endarto memperkenalkan batik ke anak muda di salah satu sekolah di Yogyakarta bisa dikatakan efektif dan berhasil. Hal ini terlihat pada foto yang diunggah Endarto diakun Instagram @endartobatikcecek.

Di situ terlihat banyak pameran batik yang menampilkan batik hasil karnya anak didik Endarto.

Pameran juga menampilkan batik hasil karya Endarto. Batik karya Endarto adalah batik tradisional. Cara membuatnya menggunakan canting.

Setiap batik yang dibuat Endarto memiliki makna. Bahkan ada beberapa batik yang dibuat seperti cerita dari batik yang satu ke batik yang lain.

Untuk memproduksi batik dalam jumlah besar, Endarto dibantu beberapa tim, kebanyakan ibu rumah tangga.

“Biasanya ibu rumah tangga memiliki waktu luang daripada bapak atau anak. Ibu-ibu tersebut ada yang merupakan anggota workshop atau dari UMKM kecil-kecilan,” pungkas Endarto.

Kontributor: Joshua Stefanuslee, Benedikta Ave Martevalenia, Yohana Reni A, Calvin Jordan. ( Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.