Puasa Sebelum Menyambut Komuni, Seperti Apa?

Puasa merupakan latihan kerendahan hati, pengharapan dan kasih yang kita butuhkan dalam mempersiapkan diri menyambut Ekaristi Kudus.

0 813

Katolikana.com—Kitab Hukum Kanonik 919 menyatakan: “Yang hendak sambut Ekaristi mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.”

Menurut Romo William P. Saunders, sesungguhnya peraturan ini merupakan refleksi dari tradisi kuno dalam Gereja kita, yang bahkan berasal dari tradisi Yahudi.

Kisah Para Rasul 13:2 menjadi bukti tentang hal berpuasa sehubungan dengan liturgi. Praktik puasa yang lebih teratur sebelum menyambut Komuni Kudus muncul dalam Gereja setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313.

Santo Agustinus menegaskan adanya praktek puasa ini dalam tulisan-tulisannya. Tentu saja, ketentuan-ketentuan puasa mengalami perubahan dan perkembangan seiring berjalannya waktu.

Sebelum 1964, puasa untuk menyambut Komuni Kudus dimulai tengah malam. Paus Paulus VI, pada 21 November 1964 mengurangi tenggang waktu puasa hingga satu jam saja. Dalam peraturan ini terdapat dua pengecualian:

Pertama, jika seorang imam merayakan lebih dari satu Misa pada hari yang sama, seperti yang biasa terjadi pada hari Minggu, imam hanya terikat satu jam puasa sebelum Misa yang pertama.

Imam diperbolehkan makan dan minum sesuatu untuk menjaga stamina di antara misa yang akan dipersembahkannya, meski pun tidak penuh satu jam puasa sebelum ia menyambut Komuni Kudus berikutnya.

Kedua, mereka yang lanjut usia (usia 60 tahun ke atas) atau sakit, maupun mereka yang merawatnya, dapat menyambut Komuni Kudus meski pun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu.

Misalnya, mereka yang di rumah sakit dan tidak dapat mengatur jadwal mereka sendiri dan sedang makan atau baru saja selesai makan ketika dikunjungi oleh imam atau pelayan komuni kudus.

Menurut dokumen Immensae Caritatis (1973), jangka waktu puasa sebelum menyambut Komuni Kudus dikurangi hingga ‘kurang lebih seperempat jam’ bagi:

  • mereka yang sakit di rumah atau pun di rumah sakit,
  • mereka yang lanjut usia yang dirawat di rumah atau pun di panti werdha,
  • mereka yang merawat orang-orang tersebut dan tak mungkin sempat memperhatikan waktu puasa mereka sendiri.

Mengapa Wajib Puasa?

Santo Paulus mengingatkan kita, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (II Kor 4:10)

Kita wajib mengubah seluruh hidup kita—tubuh dan jiwa—serupa dengan Kristus. Proses mengubah diri ini menyangkut mati raga—termasuk mati raga jasmani seperti berpuasa—demi dihapusnya dosa-dosa dan kelemahan kita. Dengan demikian mati raga akan memperkuat serta menyembuhkan kita.

Paus Paulus VI dalam konstitusi apostoliknya Paenitemini (1966) mendorong umat beriman dengan mengatakan: “Mati raga bertujuan untuk ‘memerdekakan’ manusia, yang seringkali mendapati dirinya, karena kecenderungan akan dosa, hampir terbelenggu oleh nafsu-nafsunya sendiri.

Melalui ‘mati raga jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya dan luka-luka yang timbul akibat  sifat  dasar manusia karena kurangnya penguasaan diri disembuhkan oleh obat pantang yang bermanfaat.”

Berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus jasmani akan Kristus, yang akan makin membangkitkan rasa lapar dan haus rohani yang sepantasnya kita miliki.

Dalam Perjanjian Lama, puasa mempersiapkan orang untuk menerima kehadiran Allah dan berada di hadirat-Nya.

  • Musa berpuasa empat puluh hari empat puluh malam lamanya di atas gunung Sinai sementara ia menuliskan Kesepuluh Perintah Allah (Kel 34:28).
  • Elia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam lamanya sementara ia berjalan ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (I Raj 19:8).
  • Yesus berpuasa empat puluh hari empat puluh malam lamanya sementara Ia mempersiapkan Diri memulai pewartaan-Nya di hadapan orang banyak (Mat 4:1 dst). Yesus juga menganjurkan kita untuk berpuasa (Mat 6:16-18).
Dalam Perjanjian Lama, puasa mempersiapkan orang untuk menerima kehadiran Allah dan berada di hadirat-Nya.

Demikianlah usaha jasmani ini memurnikan kehendak baik rohani yang kita butuhkan dalam menyambut Kristus dalam Sakramen Ekaristi.

Kita berpuasa untuk tidak ‘merusak selera kita’ melainkan meningkatkannya sementara kita ikut  ambil bagian dalam perjamuan paskah.

Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).

Pada akhirnya, berpuasa merupakan latihan kerendahan hati, pengharapan dan kasih—kebajikan-kebajikan pokok—yang kita butuhkan dalam mempersiapkan diri menyambut Ekaristi Kudus.

Menurut Romo William P. Saunders peraturan ini tidak berarti bahwa kita harus berhati-hati secara berlebihan dan menghitung-hitung setiap detik. Romo William P. Saunders menceritakan pengalamannya berikut:

Saya teringat ketika sedang merayakan Misa bersama seorang imam yang baru saja makan setengah jam sebelum perayaan Misa.
Ia sangat khawatir bahwa ia tidak akan dapat memenuhi satu jam masa puasa sebelum menyambut Komuni Kudus.
Ia menyetel jamnya untuk waktu satu jam, melambungkan doa-doa, dan tetap berdiri di altar sementara saya membagikan Komuni Kudus kepada umat seluruhnya hingga selesai, dan ia menanti menit-menit berlalu.
Kita tidak hendak bersikap teledor dan sembrono, tetapi kita juga tidak  hendak bersikap hati-hati secara berlebihan. Jika masih ragu, coba pikirkan akan kebajikan menyambut Komuni Kudus yang melampaui nilai ‘satu jam waktu puasa’.

Jangan teledor dan sembrono. Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae (1980) menyesali timbulnya masalah karena sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut Komuni Kudus, bahkan dalam keadaan dosa berat.

Bapa Suci mengatakan: “Sesungguhnya, yang seringkali didapati ialah sangat kurangnya perasaan tidak layak diri sebagai akibat dari kurangnya hasrat hati, jika dapat dikatakan, kurangnya rasa ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang merupakan tanda akan kurangnya kepekaan yang pantas terhadap sakramen kasih yang luar biasa ini dan kurangnya pemahaman tentangnya.”

Wajiblah kita mengusahakan persiapan iman sebaik-baiknya dalam mempersiapkan diri menyambut Kristus secara pantas.

Berpuasa sebelum menyambut Ekaristi membantu kita dalam mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus secara keseluruhan—tubuh dan jiwa.

Mati raga jasmani ini memperkuat fokus rohani kita kepada Kristus, sehingga kita dapat dengan rendah hati bersatu dengan Juru selamat ilahi yang menawarkan Diri-Nya Sendiri bagi kita.

Aturan Puasa Sebelum Komuni

Menurut Scott P. Richert, aturan saat ini diperkenalkan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964, dan ditemukan dalam Kanon 919 dari Hukum Kanonik:

  1. Seseorang yang akan menerima Ekaristi Mahakudus adalah abstain paling tidak satu jam sebelum persekutuan kudus dari makanan dan minuman apa pun, kecuali hanya air dan obat-obatan.
  2. Seorang imam yang merayakan Ekaristi Suci dua atau tiga kali pada hari yang sama dapat mengambil sesuatu sebelum perayaan kedua atau ketiga bahkan jika ada kurang dari satu jam di antara mereka.
  3. Orang tua, orang yang lemah, dan mereka yang merawat mereka dapat menerima Ekaristi Mahakudus bahkan jika mereka telah memakan sesuatu dalam satu jam sebelumnya.

Pengecualian: Orang Sakit, Lansia, dan Mereka yang Merawat Mereka

Lansia didefinisikan sebagai 60 tahun atau  lebih  tua. Kongregasi Sakramen menerbitkan dokumen Immensaecaritatis pada 29 Januari 1973, yang memperjelas ketentuan puasa sebelum Komuni untuk ‘orang yang lemah, dan mereka yang merawat mereka’:

Untuk memberi pengakuan kepada martabat sakramen dan untuk membangkitkan sukacita pada kedatangan Tuhan, adalah baik untuk mengamati periode diam dan rekoleksi.

Itu adalah tanda pengabdian dan rasa hormat yang cukup pada bagian orang yang sakit jika mereka mengarahkan pikiran mereka untuk jangka waktu singkat ke misteri besar ini.

Lamanya puasa Ekaristi, yaitu pantang dari makanan atau minuman beralkohol, berkurang menjadi sekitar seperempat jam untuk:

  1. Orang sakit di fasilitas pelayanan kesehatan atau di rumah, bahkan jika mereka tidak terbaring di tempat tidur.
  2. Orang yang setia pada tahun-tahun lanjut, apakah mereka dikurung di rumah mereka karena usia tua atau tinggal di rumah bagi yang lanjut usia;
  3. Imam yang sakit, bahkan jika tidak terbaring di tempat tidur, dan imam tua, dalam hal merayakan Misa dan menerima komuni;
  4. Orang-orang yang merawat, serta keluarga dan teman-teman dari orang-orang sakit dan lanjut usia yang ingin menerima persekutuan dengan mereka, kapan saja orang-orang semacam itu tidak dapat menjaga puasa satu jam tanpa ketidaknyamanan.

Hitungan Satu Jam

Kebingungan yang sering terjadi adalah ketika jam dimulai untuk perayaan Ekaristi. Satu jam yang disebutkan di Kanon 919 bukanlah satu jam sebelum Misa, tetapi—seperti yang dikatakan—satu jam sebelum komuni suci.

Itu tidak berarti kita harus mengambil stopwatch ke gereja atau mencoba untuk mencari tahu titik paling awal di mana komuni akan didistribusikan pada Misa dan waktu sarapan kami berakhir tepat 60 menit sebelum itu.

Perilaku seperti itu kehilangan titik puasa sebelum Komuni. Kita ditakdirkan untuk menggunakan waktu ini untuk mempersiapkan diri kita untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus dan untuk mengingatkan kembali pengorbanan besar yang diwakili sakramen ini.

Memperpanjang Puasa Ekaristi

Sungguh bagus untuk memilih memperpanjang Ekaristi jika Anda mampu melakukannya. Yesus mengatakan: “Karena dagingku adalah makanan yang benar, dan darahku adalah minuman yang benar.” (Yohanes 6:55).

Hingga tahun 1964, umat Katolik biasanya berpuasa mulai tengah malam ketika menerima Komuni, dan dari zaman para rasul yang telah mencoba, jika memungkinkan, untuk menjadikan Tubuh Kristus sebagai makanan pertama mereka hari itu.

Bagi kebanyakan orang, puasa seperti itu tidak akan menjadi beban yang luar biasa, dan itu mungkin membawa kita lebih dekat kepada Kristus dalam sakramen-sakramen yang paling suci ini.**

Kontributor: Helena br Tarigan (Anggota Katolikana Muda)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.