‘First Reformed’, Kisah Orang Beriman Bergumul dengan Fenomena Kontemporer

Film 'First Reformed' (2017) berbicara tentang ketakutan dan keputusasaan.

0 312

Katolikana.com—Mahasiswa Tingkat V (semester II) Magister Teologi STFK Ledalero mengadakan nonton bareng film First Reformed di Kantin STFK Ledalero, Jumat (19/2/2022). Kegiatan ini merupakan salah satu bagian integral dari Matakuliah Pilihan “Konseling Pastoral” yang diampu oleh Pater Maximus Manu, SVD.

Sebelum menonton, Pater Maxi menguraikan alur film First Reformed. Selain untuk kepentingan perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu membuat konseling pastoral berkonteks dan mampu menolong umat Allah yang dilanda masalah dalam hidupnya.

Mahasiswa Tingkat V (semester II) Magister Teologi STFK Ledalero mengadakan nonton bareng film First Reformed di Kantin STFK Ledalero, Jumat (19/2/2022). Foto: Kris Ibu

Melihat Fenomena Kontemporer

First Reformed ditulis oleh Paul Schrader. Film yang dirilis tahun 2017 ini mengisahkan pergulatan seorang pendeta Protestan bernama Ernst Toller yang diperankan oleh Ethan Hawke. Pendeta Ernst Toller adalah pendeta di First Reformed Church yang bersejarah di bagian utara New York.

Pada suatu sesi, seorang anggota gereja bernama Mary (diperankan oleh Amanda Seyfired) datang menemui Toller untuk meminta bantuan. Mary prihatin dengan kondisi mental suaminya, Michael (diperankan oleh Philip Ettinger).

Saat itu, Mary hamil dan Michael cemas anaknya akan lahir di tengah dunia yang menampilkan wajah kerusakan ekologis yang menjadi-jadi.

Hal ini beralasan, Michael adalah seorang pencinta lingkungan hidup yang fanatik. Michael pun menganjurkan agar Mary menggugurkan anak mereka.

Sebagai seorang pecinta lingkungan yang fanatik, Michael bertanya kepada Pendeta Toller: “Akankah Tuhan mengampuni kita karena menghancurkan ciptaan-Nya?”

Sebagai seorang profesional, Pendeta Toller mencoba memberikan bimbingan konseling yang berarti bagi Michael.

Namun sayang, dalam bagian berikut film ini, Michael mati mengenaskan di tengah hutan. Mungkin bunuh diri.

Pendeta Toller adalah orang yang setia menulis jurnal harian. Di sana ia melukiskan seluruh hidup dan pergulatannya. Dia merasa hancur setelah mendorong putranya yang tentara untuk pergi ke Irak dan terbunuh disana. Setelah itu, pernikahan Toller yang semula bahagia ikut runtuh.

Di tengah situasi masalah pribadi dan penyakit yang dideritanya, Toller tetap setia menjadi seorang yang merenungi hidupnya.

Di tengah ketidakadilan sosial di mana yang kuat-berkuasa menindas yang miskin, kerusakan lingkungan yang tragis, egoisme diri untuk menguasai orang lain (homo homini lupus) yang melanda dunia, pendeta Toller mengajak kita untuk merenungi hidup, melihat fenomena.

Kita diajak masuk ke kedalaman diri dan menyadari betapa kita telah melukai hati Allah secara nyata lewat melukai sesama dan merusak alam sekitar. Singkatnya, aktus merenung membawa kita untuk melihat fenomena kontemporer yang ada dalam realitas hidup.

Ada begitu banyak cara dalam hal melihat. Melihat yang melulu dangkal, tidak menangkap kedalaman dan arti sesungguhnya dari suatu fenomena dan kejadian.

Bagi Kitab Suci, melihat secara benar berarti melihat dengan mata hati. Penegasan Pangeran kecil dari Antoine de Saint-Exupery menjadi berkonteks di sini: orang hanya melihat baik dengan hati (Martin Maier, Oscar Romero, penerj. Fidelis Regi Waton SVD, hlm, 103).

Akhirnya, melihat mesti dipahami sebagai suatu proses mencari kehendak Allah yang ada lewat tanda-tanda zaman.

Lewat pembacaan atas film First Reformed di tengah realitas dunia yang tak beraturan dewasa ini, kita diajak untuk melihat secara baru fenomena aktual melalui hati yang jernih, sembari menawarkan alternatif kreatif yang memungkinkan hidup lebih menjunjung tinggi kesejahteraan bersama (bonum commune).**

Alumnus STFK Ledalero, Maumere, Tinggal di Maumere

Leave A Reply

Your email address will not be published.