PKM STFK Ledalero Maumere (2): Selesaikan Masalah Sampah di Desa Wisata Koja Doi

Salah satu hal unik di Desa wisata Koja Doi adalah terapi batu.

0 152

Katolikana.com—Dosen Pengampu Matakuliah Pastoral Konseling Pastor Maximus Manu, SVD bersama 20 mahasiswa pascasarjana STFK Ledalero Maumere melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Desa Koja Doi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Sabtu-Minggu (7-8/5/2022).

Seusai makan malam, Pater Maxi, Camat, Kepala Desa, Kepala Dusun, Bhabinkamtibmas, para mahasiswa, masyarakat, dan remaja berkumpul di lopo-lopo yang telah disediakan untuk melakukan kegiatan dialog dan sharing antarumat beragama.

Tema yang diangkat dalam diskusi ini, yakni “Sampah dan Penanganannya di Desa Wisata” menghadirkan Arsen Budu selaku master of ceremony (MC). Acara dibuka dengan lagu “Rumah Kita” yang dinyanyikan secara bersama-sama.

Sharing antaragama tentang sampah

Pater Maxi menegaskan masalah sampah merupakan masalah yang mesti diatasi bersama.

“Salah satu hal yang menarik wisatawan di berbagai tempat wisata adalah kebersihan dan kenyamanan. Sekilas, desa Koja Doi terlihat bersih. Namun, ada berbagai macam sampah plastik yang dikumpulkan saat bakti sosial tadi sore. Mari kita terus menjaga desa wisata ini agar tetap bersih dan nyaman bagi para wisatawan yang berkunjung.”

Pater Maxi juga memberikan pandangan mengenai pentingnya merawat lingkungan seturut Ensiklik Laudato Si’.

Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menegaskan pentingnya merawat lingkungan, merawat bumi.

“Hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama, tanpa pandang penganut agama mana pun. Setiap kita memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan dan melihatnya sebagai rumah bersama yang mesti dijaga,” tambahnya.

Menurut Kepala Desa Koja Doi Hanawi, perhatian tentang sampah di desa ini cukup besar.

  • Ada program Jumat bersih di mana masyarakat membersihkan wilayah rumah dan sekelilingnya.
  • Hari Minggu, anak-anak sekolah terlibat untuk membersihkan lingkungan desa. Anak-anak juga diberi edukasi untuk tidak boleh membuang sampah di sembarang tempat dengan cara aktif mengikuti kegiatan pembersihan.
  • Ada juga kelompok yang membersihkan tempat sekitar mata air dan kawasan mangrove.

Desa Koja Doi memiliki destinasi wisata yang lengkap. Warga mulai mengembangkan desa wisata ini sejak 2017.

“Ketika usianya masih muda, tahun 2020 wabah Covid-19 merebak. Situasi ini menjadi halangan tersendiri bagi pembangunan infrastruktur karena dana desa disalurkan untuk penanganan Covid-19,” ujarnya.

Kades berharap wabah Covid-19 yang mulai mereda mereka mampu membenahi lebih lanjut pembangunan infrastruktur wisata.

Usai sambutan Kades, dilanjutkan diskusi. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: kelompok tokoh masyarakat (pengurus BUMDES, BPD, dan Aparat Desa) dan kelompok pemuda dan remaja. Kelompok tokoh masyarakat dipandu oleh Edo Putra sementara kelompok remaja dipandu oleh Sefni Beta.

Diskusi berlangsung dalam suasana yang rileks. Setiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan masukan dan sharing yang berguna bagi pengembangan desa wisata Koja Doi.

Beberapa mahasiswa membagi pengalamannya perihal desa wisata yang mereka kunjungi, seperti desa Wisata di Detusoko, Kabupaten Ende, desa wisata Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, pengalaman mengunjungi Raja Ampat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, dan pengalaman melihat tempat wisata yang ada di negara Austria.

Yonas Selai membagi pengalaman ketika berada di negara Austria.

“Orang-orang di Austria sadar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarang. Kita mesti belajar dari mereka untuk menumbuhkembangkan tanggung jawab bersama untuk peduli sampah. Jika para wisatawan berkunjung ke desa Koja Doi, mereka akan membawa cerita menarik bahwa di desa ini lingkungan selalu bersih,” papar Yonas.

Yonas memberi masukan kepada masyarakat desa Koja Doi agar menyediakan dua jenis tempat sampah.

“Tempat sampah yang satu untuk sampah organik, sementara yang lain untuk sampah non-organik. Jenis sampah ini mesti dipisahkan,” tutupnya.

Ketua BPD Bapak Ya menegaskan ada beberapa hal unik di desa wisata Koja Doi. Salah satunya, terapi batu yang belum ditemukan di tempat wisata lain.

“Khasiat dari terapi batu di desa ini yakni mampu menyebuhkan berbagai penyakit. Ke depan, terapi batu ini akan diusahakan untuk masuk dalam salah satu paket wisata.”

Bapak Ya juga membicarakan penanganan sampah di desanya. Menurutnya, tempat wisata akan terlihat indah apabila sampah diatur dengan baik.

“Di desa Koja Doi, semua jenis sampah ada. Kami sementara menyusun rencana bersama dengan pihak BUMDES untuk memanfaatkan sampah-sampah tersebut. Pelatihan kreatif akan diusahakan untuk mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.”

Tantangan SDM

Kades Koja Doi dalam sharingnya menyampaikan beberapa tantangan bagi pemerintah desanya. Salah satunya, Sumber Daya Masyarakat (SDM) di Desa Koja Doi yang belum mumpuni. Hal ini berujung pada digitalisasi desa wisata yang belum optimal.

“Penataan obyek wisata masih terus dibenahi, pengurus BUMDES belum cakap dalam hal pengembangan pariwisata, kerja sama dengan pihak mitra dan lembaga belum optimal dan pelatihan ekonomi kreatif,” ujar Kades.

Di akhir sharingnya, Kades menegaskan kembali perihal SDM yang mesti dikembangkan demi keberlangsungan desa wisata.

“Peluang usaha di ini ada, tetapi selain karena SDM yang belum mumpuni, juga karena pelatihan-pelatihan yang belum dilakukan,” tutupnya.

Perda Sampah

Camat Alok Timur memberikan gambaran tentang kepedulian masyarakat tentang sampah.

“Saat Hari Bumi Sedunia tahun 2022, kami diundang untuk berbicara dengan Bupati Sikka perihal kepedulian masyarakat untuk menangani sampah. Dalam pembicaraan tersebut, kami menyepakati bahwa akan ada sanksi bagi setiap orang apabila membuang sampah di sembarang tempat. Akan ada Perda yang mengatur hal tersebut. Sebab, sampah merupakan masalah besar yang mesti diatasi bersama.”

Selain itu, dalam konteks desa Koja Doi, Camat menegaskan bahwa kesadaran masyarakat tentang sampah mesti terus ditingkatkan. Camat juga menginginkan agar ke depan pariwisata di Desa Koja Doi berbasis masyarakat.

“Kita mesti bersinergi untuk membangun kerja sama dengan para pihak, khususnya investor, agar mereka mampu menjangkau wilayah ini. Harapannya, kerja sama tersebut menguntungkan kedua belah pihak: investor dan masyarakat desa.”

Dalam kelompok pemuda dan remaja, Apink Edor membuka perbincangan dengan pertanyaan: Apa perubahan yang tampak ketika desa Kojadoi menjadi desa wisata?

Samyadin, seorang pemuda menegaskan banyak perubahan besar yang dirasakan. Awalnya, masyarakat belum terlalu paham tentang bahaya sampah.

“Sampah di tempat ini merupakan kumpulan sampah dari tempat lain. Apalagi saat musim Barat. Semua sampah menumpuk di sekitar laut desa Koja Doi. Ketika memulai desa wisata, masyarakat mulai diberi arahan tentang pentingnya mengatur sampah dengan baik,” tandasnya.

Samyadin mengatakan, karena desa wisata masih baru, awalnya masyarakat sedikit merasa malu tentang ekspektasi para wisatawan yang berkunjung.

“Kami malu ketika mereka selesai mengunjungi tempat ini cerita yang mereka bawa adalah cerita negatif perihal kebersihan lingkungan.”

Namun, mereka mulai berbenah dari hari ke hari menjadi lebih baik. Sam juga menegaskan bahwa remaja kurang terlibat dalam membangun desa wisata.

“Selain karena para remaja lebih terlibat dalam sanggar tari, juga karena ada yang sekolah dan kuliah di luar pulau. Mereka hanya punya kesempatan saat liburan,” tutupnya.

Indadari menyatakan perubahan yang nampak adalah shock budaya. “Budaya berpakaian dari wisatawan yang berkunjung awalnya membuat kami sedikit shock. Kami tidak terbiasa dengan budaya berpakaian seperti itu,” tandasnya.

Diskusi ditutup dengan ucapan terima kasih dari kedua belah pihak semabari menyanyikan secara bersama lagu “Maumere Manise” yang dipandu oleh Riko Kornelis dan Vodi Siga.

Kedekatan Emosional

Camat Alok mengatakan bersyukur dosen dan mahasiswa pascasarjana STFK Ledalero bisa mengadakan kegiatan-kegiatan pengabdian seperti ini.

Beliau menegaskan bahwa Pemerintah Daerah merasa terbantu ketika lembaga seperti STFK Ledalero hadir untuk mengabdi kepada masyarakat.

“Masyarakat merasa ada kedekatan emosional dengan STFK Ledalero. Selain itu, para dosen dan mahasiswa bisa membantu pemerintah dalam mencari solusi-solusi terbaik yang kontekstual demi pengembangan daerah tertentu.”

Di akhir evaluasi, Pater Maxi menegaskan bahwa setiap medan pastoral dan umat yang dijumpai memiliki berbagai macam masalah yang unik.

“Mahasiswa diharapkan untuk tidak terlalu kaku dalam menerapkan berbagai teori Pastoral Konseling yang diperoleh di ruang kuliah. Mesti fleksibel sesuai dengan kebutuhan.”**

Baca juga: PKM STFK Ledalero Maumere (1): Persiapkan Desa Wisata Koja Doi Menjadi Desa Wisata Nasional

Alumnus STFK Ledalero, Maumere, Tinggal di Maumere

Leave A Reply

Your email address will not be published.