Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (USA), Unika Pertama di Kalimantan Barat

Perwujudan misi gereja yang memberikan ruang bagi mereka yang berada di pinggiran.

0 141

Katolikana.comGereja Katolik mewujudkan salah satu misinya dengan mendirikan lembaga pendidikan formal khususnya perguruan tinggi di beberapa wilayah.

Di Indonesia terdapat 16 universitas yang berada dalam lingkup Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), sembilan berada di pula Jawa, tujuh di luar Jawa.

Live Talkshow Katolikana ‘Berbagi Harapan;, Senin (29/9/2022) yang mengusung tema ‘Mengapa Dirikan Universitas Katolik di Kalbar?’

Talkshow menghadirkan narasumber Ketua Yayasan Landak Bersatu Romo J. Robini Marianto, OP, Ketua Program Studi Teknik Logistik Erlinda Gilberta Wibawa, dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Hilarion Julis.

Gedung kampus USA.

Berawal dari Keprihatinan

Tahun 2016, Ketua Yayasan Landak Bersatu Romo J. Robini Marianto, OP membentuk sebuah tim untuk memikirkan pendirian Universitas Katolik di Kalimantan.

Hasil feasibility study yang dilakukan oleh Romo Robini dan tim menemukan bahwa SMA di Kalimantan Barat setiap tahun meluluskan 75.000 siswa.

Dari jumlah itu, 78% ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, 2% ingin menjadi imam, suster, dan bruder, sisanya ingin melanjutkan kuliah asalkan memiliki pekerjaan.

Masyarakat menengah ke bawah yang jadi sasaran perguruan tinggi ini sangat tergantung dengan fluktuasi harga pangan di sana, terutama kelapa sawit.

Tim melakukan dua kali survei, yaitu ketika harga sawit sedang tinggi dan ketika sedang turun.

Romo Robini.

Romo Robini menjelaskan, terdapat perbedaan yang menunjukkan bahwa saat harga sawit sedang turun, keinginan calon pelajar untuk melanjutkan perguruan tinggi tetap ada.

“Hal ini sangat tergantung pada keadaan ekonomi keluarga karena hampir 75% orang tua bermata pencaharian sebagai petani,” ujar Romo Robini.

Kurangnya universitas khususnya universitas Katolik di Kalimantan menyebabkan banyak pelajar yang meneruskan pendidikan ke luar pulau seperti di Jawa atau bahkan ke luar negeri.

Para pelajar yang melanjutkan pendidikan di luar pulau tentu membutuhkan biaya yang banyak. Lantas, bagaimana dengan pelajar yang tidak mempunyai biaya lebih untuk keluar pulau?

“Keuskupan Agung Pontianak merasa prihatin melihat banyak pelajar yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya. Hal ini membuat tergerak hatinya untuk mendirikan universitas Katolik di Kalimantan Barat,” ujar Romo Robini.

Romo Robini menambahkan, pendirian universitas ini juga sebagai perwujudan misi gereja yang memberikan ruang bagi mereka yang berada di pinggiran.

Keuskupan Agung Pontianak lalu menghibahkan dana untuk pendirian universitas. Pemerintah daerah juga ikut andil untuk menghibahkan 2,5 hektar ladang untuk gedung kampus.

Adanya dana hibah inilah yang membuat Romo Robini dan tim segera memikirkan skema penggabungan dalam mendirikan universitas Katolik di Kalimantan Barat dengan melihat adanya potensi dari masyarakat pinggiran.

Tujuan utama dari didirikan Unika ini bukan fokus pada pencarian profit tetapi untuk menjangkau anak-anak yang mengalami keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan  ke perguruan tinggi.

Semangat Mengabdi

Ketua Program Studi Teknik Logistik USA Erlinda Gilberta Wibawa adalah lulusan S2 Teknik Industri di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Awalnya, Erlinda mendapat rekomendasi dari Kaprodi Magister Teknik Industri UAJY Parama Kartika Dewa dan dari Wakil Rektor 2 UAJY The Jin Ai bahwa ada kesempatan untuk menjadi dosen di sebuah universitas baru.

Kabar baik ini diterima oleh Erlinda yang memang bermimpi menjadi seorang dosen dan memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut.

Erlinda Gilberta Wibawa

Erlinda mengaku sangat bangga karena dapat menjadi salah satu dosen perintis di Universitas Santo Agustinus.

Meski awalnya Erlinda merasa berat hati untuk ditempatkan di Pulau Kalimantan yang jauh dari keluarganya, namun impian dan semangatnya yang lebih besar mampu mengalahkan segala ketakutan yang ada.

“Saya sudah memantapkan diri ingin benar-benar mengabdi di USA. Meskipun dengan semua ketakutan itu tetapi tekad dalam hati saya lebih besar,” ucap Erlinda.

Erlinda berpikir di Pulau Kalimantan banyak peluang untuk mengembangkan diri sebagai dosen, salah satunya melakukan penelitian di bidang teknik logistik.

“Pengalaman luar biasa yang tidak semua dosen dapat miliki ini yaitu kami mengikuti dari proses awal merumuskan kurikulum, merumuskan keunikan prodi, visi misi tujuan prodi, lalu kami juga merumuskan profil lulusan prodi, capaian pembelajaran, dan struktur kurikulum. Tidak semua orang dapat kesempatan yang berharga ini,” jelas Erlinda.

Hilarion Julis

Mahasiswa Bangga

Universitas Santo Agustinus Hippo merupakan gabungan dari tiga kampus yang sudah ada di Kalimantan Barat.

Ketiga kampus tersebut yaitu STKIP Pamane Talino Landak, Akper Dharma Insan, dan Akademi Kebidanan Santa Benedicta Pontianak.

Ketua BEM FKIP USA Hilarion Julis mengatakan dirinya sangat bangga karena saat ini telah menjadi bagian dari USA.

“Saya merasa bangga karena saya kuliah dari peralihan yang tadinya sekolah tinggi beralih ke universitas. Saya bangga karena USA ini menjadi universitas Katolik pertama di Kalimantan,” jelas Julis. (*)

Kontributor: Bernadyta Anggyta  W.A. Natasya Dewi Yolanda, Sem Darmawan, dan Yoakim Dyas Trisantana.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.