Allah Menyapa Manusia

Ibarat kita mendengarkan siaran radio—kita hanya mendengar suara penyiar atau iklan tanpa gambar.

0 422
Yohanes Ersa Noverlian

Oleh Fr. Yohanes Ersa Noverlian, Mahasiswa Filsafat Keilahian Fakultas Teologi  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Katolikana.com—Kita selalu menyadari bahwa di dalam hidup ini Allah memberikan kasih-Nya yang sungguh luar biasa kepada kita manusia sebagai ciptaan-Nya. Itu semua dalam rangka Allah menyatakan diri-Nya sebagai pusat dari segalanya yang ada pada dunia ini.

Penyataan diri Allah itulah yang disebut dengan wahyu. Wahyu merupakan penyataan diri Allah kepada manusia.

Dokumen Gereja Dei Verbum mengatakan wahyu merupakan proses pertemuan personal antara Allah dengan manusia, di dalamnya Allah menyapa manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan mereka (Dei Verbum 2).

Wahyu tidak lagi digambarkan dengan pengajaran yang di dalamnya Allah memberikan sabda kebenaran tetapi sebagai bentuk persahabatan.

Allah membuka hati-Nya agar manusia bisa turut ambil bagian dalam keselamatan dan kebahagiaan kehidupan Ilahi. Jadi, wahyu tidak hanya berkaitan dengan akal budi manusia tetapi manusia seluruhnya sebagai pribadi.

Banyak cara Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia. Kita dapat melihat dalam Perjanjian Lama para nabi berbicara dengan Allah, meski mereka tidak secara langsung melihat rupa Allah.

Ibarat kita mendengarkan siaran radio—kita hanya mendengar suara penyiar atau iklan tanpa gambar. Begitulah gambaran para rasul saat mendengarkan suara atau sabda Allah tetapi tidak dapat melihat langsung rupa wajah Allah.

Allah yang sebelumnya tidak kelihatan, mewahyukan diri dalam diri putra-Nya Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus inilah terjadi pemenuhan seluruh segala wahyu yang pernah para Nabi terima sebelumnya.

Sebagai contoh pada Perjanjian Lama di Nubuat Yesaya tertulis: Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yesaya 7:14).

Kemudian terjadi penggenapan pada perjanjian baru Injil Matius: Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:22-23).

Tampak jelas bahwa Allah dahulu memberikan wahyu kepada para rasul—Allah tidak terlihat—kini menggenapi wahyu-Nya sehingga Allah menampakkan wajah-Nya. Tak hanya itu, Allah bisa menyapa kita manusia sebagai sahabat-Nya, dan Allah mengumpulkan kita ke dalam persekutuan-Nya.

Foto: Tribun Manado

Bagaimana sikap kita dalam menanggapi wahyu Allah? Tentu sikap yang perlu kita bangun adalah percaya bahwa Allah adalah sumber dari segala apa yang ada di dunia ini.

Setelah itu kita menunjukkan sikap ketaatan iman. Iman merupakan tanggapan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Dengan iman inilah kita dapat menerima kebenaran wahyu.

Iman yang kita miliki juga harus kita wartakan kepada orang lain, tidak berhenti pada diri kita sendiri. Allah telah mewartakan bahwa semua wahyu yang Ia sampaikan adalah demi keselamatan semua bangsa, sehingga harus kita wartakan terus menerus kepada semua keturunan.

Para rasul yang menerima wahyu Allah mewartakan sabda-Nya melalui cara tertulis pada Kitab Suci yang ditulis oleh para penulis suci yang diterangi Roh Kudus.

Kedua, dengan cara lisan pada tradisi suci dari waktu ke waktu (sejak zaman para Rasul hingga sekarang). Lalu, ditafsirkan oleh magisterium (paus dan uskup sebagai penerus rasul).

Lantas apa itu tradisi suci? Kita melihat bahwa ada banyak praktik umum di Gereja Katolik tidak dapat dijumpai keterkaitannya dalam Kitab Suci. Hal itu berkembang secara turun temurun dimulai sejak zaman para rasul. Praktik umum itu kita pahami dan ketahui melalui tradisi suci.

Tradisi Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik merupakan tradisi apostolik, yaitu tradisi yang didapatkan oleh para rasul yang bersumber pada Yesus Kristus untuk mewartakan perintah-Nya.

Saat ini Gereja Katolik memiliki banyak dokumen tradisi suci yang menjadi dasar bagi ajaran dan praktik umumnya. Contoh dokumen tradisi suci Gereja Katolik yaitu:

  1. Kitab Suci: Tulisan suci yang menjadi dasar dan sumber Gereja Katolik, terdiri dari kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.
  2. Katekismus Gereja Katolik (KGK) : Dokumen resmi Gereja yang berisi tentang ajaran serta praktik umum Gereja Katolik. Dokumen ini menjelaskan tentang iman Katolik, doa, sakramen, moralitas serta ajaran-ajaran sosial Gereja.
  3. Dokumen konsili Gereja: Konsili merupakan pertemuan yang dihadiri para pemimpin gereja untuk membahas isu atau masalah keagamaan dan pastoral. Contoh dokumen konsili Gereja ini yaitu Lumen Gentium (konstitusi dogmatis tentang Gereja), Ad Gentes (Dekrit karya misioner Gereja), Nostra Aetate (Deklarasi tentang hubungan antara Gereja dengan Agama non Kristen.
  4. Surat Paus: Dokumen resmi yang dibuat oleh Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik dan biasanya mengandung ajaran atau petunjuk pastoral. Contoh surat Paus ini adalah Ensiklik Rerum Novarum dari Paus Leo XIII dan Ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus.

Dengan adanya wahyu kita harus selalu bersyukur sebab Allah telah memulai berkehendak baik dalam memulai suatu karya yang mulai ini.

Itulah gambaran bahwa Allah itu penuh cinta terhadap manusia. Allah akan selalu tergerak dengan belas kasih-Nya yang kemudian mewahyukan cinta dan kasih-Nya kepada umat manusia di dunia.

Allah tidak hanya mewahyukan cinta-Nya saja tetapi lebih dari itu Allah juga mendampingi serta membimbing manusia terhadap jalan kebenaran yang sesuai dengan kehendak-Nya, dengan itu nantinya manusia akan diarahkan pada keselamatan.

Allah menggenapi wahyu-Nya itu dalam diri Yesus Kristus dan itulah sebagai puncak dari pemenuhan wahyu akan keselamatan yang sebelumnya Allah sampaikan kepada para Rasul.

Sungguh Allah menyapa manusia dengan wahyu-Nya. Allah tidak akan meninggalkan kita manusia, sekali pun kita sebagai manusia lemah yang sering jatuh dalam pencobaan dan dosa.

Dengan kekuatan cinta kasih-Nya yang besar, manusia yang lemah itu diangkat kembali dan ditebus oleh Yesus Kristus.

Yesus Kristus sebagai wahyu sejati telah menggenapi semua wahyu Allah yang telah disabdakan kepada para rasul untuk rencana keselamatan seluruh manusia serta alam semesta.

Kita harus makin sadar terhadap wahyu yang telah digenapi dalam diri Yesus Kristus dan pada akhirnya mampu untuk mengarahkan diri menuju keselamatan manusia dari berbagai dosa dan kelemahan kita. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.