Orang Muda Katolik, Tantangan dan Masa depan Gereja

Lingkungan tumbuh yang kondusif bisa diusahakan keluarga, terutama oleh Gereja.

0 1,009

Katolikana.comIndonesia Youth Day (IYD) III 2023 di Palembang telah berakhir dan meninggalkan kesan mendalam bagi peserta.

Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin,OSC  pada misa penutupan IYD III menitipkan pesan agar orang muda untuk bangkit dan bergerak dan dibakar api keberanian untuk memberi kesaksian hidup meski mengalami aneka keterbatasan dan tantangan (Katolikana.com, 1/7/2023).

Tentu, terselenggaranya acara ini menunjukan peran anak muda yang luar biasa. Mereka membuktikan diri bahwa mereka bisa dipercaya untuk menyelenggarakan kegiatan bertaraf nasional.

Hal ini terlihat dengan terselenggaranya kegiatan seperti acara penyambutan, pertemuan dengan berbagai tema, perarakan salib, kunjungan (outing) kunjungan ke berbagai tempat ataupun kegiatan menanam pohon sebagai bagian dari rangkaian acaranya.

Bukan hanya di level nasional, jauh dari moment IYD, pada Maret dan April 2023, juga terselenggara perarakan salib IYD oleh Orang Muda Katolik (OMK) di Keuskupan Agung Ende.

Acara ini secara garis umum sukses karena keterlibatan OMK masing-masing paroki, baik di desa maupun di kota. Bahkan, di beberapa tempat, dengan kegiatan ini orang-orang muda ini bisa menggalang keterlibatan saudara yang beragama lain.

Di level paroki pun, peran OMK luar biasa. Hal ini terlihat pada Paskah lalu, ada sejumlah kelompok OMK yang terlibat dalam berbagai acara, mulai dari liturgi, koor, tablo Jumat Agung, atau menjadi panitia Paskah di paroki.

Meski masih ada sejumlah kekurangan, namun itu tidak menutupi fakta bahwa mereka kompak dan menggunakan segala bakat dan kemampuan untuk menjalankan kewajiban, memuji Tuhan sekaligus menunjukkan bahwa mereka bisa dipercaya.

Perarakan Salib OMK Paroki St Donatus Bhoanawa, Ende.
Foto: Rikard Lajo

Potensi Generasi Muda

Tiga kegiatan berbagai level ini menunjukkan bahwa orang muda punya bakat, kemampuan, dan energi yang bisa diandalkan dalam hidup dan kegiatan gereja.

Selain itu, masih banyak kegiatan lain yang diinisiasi dan dimotori oleh Orang Muda Katolik yang sukses di luar sana.

Kemampuan dan peran orang muda sudah ada di dalam sejarah Gereja Katolik. Hal ini bisa ditemukan dari dua tokoh.

Pertama, Santo Thomas Aquinas (1225-1247). Thomas Aquinas adalah orang muda sangat cemerlang dan produktif karena menghasilkan begitu banyak karya risalah dan buku sejak masa mudanya untuk perkembangan ajaran dan teologi Gereja. Karena itu ia digelar sebagai pujangga gereja (Tule, 2005).

Kedua, Santo Yohanes Don Bosco (1815-1888). Yohanes Don Bosco menjadi contoh orang muda yang sangat peduli pada anak-anak di Italia dan mengajarkan Katekismus (ofm-indonesia.org,13/7/2023).

Hal ini sungguh menunjukkan bahwa selain punya potensi, anak-anak muda memang punya energi yang luar biasa untuk menggerakkan kerja-kerja pewartaan injil dan gereja.

Potensi dan Tantangan

Meski punya begitu potensi, kemampuan dan energi untuk bekerja, kita tidak dapat menutup kemungkinan, terdapat sejumlah kondisi yang melemahkan peran generasi muda.

Harian Kompas (10/7/2023) melansir survei Litbang Kompas dan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) di 34 provinsi terhadap 5684 anak muda (pria dan wanita).

Hasil survei ini menunjukkan bahwa anak muda mengalami permasalahan seperti depresi (11, 15%), kecemasan (53,6%),masalah perilaku (4,7%) dan masalah terkait pusat perhatian atau hiperaktivitas (21,1%) (Kompas, 10/7/23). Tentu anak muda Katolik juga masuk ke dalam kategori ini 

Permasalahan ini merupakan bagian dari permasalahan internal menyangkut jiwa dan psikologis anak muda. Dampaknya berupa hambatan bagi peningkatan bakat, potensi dan kreativitas anak muda sehingga menjadi lebih produktif bagi bangsa, negara dan juga gereja.

Selain permasalahan internal, terdapat juga masalah eksternal seperti lingkungan yang tidak kondusif (kebisingan, polusi udara) atau media sosial turut memengaruhi perkembangan psikis dan mental anak muda karena dapat menciptakan stres, kecemasan dan depresi (Priyana, 2023). Kondisi ini bisa menciptakan gejolak dan disorientasi diri dan tujuan hidup bagi generasi muda.

Contoh pengaruh lingkungan, termasuk keluarga, terhadap kehidupan anak muda terlihat jelas pada pengalaman masa lalu Santo Fransiskus Asisi dan Santo Agustinus dari Hippo.

Keduanya memberi contoh nyata bagaimana masa muda merupakan masa yang penuh tantangan dan gejolak atau kekosongan hidup yang bisa membawa anak-anak muda jauh dari kehidupan yang positif dan juga menjauh dari Tuhan dan Gereja (Katakombe.org, 2023).

Lingkungan Kondusif dan Produktif

Dalam kondisi tantangan dan permasalahan seperti yang diuraikan tadi, anak-anak muda Katolik, sebagaimana anak-anak lainnya, membutuhkan lingkungan tumbuh dan berkembang yang kondusif.

Lingkungan tumbuh yang kondusif itu bisa diusahakan keluarga, terutama oleh Gereja melalui beberapa hal.

Pertama, perlu diusahakan untuk membangun atmosfer baik dalam lingkup keluarga dan lingkup paroki yang mendukung berbagai aktivitas OMK untuk bekerja dan mengembangkan diri.

Atmosfer yang baik ini diciptakan dengan memberikan ruang, kepercayaan, dukungan pun rekognisi positif terhadap setiap kegiatan yang dibuat oleh orang muda.

Hal ini penting sebab dalam usia yang demikian, mereka membutuhkan ruang untuk tampil dan menunjukkan eksistensi.

Jika ruang ini diberikan dan diarahkan dengan baik terutama karena ada dalam lingkup dan nilai-nilai Gereja Katolik, maka selain menumbuhkan kepercayaan diri, anak-anak muda akan berkembang secara positif.

Berikan mereka peluang tampil dan biarkan mereka belajar, termasuk dari kesalahan, serta berikan kritik konstruktif terhadap mereka.

Kedua, setiap lingkup Paroki maupun Keuskupan perlu menciptakan lingkungan dan program yang produktif bagi Orang Muda Katolik. Hal ini bisa dibuat dengan memberikan teladan yang baik dari orang tua maupun pemimpin umat.

Selain itu, hal praktis lainnya adalah penciptaan program kreatif dan pengalokasian dana cukup dan berkelanjutan bagi pengembangan dan kegiatan produktif anak-anak muda.

Perlu diperhatikan bahwa program dan dana gereja bukan hanya untuk kegiatan pembinaan rohani atau retret, tetapi kegiatan peningkatan kapasitas diri atau keahlian yang bisa menjadi modal sehingga mereka bisa berusaha atau wirausaha secara produktif serta peningkatan kepekaan dan skill-skill sosial.

Kedua hal tadi bisa menjadi alternatif pengembangan dan pembentukan Orang Muda Katolik, yang sebaiknya diusahakan ke depan.

Hal ini penting diketahui dan diingat sebab Gereja Katolik mesti menjadi gereja yang visioner, termasuk melihat bahwa anak-anak muda adalah masa depan Gereja.

Membentuk, mengarahkan, dan menanamkan banyak hal baik kepada dan di dalam mereka adalah sama seperti kita merancang Gereja masa depan.

Wajah dan masa depan gereja ditentukan sejak hari ini dan itu sangat berkaitan dengan bagaimana kita mengatur dan menuntun anak-anak muda.

Kita membentuk gereja dan masa depan gereja sejak saat ini. Semoga banyak orang Katolik tidak menyepelekan hal ini dan terus bergerak serta berkiprah secara produktif bagi teman-teman OMK di mana saja berada. (*)

Pengajar STPM St Ursula, Ende

Leave A Reply

Your email address will not be published.