Imamat di Era Algoritma: Kesaksian dan Tanggung Jawab Profetik

0 63
Romo Yudel Neno, Pr

Oleh Romo Yudel Neno, Pr

Katolikana.com—Ruang digital telah menjadi medan pastoral baru yang tak lagi bisa dihindari oleh Gereja dan para imam.

Media sosial membuka peluang pewartaan yang menjangkau lintas generasi, melampaui batas geografis, dan menghadirkan percakapan iman di ruang publik yang makin cair.

Namun di balik peluang itu, tersimpan tantangan serius bagi keutuhan kesaksian hidup imamat. Publikasi konten menuntut kejelasan orientasi, agar pewartaan tidak tergelincir menjadi sekadar aktivitas tampil dan eksis. Kehadiran imam di ruang digital perlu dipahami sebagai perutusan, bukan panggung personal.

Umat berhak memperoleh pewartaan yang membangun iman, akal budi, dan kejernihan nurani. Karena itu, refleksi kritis semacam ini penting sebagai wanti-wanti pastoral. Pada saat yang sama, edukasi bagi umat juga diperlukan agar kontrol sosial berjalan secara dewasa: kritis, namun tetap sehat dan beradab.

Ritme Rohani Terancam

Keprihatinan pastoral muncul ketika semakin banyak imam tampil sebagai konten kreator tanpa kepekaan terhadap ritme hidup rohani. Aktivitas digital yang padat perlahan menggerus waktu doa, keheningan, dan pengendapan batin. Padahal pewartaan sejati lahir dari perjumpaan yang setia dan mendalam dengan Allah—bukan semata dari kelincahan merespons tren.

Media sosial memang relevan sebagai sarana pewartaan bagi banyak generasi. Kehadiran imam di ruang digital bahkan dapat dibaca sebagai tuntutan pastoral yang selaras dengan zaman.

Tetapi kebijaksanaan tetap menjadi kunci untuk membedakan waktu membina hidup rohani dan waktu mengedukasi melalui media. Tanpa keseimbangan itu, kemurnian motivasi dan kedalaman pesan sulit terjaga; pewartaan kehilangan bobot profetiknya.

Perutusan, Bukan Panggung

Refleksi ini lahir dari kegelisahan batin yang sekaligus bersifat autokritik. Penulis menyadari keterlibatan yang intens dan konsisten dalam penggunaan media sosial sebagai seorang imam. Kesadaran diri menjadi modal penting untuk menjaga jarak kritis terhadap godaan popularitas dan logika viralitas.

Pewartaan digital menuntut keberanian untuk terus menata ulang prioritas hidup. Media sosial perlu ditempatkan sebagai sarana pelayanan, bukan tujuan eksistensial.

Tekanan positif—dalam arti koreksi dan pengingat—tetap diperlukan agar pewartaan digital dijalani secara bertanggung jawab. Disiplin rohani menjadi fondasi agar kehadiran digital tidak kehilangan arah; kejujuran batin menjaga kesaksian tetap otentik.

Publikasi konten juga menuntut kewaspadaan terhadap mentalitas keangkuhan religius. Pewartaan tidak dimaksudkan untuk memamerkan pesona diri seorang imam. Yang diwartakan adalah kebenaran Firman Allah yang disertai refleksi teologis yang jernih dan bertanggung jawab.

Ketika pesona diri mengambil alih pusat perhatian, kesaksian kehilangan daya rohaninya. Imam dipanggil untuk menunjuk kepada Kristus, bukan kepada dirinya sendiri. Kerendahan hati menjaga pewartaan tetap murni dan terarah pada kebenaran.

Umat menangkap kesaksian bukan hanya dari kata-kata, melainkan dari sikap dan konsistensi hidup. Pada akhirnya, etos pelayananlah yang menentukan apakah konten sungguh mengarah pada kebaikan bersama.

Martabat Tahbisan di Ruang Publik

Kesaksian imamat dalam publikasi konten bersumber dari martabat tahbisan yang diterima. Tahbisan tidak menghapus karakter kodrat manusiawi seorang imam. Tuntutan tugas imamat justru menata karakter itu agar semakin bijak, matang, dan harmonis.

Imam tampil sebagai tokoh publik yang dinilai melalui kata dan perbuatan. Dari posisinya itu, umat menuntut keteladanan iman dan moral yang konkret. Publikasi konten memperbesar daya pengaruh sekaligus risiko kesalahpahaman.

Karena itu, tanggung jawab publik melekat pada setiap unggahan yang dibagikan. Sikap hati-hati menjadi kunci untuk menjaga martabat imamat dan kepercayaan umat.

Algoritma vs Profetik

Di titik inilah ketegangan muncul antara peran profetik dan godaan algoritmik. Algoritma bekerja dengan logika klik, tampil, dan viralitas yang serba cepat. Sebaliknya, peran profetik menuntut kesetiaan pada kebenaran, kejernihan nalar, dan kesabaran rohani.

Jaminan bagi peran profetik terletak pada integritas imamiah. Hidup rohani yang terpelihara menumbuhkan kepekaan nurani. Kecakapan intelektual yang memadai menjaga penilaian tetap proporsional. Integritas melindungi imam dari gelontoran isu yang dangkal dan menyesatkan, sementara keteguhan prinsip menjadi penyangga terhadap godaan popularitas sesaat.

Kesaksian imamat juga menuntut kecerdasan rohani yang terwujud dalam diskresi dan discernment. Publikasi konten perlu mewaspadai kecenderungan self-confirmation bias: dorongan untuk hanya mencari dan mempercayai informasi yang menguatkan keyakinan sendiri. Dampaknya ialah menyempitnya ruang dialog.

Padahal tugas profetik menuntut dialog yang komunikatif dan terbuka, sebagaimana ditekankan dalam pemikiran Habermas tentang rasionalitas komunikatif: kebenaran tidak diukur dari keseragaman pandangan dengan diri sendiri. Pandangan yang berbeda tidak layak ditolak secara prematur; dialog justru membuka ruang pemurnian kebenaran bersama.

Jebakan Bias Rohani

Kewaspadaan juga perlu diarahkan pada jebakan self-justification: sikap keliru yang dibenarkan atas nama status religius. Rasionalisasi dipakai untuk meredam rasa bersalah dan menepis kritik. Sikap defensif semacam ini tidak elok dalam dunia pastoral. Pelayanan pastoral membutuhkan keterbukaan, kerendahan hati, dan kesediaan belajar.

Self-superiority bias pun perlu dihindari karena merusak relasi sosial: keyakinan bahwa diri lebih benar atau lebih bermoral membuat dialog menjadi timpang. Situasi kian memburuk ketika self-righteous bias muncul—penilaian moral dipakai untuk merendahkan orang lain.

Sikap semacam ini menutup empati, memperlebar jarak batin dengan umat, dan membuat pewartaan kehilangan daya sentuh ketika moralitas berubah menjadi alat penghakiman. Kesaksian sejati selalu memadukan kebenaran dan kasih secara seimbang.

Dari cara imam menyikapi perbedaan dan kritik, umat belajar tentang kedewasaan iman. Bahasa yang komunikatif dan fleksibel membantu pesan diterima tanpa melukai martabat. Pendekatan argumentatif-kritis menjaga ketegasan tanpa mendiskreditkan pihak mana pun. Kejernihan makna terjaga melalui konsistensi redaksional dan semantis.

Menjaga Arah Pewartaan

Pada akhirnya, publikasi konten menuntut tanggung jawab profetik yang utuh dan matang. Media sosial dapat menjadi sarana pewartaan yang relevan apabila dikelola dengan kebijaksanaan rohani dan intelektual. Batas waktu, prioritas hidup rohani, dan kedalaman refleksi perlu dijaga dengan disiplin.

Umat memiliki peran penting dalam memberi kontrol yang sehat demi kebaikan bersama. Imam memimpin melalui keteladanan yang konsisten dan rendah hati. Integritas menjaga kesaksian tetap jujur dan membumi. Pewartaan yang matang membangun iman sekaligus membuka ruang dialog. Dari sikap inilah peran profetik menemukan kekuatannya di tengah godaan algoritmik. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.