Memaknai ‘Jalan Bersama’ Gereja Keuskupan Agung Medan

0 47

Rikha Emyya Gurusinga, Katekis Paroki St. Yosef balige dan Guru Agama Katolik

Dalam dinamika kehidupan Gereja dewasa ini, Sinode VII Keuskupan Agung Medan menghadirkan sebuah ajakan yang sangat mendalam sekaligus menantang: “Gereja Keuskupan Agung Medan Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan.” Tema ini bukan sekadar rumusan program pastoral atau slogan tahunan, melainkan sebuah jalan rohani yang mengundang seluruh umat Allah—uskup, imam, religius, dan awam—untuk merefleksikan kembali siapa kita sebagai Gereja dan bagaimana kita hadir di tengah dunia.

Gereja dipanggil untuk berjalan bersama, bukan di depan umat sebagai penguasa, bukan pula tertinggal sebagai penonton, melainkan di tengah umat sebagai sahabat seperjalanan. Di sinilah sinodalitas menemukan maknanya yang paling konkret: sebuah Gereja yang mau mendengarkan denyut kehidupan umatnya, meneguhkan mereka yang rapuh, dan mewartakan Injil bukan hanya lewat kata-kata, tetapi terutama lewat kesaksian hidup.

Tema Sinode VII Keuskupan Agung Medan menegaskan bahwa mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan bukanlah tugas segelintir orang, melainkan panggilan seluruh umat Allah. Setiap orang, sesuai dengan perannya, dipanggil untuk terlibat dalam perjalanan sinodal ini.

Berjalan bersama berarti berani keluar dari sikap acuh tak acuh dan individualisme. Berjalan bersama berarti membuka diri terhadap perbedaan, belajar dari satu sama lain, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja. Gereja bukan milik segelintir orang, melainkan rumah bersama bagi semua.

Mendengarkan dengan Hati: Awal dari Pertobatan Gereja

Mendengarkan adalah sikap dasar yang sering kali terlupakan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hidup menggereja. Kita hidup di zaman yang penuh suara, opini, dan komentar, tetapi miskin akan pendengaran yang tulus. Banyak orang ingin didengar, namun sedikit yang sungguh mau mendengarkan.

Yesus sendiri memberi teladan yang sangat indah tentang mendengarkan. Dalam kisah dua murid yang berjalan ke Emaus (bdk. Luk. 24:13–35), Yesus tidak langsung menasihati atau mengoreksi. Ia terlebih dahulu bertanya, mendengarkan kisah kekecewaan, kesedihan, dan harapan yang hancur dari kedua murid itu. Dari sikap mendengarkan inilah hati mereka perlahan dipulihkan dan iman mereka kembali menyala.

Situasi umat saat ini menunjukkan betapa pentingnya Gereja yang mau mendengarkan. Banyak keluarga mengalami krisis komunikasi: orang tua dan anak hidup dalam satu rumah, tetapi terpisah oleh layar gawai. Kaum muda bergumul dengan pencarian jati diri, tekanan sosial, dan kecemasan akan masa depan, namun sering merasa tidak dipahami. Ada pula umat yang menjauh dari Gereja karena merasa pengalaman hidupnya tidak mendapat ruang dan perhatian.

Gereja yang sinodal dipanggil untuk berani berhenti sejenak, membuka telinga dan hati, serta mendengarkan tanpa prasangka. Mendengarkan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman. Seperti dikatakan dalam Kitab Suci, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yak. 1:19). Dari pendengaran yang jujur inilah proses pembaruan Gereja dapat dimulai.

Meneguhkan dalam Kasih: Gereja yang Menyembuhkan Luka

Namun mendengarkan saja tidak cukup. Gereja dipanggil untuk melangkah lebih jauh, yakni meneguhkan. Meneguhkan berarti menghadirkan kekuatan, pengharapan, dan keberanian baru bagi mereka yang sedang rapuh. Dunia yang kita hidupi saat ini tidak selalu ramah. Tekanan ekonomi, ketidakadilan sosial, konflik keluarga, penyakit, dan krisis iman menjadi realitas yang dihadapi banyak umat.

Tidak sedikit orang yang datang ke Gereja dengan membawa luka: luka karena kegagalan, penolakan, dosa, atau pengalaman pahit lainnya. Jika Gereja hanya menjadi tempat aturan dan tuntutan moral tanpa wajah kasih, maka luka-luka itu justru semakin dalam. Sebaliknya, Gereja dipanggil untuk menjadi ruang aman, tempat umat mengalami penerimaan dan penguatan.

Rasul Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu saling menguatkan dan saling membangun” (1 Tes. 5:11). Meneguhkan dalam kasih berarti berani hadir, menemani, dan berjalan bersama mereka yang jatuh. Seperti Yesus yang tidak menjauh dari orang berdosa, melainkan mendekat dan memulihkan martabat mereka (bdk. Yoh. 8:1–11).

Dalam konteks Keuskupan Agung Medan, meneguhkan juga berarti peka terhadap realitas konkret umat: buruh yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, petani yang bergumul dengan ketidakpastian hasil panen, kaum muda yang ragu akan masa depan, serta mereka yang hidup di pinggiran masyarakat. Gereja dipanggil untuk meneguhkan mereka dengan kehadiran yang nyata, bukan sekadar wacana.

Mewartakan dalam Hidup: Injil yang Menjadi Daging

Pewartaan adalah buah dari proses mendengarkan dan meneguhkan. Gereja yang sungguh mendengarkan dan meneguhkan akan mampu mewartakan Injil secara otentik. Pewartaan bukan pertama-tama soal berbicara tentang Tuhan, melainkan menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus mengutus para murid-Nya dengan perintah yang jelas: “Pergilah ke seluruh dunia, wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15). Namun pewartaan yang dikehendaki Yesus bukanlah pewartaan yang kosong, melainkan pewartaan yang lahir dari relasi yang hidup dengan Allah dan sesama.

Di tengah dunia yang ditandai oleh individualisme, kekerasan verbal di media sosial, dan sikap saling mencurigai, pewartaan iman justru menjadi semakin menantang. Dunia tidak lagi mudah percaya pada kata-kata religius, tetapi sangat peka terhadap kesaksian hidup. Ketika umat Katolik mampu menghadirkan kejujuran di tengah budaya manipulasi, solidaritas di tengah egoisme, dan pengampunan di tengah dendam, di situlah Injil sungguh diwartakan.

Dalam masyarakat yang majemuk seperti di wilayah Keuskupan Agung Medan, pewartaan juga berarti membangun dialog dan persaudaraan lintas perbedaan. Gereja dipanggil menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi pembawa damai, bukan sumber konflik. Seperti diingatkan Yesus, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9).

Menjadi Gereja yang Menghadirkan Harapan

Akhirnya, tema Sinode VII Keuskupan Agung Medan mengajak kita semua untuk berefleksi secara jujur: sudahkah kita sungguh menjadi Gereja yang mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan? Ataukah kita masih terjebak dalam rutinitas dan kenyamanan semu?

Dengan berjalan bersama, Gereja dipanggil untuk terus berbenah dan bertumbuh. Mendengarkan dengan hati, meneguhkan dalam kasih, dan mewartakan dalam hidup adalah jalan yang menuntut kerendahan hati, keberanian, dan kesetiaan. Namun justru di jalan inilah Gereja menjadi tanda harapan bagi dunia.

Semoga semangat Sinode VII Keuskupan Agung Medan sungguh menghidupi setiap pribadi dan komunitas, sehingga Gereja semakin menampilkan wajah Kristus yang penuh belas kasih, dekat dengan umat, dan setia mewartakan Injil dalam kehidupan nyata.

Leave A Reply

Your email address will not be published.