Di Kawasan Pariwisata Super Premium Labuan Bajo, Caritas Internationalis-Indonesia Lebih Peduli Kelompok Rentan

0 28

Labuan Bajo, Katolikana.com – Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia bersama Keuskupan Labuan Bajo memperkuat kerja sama kemanusiaan demi memastikan pembangunan tetap berpihak pada martabat manusia dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah pesatnya pembangunan pariwisata super premium di Labuan Bajo, perhatian terhadap masyarakat kecil, nelayan, petani, dan kelompok rentan dinilai tidak boleh terpinggirkan.

Komitmen ini menegaskan bahwa kemajuan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari meningkatnya investasi dan jumlah wisatawan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat lokal memperoleh manfaat nyata dari perubahan tersebut. Gereja Katolik melalui jaringan Caritas ingin memastikan bahwa masyarakat adat, pesisir, perempuan, anak muda, dan pelaku UMKM lokal tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Tentang Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia

Caritas Internationalis adalah konfederasi karya kemanusiaan resmi Gereja Katolik yang berpusat di Roma, Italia dan terdiri dari 162 anggota (Caritas Nasional) di seluruh dunia. Organisasi Caritas pertama didirikan di Freiburg, Jerman, oleh Lorenz Werthmann. Seiring waktu, unit-unit Caritas Nasional lainnya muncul di berbagai negara. Puncaknya, Caritas Internationalis secara resmi dibentuk sebagai sebuah konfederasi internasional pada 12 Desember 1951 di Roma, Italia. Kantor pusat atau Sekretariat Jenderalnya berkedudukan di Vatikan.

Cakupan operasional Caritas Internationalis kini menjangkau di lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia. Struktur regional Caritas Internationalis dibagi menjadi tujuh wilayah regional: Afrika, Asia, Eropa, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, Afrika Utara, Amerika Utara, dan Oseania.

Di Indonesia, jaringan ini diwakili oleh Caritas Indonesia yang merupakan lembaga pelayanan kemanusiaan resmi Konferensi Waligereja Indonesia yang didirikan pada 17 Mei 2006. Caritas Indonesia merupakan anggota dari Konfederasi Caritas Internationalis, yang menjadi koordinator, fasilitator, dan animator jaringan Caritas di tingkat keuskupan di seluruh nusantara. Saat ini, Caritas Indonesia hadir di 38 keuskupan di Indonesia.

Uskup Keuskupan Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dalam pernyataannya menekankan bahwa Gereja hadir bukan untuk menolak pembangunan, melainkan mengawal pembangunan yang adil dan manusiawi.

“Pariwisata harus menjadi jalan kesejahteraan bersama, bukan hanya ruang keuntungan bagi segelintir pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD menyoroti pentingnya pendekatan pembangunan berbasis komunitas. Menurutnya, Labuan Bajo memiliki kekayaan budaya, ekologi, dan nilai sosial yang harus dijaga bersama. Karena itu, program kerja sama akan diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan sosial, pelatihan generasi muda, perlindungan lingkungan hidup, serta penguatan solidaritas kemanusiaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi Labuan Bajo sebagai destinasi super premium memang membawa dampak besar. Infrastruktur berkembang pesat, hotel dan investasi tumbuh, namun pada saat yang sama muncul kekhawatiran mengenai ketimpangan sosial, tekanan terhadap ruang hidup masyarakat, dan ancaman kerusakan lingkungan.

Melalui komitmen ini, Caritas Internationalis dan caritas Indonesia  bersama Keuskupan Labuan Bajo ingin menghadirkan wajah pembangunan yang lebih inklusif yakni pariwisata yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menghormati manusia dan alam sebagai bagian dari ciptaan yang harus dijaga bersama.

Kerja sama ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara lembaga kemanusiaan internasional dan Gereja lokal dalam menjawab tantangan pembangunan global di daerah wisata strategis Indonesia

Delegasi Caritas Internationalis dan Indonesia mengunjungi komunitas petani di kawasan Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Berfokus pada Komunitas

Delegasi Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia berkesempatan mengunjungi komunitas dampingan Caritas Keuskupan Labuan Bajo di Paroki Gereja Santa Teresia Kalkuta, Datak. Di tempat ini, para peserta berjumpa dengan para petani yang selama ini menjadi peserta Program HARVEST di Keuskupan Labuan Bajo.

Program ini mendorong pembentukan komunitas pertanian yang mandiri dan inovatif, dengan meningkatkan kapasitas anggota komunitas dalam Teknik pertanian organik, serta produksi Mikro Organisme Lokal (MOL), pupuk organik, dan pestisida alami secara mandiri.

Praktik baik yang dikunjungi ini menjadi potret nyata karya kemanusiaan Caritas di Indonesia secara konsisten mengintegrasikan pesan “ekologi integral” dari ensiklik Laudato Si’ yang diserukan oleh Paus Fransiskus.

Melalui ensiklik ini, Gereja diajak untuk mendengar “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin”. Labuan Bajo, sebagai wilayah yang kaya akan keindahan alam sekaligus menghadapi tantangan ekologis dan sosial, dipilih sebagai lokasi perayaan untuk menggabungkan kembali urgensi pertobatan ekologis dan keadilan sosial yang inklusif.

Sinergi antara Gereja dan Caritas telah melahirkan banyak buah kebaikan, mulai dari penanganan bencana hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Perayaan 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia diharapkan menjadi momentum refleksi untuk memperkuat jejaring kasih yang lebih adaptif, tangguh, dan berdampak luas bagi masa depan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan.

Di mana pun berada, gerakan Caritas tetap hadir demi “martabat dan keutuhan ciptaan” meski dalam situasi yang sulit. Semangat pantang menyerah ini membuktikan bahwa kasih tidak pernah surut, melainkan terus bergerak menyentuh sudut-sudut wilayah yang paling membutuhkan.

Sebagai tuan rumah, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus mengucap terima kasih atas kepercayaan Caritas Internationalis untuk melaksanakan rangkaian kegiatan pertemuan di Keuskupan Labuan Bajo.

“Sebagai Keuskupan baru, ini adalah kepercayaan dan dukungan bagi kami. Kami menyambut baik semua tamu terutama Presiden Caritas Internationalis yang hadir langsung. Kami berharap semoga pertemuan ini membawa manfaat jangka panjang terutama dalam kolaborasi berkelanjutan, dan para peserta dapat menikmati atmosfer Keuskupan Labuan Bajo sebagai salah satu pusat keindahan pariwisata,” kata Mgr. Maksimus.

Uskup Labuan Bajo, Presiden Caritas Internationalis, dan Direktur Caritas Indonesia ikut memanen hasil pertanian organik di Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, memberikan apresiasi kepada Keuskupan Labuan Bajo yang bersedia menjadi tuan rumah perayaan Yubileum 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia.

Bupati Kabupaten Manggarai Barat, Edistasius Endi, mengapresiasi langkah Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia yang memilih Keuskupan Labuan Bajo sebagai tempat untuk perayaan ulang tahunnya.  “Saya berharap agar kolaborasi antara Gereja dan pemerintah semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat”.

Caritas Keuskupan Labuan Bajo berharap agar semangat kasih, solidaritas, dan pelayanan kepada sesama semakin bertumbuh dan menginspirasi masyarakat luas dalam membangun dunia yang lebih manusiawi, adil, dan penuh harapan.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.