Ibu Hawa dan Bunda Maria

0 8

Kejadian 3:9-15.20; Yohanes 19:25-34

Katolikana.com – Hari ini kita merayakan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja. Liturgi sabda menghadirkan dua sosok ibu yang bertolak belakang: Hawa dan Maria. Hawa dikenal sebagai ibu semua yang hidup, namun ia menjadi wanita yang tertuduh. Sebaliknya, Maria adalah Bunda Yesus yang mati di salib, dan ia menjadi wanita yang mulia. Perbandingan ini mengajak kita merenungkan peran besar seorang ibu dalam sejarah keselamatan.

Hawa ibu yang tertuduh
Dalam Kitab Kejadian, Hawa digambarkan sebagai penyebab utama kejatuhan Adam ke dalam dosa. Karena godaan ular, ia melanggar perintah Tuhan dan mengajak Adam berdosa. Akibatnya, dosa dan maut masuk ke dalam dunia. Seluruh keturunan mereka pun mewarisi dosa asal dan mengalami kematian. Hawa pun menjadi tertuduh, sebab dari rahimnya lahirlah manusia yang fana dan berdosa.

Maria ibu yang mendengarkan

Berbeda dengan Hawa, Maria menunjukkan sikap iman yang sempurna. Ia tidak hanya mendengarkan sabda Tuhan, tetapi juga menaatinya dengan sepenuh hati. Ketaatan itu dimulai dari “fiat” atau “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Ia tidak ragu meskipun konsekuensinya sangat berat. Sikap mendengar inilah yang membedakannya dari Hawa yang lebih memilih bicara dengan ular.

Ketaatan Maria dan kayu salib
Ketaatan Maria tidak berhenti pada Kabar Sukacita, melainkan mencapai puncaknya di bawah kayu salib. Ia menyertai Yesus sampai akhir hayat-Nya sebagai manusia. Di saat para murid melarikan diri, Maria tetap berdiri teguh di kaki salib. Di sanalah Yesus menyerahkan Yohanes kepada ibu-Nya dan ibu-Nya kepada Yohanes. Peristiwa itu melambangkan dipersembahkannya Maria kepada seluruh umat beriman.

Perbedaan peran kedua ibu

Hawa membawa dosa dan kematian bagi umat manusia, sehingga ia menjadi wanita yang tertuduh. Sebaliknya, Maria membawa keselamatan dan mendampingi proses penebusan hingga tuntas. Hawa adalah ibu semua yang hidup secara jasmani, tetapi hidup itu berakhir pada kematian.

Maria adalah Bunda Gereja, yakni tubuh mistik Yesus yang hidup dalam rahmat. Dengan demikian, Maria layak disebut wanita yang paling mulia di surga dan di bumi.

Rasa syukur umat beriman

Sebagai umat beriman, kita perlu berterima kasih kepada Bunda Maria. Dialah yang melahirkan Yesus, sumber hidup sejati bagi dunia. Tanpa ketaatannya, rencana keselamatan tidak akan berjalan seperti yang dikehendaki Allah. Maria juga menyertai karya penebusan hingga selesai di kayu salib. Karena itu, wajar jika kita menghormatinya sebagai Bunda Gereja dan Bunda kita semua.

Teladan Bunda Maria

Semoga kita semua meneladani sikap iman Bunda Maria. Ia mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya meskipun penuh risiko. Ia setia sampai akhir, tidak pernah meninggalkan Yesus di saat tergelap sekalipun.

Dengan meneladani dia, kita diajak mengikuti Yesus sampai di bawah kaki salib. Di sanalah kita belajar mengampuni, mengasihi, dan menyerahkan seluruh hidup kepada Allah.

Jika kita tekun mengikuti Yesus di jalan salib, maka kita layak disebut saudara-saudari Yesus. Kita pun menjadi putra-putri sejati Bunda Maria, sebab Yesus sendiri telah menyerahkan kita kepadanya. Marilah kita merayakan hari ini dengan hati yang gembira dan bersyukur. Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami. Amin.

Senin, 25 Mei 2026
Peringatan Santa Perawan Maria, Bunda Gereja
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.