
Oleh Nicolindo Putra Gowin, SX, Mahasiswa Teologi di Studio Teologico Interdiocesano (STI) Reggio Emilia – Italia
Katolikana.com – Surat ensiklik Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Luar Biasa) dari Paus Leo XIV pada 25 Mei 2026 menjadi sebuah tonggak pemikiran yang krusial bagi sejarah peradaban modern dan kelangsungan hidup manusia. Di tengah pusaran revolusi digital dan perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) yang berlangsung begitu cepat, dokumen ini tidak sekadar menawarkan panduan etis, melainkan sebuah refleksi teologis dan filosofis yang sangat mendalam mengenai nasib kemanusiaan.
Paus meletakkan situasi kita saat ini pada sebuah persimpangan krusial yang digambarkan melalui dua ikon alkitabiah yang saling bertolak belakang. Pilihan pertama adalah membangun “Menara Babel” modern, di mana inovasi teknologi digunakan sebagai instrumen kesombongan, dominasi, dan penyeragaman yang mengesampingkan peran Tuhan serta mengorbankan martabat individu demi efisiensi (Cfr. Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, n. 7).
Kemudian, pilihan kedua adalah meneladani tokoh Nehemia dalam membangun kembali tembok Yerusalem (Cfr. Magnifica Humanitas, n. 8). Jalan ini menuntut tanggung jawab bersama, gotong royong, dan kesadaran bahwa kelemahan manusiawi hanya dapat diatasi dengan membangun masyarakat yang adil, dialogis, dan bersaudara di hadapan Tuhan, di mana setiap orang mengambil peran sekecil apa pun.
Untuk menyelami kedalaman ensiklik ini, kita harus memahaminya sebagai kelanjutan yang sangat dinamis dari tradisi Ajaran Sosial Gereja yang tak pernah lepas dari realitas sejarah. Sama seperti Paus Leo XIII yang merespons tantangan revolusi industri melalui ensiklik Rerum novarum pada tahun 1891, Gereja hari ini hadir untuk merespons res novae (hal-hal baru) di era digital (Cfr. n. 3-4). Kecerdasan buatan, robotika, dan digitalisasi bukanlah sekadar instrumen teknis yang netral; mereka selalu membawa wajah, nilai, dan kepentingan dari para pembuat, perancang, serta pemodalnya (Cfr. n. 9).
Oleh karena itu, Magnifica Humanitas menegaskan bahwa tantangan ini membutuhkan evaluasi kritis yang berakar pada terang Injil, terutama karena inovasi saat ini sering kali dikendalikan oleh kekuatan privat transnasional yang kekuasaannya berpotensi melampaui batas-batas negara dan luput dari kendali demokratis (Cfr. n. 5).
Pusat dari seluruh refleksi dalam ensiklik ini adalah pengakuan teguh terhadap “martabat ontologis” setiap pribadi manusia (Cfr. n. 52). Martabat ini tidak bergantung pada kapasitas produktivitas, efisiensi kerja, atau status sosial seseorang, melainkan melekat secara tak terhapuskan karena setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang Mahakasih (Cfr. n. 50-52). Berpijak dari fondasi ontologis ini, Paus Leo XIV memperluas penerapan prinsip “kebaikan bersama” (common good) dan “penggunaan universal atas barang-barang” (universal destination of goods) ke ranah teknologi digital (Cfr. n. 65-67).
Kini, aset-aset baru seperti algoritma, hak paten, platform digital, infrastruktur teknologi, dan maha data (big data) harus dipandang sebagai barang yang peruntukannya adalah untuk seluruh umat manusia, bukan sekadar untuk dimonopoli oleh segelintir oligopoli (Cfr. n. 67). Hal ini secara otomatis menuntut penegakan prinsip subsidiaritas dan solidaritas, di mana proses pengambilan keputusan yang melibatkan AI harus transparan, dapat dipertanggungjawabkan, serta tidak mematikan daya inisiatif dan kebebasan komunitas lokal (Cfr. n. 71).
Lebih jauh, ensiklik ini memberikan peringatan tajam terhadap meluasnya “paradigma teknokrasi”, sebuah pandangan sempit yang menjadikan efisiensi dan kendali mutlak sebagai satu-satunya tolok ukur (Cfr. n. 92). Kecerdasan buatan memang memiliki potensi luar biasa yang bisa menjadi bantuan berharga bagi umat manusia (Cfr. n. 93), namun, kita tidak boleh lupa bahwa sistem-sistem ini hanyalah entitas yang menyimulasikan kecerdasan. Kecerdasan buatan sama sekali tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan sakit, tidak mengenal belas kasih, dan tidak mempunyai kesadaran moral untuk menanggung akibat dari sebuah keputusan (Cfr. n. 99).
Mendelegasikan keputusan-keputusan krusial yang berdampak pada nasib hidup manusia – seperti seleksi pekerjaan, pemberian kredit bank, hingga sistem peradilan – kepada algoritma yang dingin, sama halnya dengan melucuti kemanusiaan dari rasa keadilan dan pengampunan (Cfr. n. 102-103). Selain itu, Paus juga menyoroti dampak ekologis dari AI yang membutuhkan konsumsi energi dan air yang sangat besar untuk pusat-pusat datanya, yang justru dapat mencederai komitmen kita dalam merawat Bumi sebagai “Rumah Bersama” (Cfr. n. 101).
Terkait dengan batas-batas kemanusiaan, ensiklik ini secara lugas mengkritik ideologi transhumanisme dan posthumanisme, yang memandang kerapuhan tubuh biologis manusia sebagai sebuah kelemahan yang harus diatasi dengan fusi (penggabungan) teknologi (Cfr. n. 115-116). Paus mengingatkan kita bahwa keagungan manusia sering kali justru terwujud di dalam penerimaan atas kerapuhan dan batasannya; karena di celah kerapuhan itulah empati, pengampunan, dan cinta sejati dapat menemukan ruang untuk tumbuh subur (Cfr. n. 118-120). Melarikan diri dari batasan biologis demi sebuah ilusi kesempurnaan teknis berarti kehilangan inti sari keindahan menjadi manusia seutuhnya.

Dampak Transformasi Digital
Transformasi digital ini secara spesifik membawa dampak yang sangat nyata pada tiga ranah kehidupan: kebenaran, pekerjaan, dan kebebasan (Cfr. n. 131). Pertama, dalam ranah kebenaran sebagai kebaikan bersama, pilar-pilar demokrasi kita saat ini sedang diuji dengan hebat oleh meluasnya disinformasi, manipulasi gambar tingkat tinggi (deepfake), dan sistem algoritma yang sengaja memicu polarisasi opini (Cfr. n. 132).
Ruang publik yang seharusnya menjadi ajang dialog rasional kini rawan dikendalikan oleh pihak-pihak yang memiliki modal kekuatan teknologi untuk mendikte sebuah realitas semu (Cfr. n. 133-134). Karenanya, dibutuhkan sebuah ekosistem komunikasi yang beretika serta pendidikan komprehensif yang membekali generasi muda dengan pemikiran kritis agar mampu “berpuasa” dari ilusi kepuasan instan yang disuguhkan oleh layar (Cfr. n. 137, 140).
Kedua, menyangkut martabat pekerjaan, ensiklik ini menggemakan kembali pandangan bahwa kerja adalah partisipasi pada karya penciptaan Ilahi (Cfr. n. 148). Oleh karena itu, inovasi di bidang otomatisasi dan robotika tidak boleh dirancang semata-mata demi menekan biaya dan memaksimalkan keuntungan pemegang saham (Cfr. n. 150-151). Menggantikan tenaga manusia secara massal dengan mesin dapat mendegradasi nilai kerja dan memicu bencana sosial pengangguran massal yang menghancurkan struktur keluarga serta melumpuhkan harapan generasi muda (Cfr. n. 154, 166-167).
Ketiga, dalam hal penjagaan kebebasan, Magnifica Humanitas mengungkap ancaman perbudakan jenis baru yang tersembunyi di balik sistem yang tampak canggih (Cfr. n. 173). Selain ancaman kontrol sosial dan pengawasan massal yang mengubah jejak digital warga menjadi komoditas pasar, ada tragedi kemanusiaan yang bersembunyi di baliknya (Cfr. n. 171).
Kecanggihan AI disokong oleh eksploitasi kerja tak kasat mata – seperti buruh anotasi data di negara berkembang yang dibayar sangat murah, eksploitasi penambang mineral langka yang memakan korban anak-anak, hingga jaringan perdagangan manusia yang dipermudah oleh platform digital anonim (Cfr. n. 173).
Paus juga menyuarakan penolakannya yang keras terhadap “kolonialisme data” (data colonialism), yaitu ketika wilayah-wilayah rentan diekstraksi seluruh datanya oleh perusahaan asing demi melanggengkan dominasi dan memanipulasi kebutuhan pasar (Cfr. n. 178).
Menjelang bagian akhir, salah satu teguran paling keras dalam ensiklik ini diarahkan pada kebangkitan budaya kekuasaan yang berujung pada normalisasi perang serta perlombaan senjata berbasis AI (Cfr. n. 182-183). Mendelegasikan keputusan hidup dan mati kepada sistem persenjataan otonom yang mematikan (Lethal Autonomous Weapons) merupakan sebuah degradasi moral yang mereduksi hilangnya nyawa manusia menjadi sekadar “dampak kolateral” (collateral damage) yang dikalkulasi secara algoritmik (Cfr. n. 197-198). Tidak ada satu pun kecerdasan buatan yang mampu memiliki suara hati manusiawi dalam menilai sebuah tindakan (Cfr. n. 198).
Oleh sebab itu, Paus menantang kita untuk “melucuti” dan membebaskan AI dari ambisi militerisme serta monopoli kekuasaan (Cfr. n. 110). Sebagai alternatif dari budaya destruktif ini, Paus mengusulkan pembangunan “Peradaban Cinta”, sebuah visi kelembagaan politik di mana negara-negara kembali menghidupkan multilateralisme, diplomasi yang tulus, dan budaya negosiasi dengan berani melihat sejarah dari sudut pandang para korban demi mencapai perdamaian (Cfr. n. 186, 216, 221).
Sebagai konklusi, Magnifica Humanitas membawa refleksi kita bermuara pada kontemplasi atas misteri Inkarnasi Allah (Cfr. n. 231). Melalui penjelmaan Yesus Kristus, Allah menunjukkan bahwa tubuh jasmani dan kerapuhan manusia adalah sesuatu yang teramat mulia dan pantas untuk ditebus, bukan disingkirkan atau digantikan demi obsesi kesempurnaan mesin yang dingin (Cfr. n. 232).
Gereja mengundang seluruh umat untuk menghayati spiritualitas Ekaristi – sebuah spiritualitas yang mengajarkan kita untuk memecah-mecah diri demi sesama, bersolidaritas memihak kaum miskin, dan terus menyalakan nyala harapan di tengah bayang-bayang pesimisme (Cfr. n. 234-235).
Dengan mengambil teladan dari Kidung Magnificat Bunda Maria, kita dipanggil untuk berani melihat keajaiban karya Tuhan di dunia dari kacamata mereka yang tersingkirkan (Cfr. n. 243-244).
Ensiklik ini sejatinya bukanlah sikap ketakutan yang menolak kemajuan teknologi, melainkan sebuah seruan profetik nan agung; mengajak kita untuk tidak menjadi sekadar pekerja pasrah yang mendirikan Menara Babel, melainkan menjadi arsitek-arsitek bijaksana yang bersatu padu memastikan bahwa setiap pijakan inovasi AI selalu tunduk pada satu nilai yang absolut: keagungan martabat umat manusia.
Editor: Basilius Triharyanto
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.