Sura Susuhing Rasa dalam Misa 1 Sura Gereja Santo Paulus Kleco Surakarta

0 471


Reportase Budaya dan Tata Liturgi

Surakarta, Katolikana.com – Sura susuhing rasa atau Sura tempat kediaman rasa adalah konsep mistik Jawa yang menempatkan batin sebagai pusat kebenaran hakiki dan tempat bersemayam Tuhan.

Rasa, hati nurani, emosi, dan kepekaan batin untuk menanggapi sapaan Tuhan, keindahan, kebaikan dan kepedulian sosial.

Konsep ini menekankan pentingnya mencapai kesadaran batin murni yang bebas dari nafsu demi mencapai kesempurnaan hidup sejati.

Kesadaran batin menggerakkan hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horisontal dengan sesama dan segala ciptaan yang melahirkan cipta, rasa dan karya dalam wujud budaya.

Menandai Perayaan 1 Sura, Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta menggelar : “Pahargyan Bojana Kurban Ekaristi Malam Satu Sura dengan tema Nyawiji ing kabudayan, rumaket ing paseduluran, sumarah ing Kristus”, pada Senin (15/6/2026), pukul 19.00 WIB.

Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Bernardinus Haryasmara, MSF., Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF dan Romo Hibertus Hartono, MSF.

Tema ini hendak mengungkapan kesatuan umat dalam menghayati budaya, menenun persaudaraan dan menyatukan dalam pernyataan iman melalui Ekaristi sebagai sumber hidup dan puncak iman pada Kristus.

Malam satu sura dibalut dengan Misa Inkulturasi Budaya Jawa, Pagelaran Seni dan Santap bersama Jenang Sura.

Budaya Jawa sebagai wujud cipta, rasa dan karya seringkali dikenal dengan budaya yang mengandung “werdi sinandi” makna yang dilambangkan, makna yang disimbolisasi meskipun jika dikupas dan dihayati menghadirkan spirit “Prasaja lan Waloka”.

Werdi sinandi yang dihayati dalam rangkaian Perayaan Ekaristi 1 Sura di Paroki Kleco Surakarta tampak dalam perayaan.

Berjalan dalam keheningan dengan membawa lilin menyala yang dikenal sebagai “laku tapa bisu”.

Mlampah wening
Berjalan dalam hening dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah “laku tapa bisu” yakni tradisi berjalan dalam keheningan tanpa mengeluarkan suara. Praktik spiritual dan budaya Jawa ini melatih pengendalian diri, menundukkan ego, dan berpasrah diri kepada Tuhan.

Di Gereja Santo Paulus Kleco, imam bersama umat berjalan mengelilingi gereja sambil membawa lilin yang menyala dan dalam suasana hening. Hal ini juga menjadi ajakan untuk latihan batin, membantu umat untuk lebih peka mendengarkan suara hati dan membersihkan diri dari hawa nafsu, menjauhkan diri dari ucapan atau pikiran negatif selama prosesi berlangsung.

Menjaga lilin agar tetap menyala selama prosesi lampah wening mengingatkan akan tradisi Jawa, nyala api (geni) merupakan elemen sakral yang menyimbolkan kehidupan, pemurnian, dan perlindungan spiritual.

Sementara itu, menjaga “lilin tetap menyala” dalam Gereja Katolik melambangkan kehadiran Kristus sebagai Terang Dunia serta iman dan doa umat yang tak kunjung padam. Lilin menyala sebagai lilin nazar atau lilin doa.

Tradisi lampah wening sangat identik dengan perayaan malam pergantian Tahun Baru Jawa atau malam 1 Sura. (Link Mlampah Wening)

Misa 1 Sura Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

Tata laksana Misa
Tata laksana Perayaan Ekaristi menggunakan Tata Laksana yang ditetapkan Tim Liturgi Keuskupan dengan lagu ordinarium baku dengan bahasa Jawa, iringan gamelan serta lagu-lagu kekidungan yang disarankan.

Gamelan iringi Misa 1 Sura Gereja Santo Paulus Kleco Surakarta, Senin (15/6/2026)

Pewartaan sabda dari Kitab Suci Bahasa Jawa dengan pengantar Misa, homili, doa-doa serta Doa Syukur Agung menggunakan bahasa Jawa.

Mengenakan busana Jawa (Foto : Komsos Kleco)

Busana Jawa
Busana Jawa mewarnai dalam Perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan ekaristi, petugas liturgi, umat banyak yang mengenakan busana Jawa.

Busana Jawa dalam budaya Jawa mengingatkan keutamaan akan tata susila. Tata susila dalam budaya Jawa dijunjung tinggi. Filosofi busana lebih diutamakan melebihi kenyang akan pangan, yang mengandung makna memiliki tata susila yang tinggi, dan mau menjalani askese, mati raga, berpuasa, “cegah dhahar“. Filosofi ini terwujud dalam simbol kapas dan padi.

Sandang (kapas) diutamakan karena berkaitan erat dengan kesusilaan, moral, dan etika manusia dalam menjaga kehormatan tubuh.
Pangan (padi) mewakili kebutuhan makanan / jasmaniah. Kebutuhan fisik (makan) ini dinomorduakan dibandingkan urusan moral dan kesusilaan.

Simbol kapas dan padi digunakan sebagai lambang Keraton Yogyakarta atau lambang resmi Keraton Surakarta. Simbol kapas padi menjadi akar filosofis yang diadaptasi menjadi lambang sila ke-5 Pancasila (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

Persembahan roti dan anggur serta hasil bumi.

Persembahan hasil bumi
Persembahan roti dan anggur disertai dengan persembahan hasil bumi sebagai wujud syukur atas karunia Allah yang telah menciptakan bumi seisinya. Persembahan hasil bumi diwujudkan dalam bentuk gunungan sayuran dan buah.

Santap bersama jenang Sura
Usai perayaan Ekaristi umat menyantap jenang Sura sebagai wujud persaudaraan dan ungkapan doa permohonan mohon keselamatan di tahun baru Sura yang akan ditapaki.

Kesenian Jawa Geguritan, Gendhing dan Kekidungan serta Macapatan.

Kesenian Jawa
Pementasan umat dalam kesenian Jawa dihayati dalam tampilan kesenian macapat, geguritan, gamelan dan kekidungan.

Kirab Jenang Sura dan Gunungan Hasil Bumi.

Pisang raja
Di area ramah tamah dan syukur menyambut tahun baru 1 Sura tampak dua tundun pisang raja yang mengingatkan keutamaan-keutamaan yang menjadi pedoman hidup budaya Jawa yang diwariskan oleh Para Raja Keraton. Pisang raja juga menjadi simbol harapan kemakmuran dan kematangan jiwa.

Saat beramah tamah umat juga menyantap berbagai hidangan dan jajanan tradisional.

Umat memperebutkan gunungan hasil bumi sebagai bentuk tradisi “ngalab berkah” setelah pemberkatan jenang Sura oleh Kepala Paroki Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF.

Dolanan bocah : dakon, congklak dan jamuran.

Dolanan jadul

Pada saat perayaan Malam 1 Sura, tampak anak-anak memainkan dolanan jaman dulu, dolanan tradisional. (*)

Link terkait : Ujub Doa, Pewartaan Sabda, dan Permenungan Sabda.

Leave A Reply

Your email address will not be published.