Ketika Remaja Lintas Iman Belajar Toleransi Lewat Gamelan

Para remaja itu bertemu bukan untuk berdebat soal perbedaan namun belajar toleransi melalui kesenian gamelan.

0 16

Malang, Katolikana.com – Puluhan remaja dan warga dari berbagai latar belakang agama berkumpul memenuhi pendopo Gereja Katolik Maria Diangkat Ke Surga di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang pada Rabu (1/7/2026). Para remaja itu bertemu bukan untuk berdebat soal perbedaan namun belajar toleransi melalui kesenian gamelan.

Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang dikenal kaya akan warisan seni dan budaya, kini menjadi saksi bagaimana alat musik tradisional mampu menjadi jembatan perdamaian.

Musik gamelan dipilih bukan sekadar karena nilai budayanya, melainkan karena filosofi mendalam yang terkandung di dalamnya. Dalam gamelan, sebuah harmoni yang indah tidak akan tercipta jika ada satu instrumen yang mendominasi atau dimainkan dengan ego tinggi.

“Melalui gamelan, kami belajar mempraktikkan toleransi yang sesungguhnya. Kami harus saling mendengarkan, menurunkan ego, dan saling melengkapi. Jika saron, bonang, dan gong tidak dipukul pada momentum yang tepat, musiknya akan kacau. Begitu pula kehidupan bermasyarakat kita,” ujar Yosef Rudi Purwanto.

Yosef Rudi Purwanto, salah satu tokoh penggerak pemuda lintas iman di Tumpang, yang juga sebagai Seksi Seni Budaya Bidang Kesaksian Paroki Maria Diangkat Ke Surga, Tumpang, Kabupaten Malang.

Suasana latihan yang dibimbing oleh Ki Soleh pendiri Padepokan Seni Mangun Dharma Tumpang berlangsung penuh kehangatan dan kebersamaan. Peserta remaja yang menganut agama Islam, Kristen dan Katolik, hingga aliran kepercayaan duduk bersama tanpa sekat. Mereka secara bergantian memegang alat musik, saling mengajari, dan tertawa bersama saat ketukan nada gamelan yang mereka mainkan sempat meleset.

Bagi para remaja setempat, kegiatan ini memberikan ruang positif yang menyegarkan. Selain dapat melestarikan budaya adiluhung, mereka mengaku mendapatkan teman baru di luar lingkaran keagamaan mereka yang biasa. Toleransi tidak lagi sekadar menjadi slogan di atas kertas, melainkan langsung dipraktikkan melalui aksi nyata yang menyenangkan.

“Lewat budaya kita menjaga rahmat persaudaraan, sesuatu yang menggembirakan bahwa melalui budaya kita dapat merawat dan menjaga bersama rahmat persaudaraan lintas iman” tutur Romo Andri Wibowo, Pr, Pastor Rekan Paroki Maria Diangkat Ke Surga Tumpang.

Melalui kegiatan ini, warga Tumpang berharap semangat kebersamaan ini dapat terus bergema ke wilayah lain di Kabupaten Malang. Latihan gamelan lintas iman ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah pembatas, melainkan kekayaan yang jika dirajut dengan baik akan melahirkan harmoni kehidupan yang damai dan tenteram.

Kontributor: Antonius Dedy Susetyo, Malang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.