Tahbisan Imam MSF, Romo Bimo: “Kalau Hanya Bimo, Saya Tidak akan Kuat”

Romo Filipus Bimo Perbowo, MSF akan menjalankan tugas perutusannya sebagai Vikaris Paroki di Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari Solo.

0 10

Yogyakarta, Katolikana.com – Keluarga besar Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF) menerima anugerah istimewa melalui tahbisan imam yang berlangsung pada Selasa (14/7/2026). Dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Diakon Filipus Bimo Perbowo, MSF menerima Tahbisan Imamat.

Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko – Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang sebagai selebaran utama, lalu didampingi oleh Rm. Yohanes Risdiyanto, MSF – Propinsial MSF Jawa, serta Rm. Ignatus Triatmoko, MSF – Rektor Skolastikat MSF Jawa.  Perayaan Ekaristi ini dihadiri hingga 700 orang yang terdiri dari Romo, Bruder, frater, beserta tamu undangan dan keluarga.

Romo Bimo berasal dari Paroki St. Paulus Sendangguwo, Semarang, yang merupakan salah satu paroki pelayanan imam religius MSF Provinsi Jawa. Dalam perjalanan panggilannya, ia memilih motto imamat yang diambil dari Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Motto tersebut menjadi dasar spiritualitas yang menuntun seluruh perjalanan hidup dan pelayanannya sebagai imam.

Sejak kecil, Romo Bimo telah dibiasakan berdoa bersama dalam keluarga. Pengalaman sederhana itu menumbuhkan kerinduan mendalam untuk menjadi seorang pendoa. Baginya, doa bukan sekadar kewajiban, melainkan sumber kekuatan utama dalam menjalani hidup dan panggilan.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko – Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang memimpin pentahbisan Romo Filipus Bimo MSF. Foto: Dominico Palma/Katolikana.com

Kerinduan untuk melayani umat juga tumbuh sejak masa kanak-kanak ketika ia aktif di Stasi Santo Ignatius Loyola Banjardowo. Kesempatan membantu menjemput para imam yang datang melayani umat membangkitkan keinginannya untuk turut ambil bagian dalam karya pewartaan Injil. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa imamat bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melayani umat Allah.

Dalam proses pembinaan hingga masa orientasi pastoral, khususnya ketika menjalani pelayanan di Paroki Santo Bonifasius Alasa, Nias Utara, Romo Bimo semakin diyakinkan bahwa kekuatan untuk menjalani panggilan bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang berkarya dalam hidupnya.

“Saya membayangkan perjalanan yang jauh dan tidak mudah. Kalau hanya Bimo yang ada dalam diri saya, saya tidak akan kuat. Tetapi sungguh saya merasakan Kristus yang tinggal dalam diri saya, dalam hidup saya, sehingga sungguh menguatkan saya,” ungkap Romo Bimo.

Perayaan Tahbisan Imam dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Dalam homilinya, Mgr. Rubi mengingatkan bahwa seorang imam harus selalu menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh hidup dan pelayanannya.

“Dalam menghadapi berbagai tantangan, godaan, ataupun ketika semangat pelayanan mulai memudar, seorang imam harus selalu menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh kehidupannya. Bahaya terbesar bagi seorang imam adalah menjadi sekadar pemimpin perayaan atau pelayan tanpa menghayati apa yang dirayakannya,” tutur Mgr. Rubi.

Ia juga menegaskan bahwa perjalanan formasi selama kurang lebih sepuluh hingga tiga belas tahun telah menjadi kesempatan bagi para calon imam untuk mengalami kasih Allah secara nyata. Tahbisan ini menjadi sukacita bagi Kongregasi MSF, keluarga Romo Bimo, serta seluruh umat yang mendukung perjalanan panggilannya.

Dengan menghidupi motto “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” Romo Bimo diharapkan semakin setia menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan imamatnya di tengah Gereja dan masyarakat.

Dalam pengumuman perutusan yang dibacakan oleh Romo Risdi sebagai Romo Propinsial, Romo Filipus Bimo Perbowo, MSF akan menjalankan tugas perutusannya sebagai Vikaris Paroki di Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari Solo.

Ia mengajak umat untuk mendoakan Romo Bimo agar dikuatkan oleh Roh Kudus, setia dalam pelayanan, dan menjadi gembala yang penuh kasih bagi umat di tempat perutusan yang baru.

Kontributor: Fr. Dominico Palma Caritas Devinanto, MSF, Yogyakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.