Menaladan Hidup Santa Klara dari Asisi

Yehezkiel 2:8-3:4; Matius 18:1-5;10.11-14

0 15

Katolikana.com – Perayaan liturgi pada 11 Agustus 2026 mengajak kita merenungkan hidup Santa Klara dari Asisi. Di tengah dunia yang gemar menumpuk harta, sosoknya tampil sebagai sosok kontras yang mencerahkan.

Ia menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah kutukan, melainkan jalan menuju kemerdekaan sejati.

Relevansi di era kini
Spiritualitasnya menawarkan relevansi mendalam bagi kita yang hidup di era konsumerisme ini.

Santa Klara adalah wanita yang mendalami sabda Tuhan layaknya nabi Yehezkiel. Ia tidak sekadar mendengar, melainkan membaca, mencerna, dan menghidupi firman itu dalam keseharian.

Sabda Tuhan menjadi makanan rohani yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Dari permenungan yang dalam itulah ia menemukan panggilan untuk menjadi terang.

Ia menjadikan dirinya hamba Tuhan dan pelayan bagi orang-orang miskin. Baginya, melayani Kristus berarti melayani mereka yang lapar, telanjang, dan tersingkir.

Klara tidak pernah menempatkan dirinya di atas mereka yang dilayaninya. Ia justru turun ke tingkat yang paling rendah agar dapat mengangkat derajat sesama.

Dengan memilih miskin dan rendah hati di hadapan Tuhan, Klara memusatkan perhatiannya pada pelayanan. Ia tidak terganggu oleh keinginan memiliki atau kecemasan akan masa depan.

Hati lapang tidak terikat benda duniawi
Hatinya lapang karena tidak terikat pada benda-benda duniawi. Tangannya yang kosong justru membuatnya leluasa meraih mereka yang membutuhkan uluran kasih.

Klara mencapai kesucian dengan menjadi miskin seperti Kristus. Ia meneladani Sang Guru yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba.

Kesucian bukanlah tujuan akhir yang diraih dengan usaha sendiri, melainkan anugerah yang mengalir dari cinta. Mahkota kemiskinannya adalah kekudusan yang terpancar dari hidup yang total bagi Allah dan sesama.

Inspirasi untuk peka
Hidup Santa Klara menjadi inspirasi bagi kita untuk peka terhadap kebutuhan sesama. Kita mungkin tidak dipanggil untuk meninggalkan segala harta secara radikal, tetapi kita diajak untuk tidak serakah. Kepekaan dimulai dari melihat saudara kita yang menderita di sekitar kita, lalu bertindak nyata, sekecil apa pun.

Relevansi pesan Klara sangat terasa saat ini. Kemiskinan struktural dan ketidakadilan masih merajalela. Banyak orang kelaparan di tengah tumpukan makanan yang terbuang.

Spiritualitas Klara mengajak kita untuk hidup sederhana dan berbagi. Dengan begitu, kita ikut membangun peradaban kasih yang lebih manusiawi.

Akhirnya, marilah kita meneladani Santa Klara. Jadikan kemiskinan sukarela sebagai jalan untuk memerdekakan jiwa.

Biarlah kesucian menjadi mahkota hidup kita melalui pelayanan yang tulus kepada yang miskin.

Dengan demikian, kita pun ikut mewartakan Kabar Baik melalui tindakan nyata, sebagaimana Klara telah melakukannya sepanjang hidupnya.

Selasa, 11 Agustus 2026
Peringatan Santa Klara, Perawan
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.