Merawat Terang Kristus di Bangku Sekolah: Sinergi Pendidikan Katolik se-Regio Sumatera

PALEMBANG, Katolikana.com – Di balik rimbunnya pepohonan di kawasan Wismalat Podomoro, sebuah langkah besar bagi masa depan generasi muda Katolik di Pulau Sumatera sedang dijejakkan. Mulai Rabu – Sabtu, (11-14/3/2026), para pengelola pendidikan Katolik dari Lampung hingga Aceh berkumpul dalam satu semangat: memastikan sekolah Katolik tetap menjadi “garam dan terang” di tengah derasnya arus zaman.
Pertemuan strategis yang diinisiasi oleh Komdik Regio Sumatera ini menghadirkan para pengurus Komdik, Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan, pengurus Yayasan, hingga pimpinan Perguruan Tinggi Katolik. Perhelatan ini dibuka secara resmi melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD Yohanes Kristianto, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang.

Menanam Akar di Jalan yang Patut
Pendidikan dalam tradisi Katolik bukanlah sekadar transfer ilmu pengetahuan. Ia adalah sebuah perutusan. Hal ini selaras dengan nats Kitab Suci yang menjadi refleksi utama kegiatan ini: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6).
RD Gading Johanes Sianipar, dalam penjelasannya, menegaskan bahwa sekolah Katolik memikul tanggung jawab membentuk manusia yang utuh (pribadi yang integral).
“Pendidikan Katolik memiliki peran strategis dalam membentuk pribadi yang berkembang secara seimbang dalam aspek intelektual, spiritual, moral, dan sosial. Melalui nilai-nilai Injili seperti kasih, keadilan, dan kejujuran, kita ingin lulusan kita tidak hanya cerdas, tapi memiliki iman yang matang,” ujar Romo Gading.

Menjawab Tantangan Zaman dengan Inovasi
Namun, Romo Gading juga tidak menutup mata terhadap kompleksitas dunia pendidikan saat ini. Kebijakan nasional yang dinamis dan tuntutan kompetensi guru menjadi tantangan yang harus dijawab dengan kolaborasi, bukan kompetisi antar-yayasan.
Untuk itulah, pertemuan hingga Sabtu (14/3/2026) ini menghadirkan para pakar yang kompeten di bidangnya:
- RP Antonius Vico Christiawan, SJ: Mengupas tuntas evaluasi diri sekolah Katolik.
- RP Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM: Menawarkan gagasan kurikulum unggul yang memiliki kekhasan nilai Katolik.
- Drs. L. Manik Mustikohendro, M.Si: Memaparkan data peta kekuatan sekolah Katolik di Sumatera.
- Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si: Mengusung konsep Sentra Belajar Guru sebagai wadah peningkatan profesionalisme pendidik.
Empat Pilar Strategis
Mengusung tema “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera,” pertemuan ini bukan sekadar diskusi meja bundar. Ada target konkret yang ingin dicapai:
- Merumuskan mekanisme Sentra Belajar Guru sebagai wadah berbagi praktik baik.
- Membahas kerangka Kurikulum Khas Katolik yang akan membedakan sekolah Katolik dengan lembaga lainnya.
- Menyusun strategi implementasi kurikulum di tiap satuan pendidikan.
- Menyepakati pembagian peran antar-keuskupan demi pemerataan kualitas pendidikan.

RD Dionesius Anton Liberto selaku ketua panitia kepada awak media ini mengungkapkan bahwa dalam konteks luasnya wilayah Regio Sumatera yang membentang dari ujung utara hingga selatan dengan keragaman tantangan lokalnya koordinasi antara Komisi Pendidikan (Komdik) dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak.
Selama ini, setiap keuskupan dan yayasan mungkin memiliki kekuatannya sendiri, namun tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut adanya langkah serentak. Melalui kerja sama yang terarah dan berkelanjutan, visi pendidikan Katolik tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Sinergi ini bertujuan menyelaraskan kebijakan agar setiap sekolah, sekecil apa pun di pelosok Sumatera, tetap berpijak pada jati diri Gereja yang kokoh sembari tetap lincah menjawab tantangan global.
Dua Pilar Strategis: Guru dan Kurikulum
RD Agustinus KG Faran Ketua Komdik Regio Sumatera menjelaskan bahwa pertemuan di Wismalat Podomoro ini menggarisbawahi dua langkah revolusioner sebagai wujud nyata perutusan Gereja:
1. Sentra Belajar Guru: Jantung Profesionalisme Pembentukan Sentra Belajar Guru (SBG) dipandang sebagai laboratorium intelektual dan spiritual bagi para pendidik. Guru di sekolah Katolik tidak hanya dituntut cakap secara pedagogis dan teknologi, tetapi juga harus menjadi saksi iman. SBG akan menjadi wadah bagi guru untuk terus belajar, meningkatkan profesionalisme, dan memperbarui pendekatan mengajar agar tetap relevan dengan generasi Z dan Alfa. Dengan guru yang berkualitas, kualitas pendidikan akan otomatis terangkat.
2. Kurikulum Khas Katolik: Kompas Identitas Di tengah implementasi kurikulum nasional, sekolah Katolik merasa perlu memiliki “kompas” tambahan. Penyusunan dan implementasi Kurikulum Khas Katolik bertujuan untuk menyatukan praktik pendidikan di seluruh Regio Sumatera. Kurikulum ini bukan sekadar tambahan materi agama, melainkan sebuah cara pandang (weltanschauung) yang mengintegrasikan nilai-nilai Injili ke dalam setiap mata pelajaran. Ini adalah strategi untuk memastikan bahwa pendidikan Katolik sungguh menjadi sarana perutusan Gereja, di mana setiap siswa diajak untuk melihat dunia melalui kacamata kasih, kebenaran, dan tanggung jawab sosial.
“Melalui kerja sama yang erat dan dialog yang berkesinambungan ini,” ungkap Faran , “kita ingin memastikan bahwa sekolah-sekolah Katolik di Sumatera bukan sekadar gedung tua yang sarat sejarah, melainkan pusat-pusat keunggulan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus setia pada perutusan suci Gereja.”

Pendidikan Katolik adalah sarana perutusan Gereja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa kehilangan jati diri. Di Wismalat Podomoro, komitmen itu diperbarui. Bahwa setiap ruang kelas di sekolah Katolik adalah ladang subur tempat nilai-nilai Kerajaan Allah disemaikan, agar kelak lahir pemimpin bangsa yang memiliki intelektual tinggi namun tetap rendah hati dan takut akan Tuhan.

Setelah purna bakti guru di SD Xaverius 2 Palembang saat ini sebagai pendidik di SMA Xaverius 2 Palembang dan SMP Kusuma Bangsa, Dosen Universitas Katolik Musi Charitas. Sekretaris DPP Santo Yoseph Palembang, jurnalis / kontributor di media lokal dan nasional dan aktif di beberapa organisasi.