Bangun Kesiapsiagaan Gereja, Komisi PSE KAPal Bersama Yayasan Karina Sosialisasikan Program Paroki Tanggap Bencana

PALEMBANG, KATOLIKANA – Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang (KAPal) bersama Yayasan Karina (Caritas Indonesia) menggelar sosialisasi intensif “Program Paroki Tangguh dan SOP Tanggap Darurat” pada 13–15 Maret 2026 di Wismalat Podomoro, Palembang.
RD Laurentius Rakidi selaku ketua PSE Keuskupan Agung Palembang menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret menindaklanjuti hasil Hari Studi Imam-Imam Regio Sumatra untuk memperkuat kapasitas Gereja dalam menghadapi potensi bencana di wilayah Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Sebanyak 100 peserta yang terdiri dari pengurus PSE paroki, komunitas kategorial, serta relawan kebencanaan hadir untuk menyatukan langkah dalam pelayanan kemanusiaan.

Iman yang Mewujud dalam Tindakan Nyata
Acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal KAPal, Romo Yohanes Kristianto. Dalam homilinya, Romo Kris menekankan bahwa perhatian Gereja terhadap lingkungan hidup dan bencana adalah respons atas seruan Paus Fransiskus.
“Gereja memiliki tiga pilar: Liturgi, Diakonia (pelayanan kasih), dan Martiria (kesaksian). Pelayanan kasih tidak akan memiliki kekuatan jika tidak bersumber dari iman yang mendalam. Iman yang militan harus diwujudkan secara total dalam tindakan nyata, terutama bagi mereka yang terdampak bencana,” tegas Romo Kris.
Beliau mengingatkan bahwa wilayah KAPal memiliki kerawanan tinggi terhadap gempa bumi, banjir, hingga kebakaran hutan. Oleh karena itu, paroki dituntut tidak hanya menjadi “penonton”, melainkan garda terdepan yang terorganisir melalui relawan yang terampil dan sigap.

Mekanisme Tanggap Darurat yang Terstruktur
Dalam sesi materi, Koordinator Divisi Emergency Response (ER) Caritas Indonesia, Rudy Raka, memaparkan mekanisme penanganan bencana yang terbagi dalam empat skala dampak:
- Skala I (Hijau): Dampak kecil, ditangani di tingkat paroki.
- Skala II (Kuning): Dampak luas, koordinasi tingkat keuskupan.
- Skala III (Oranye): Dampak nasional, dukungan jaringan Caritas Indonesia.
- Skala IV (Merah): Dampak sangat luas/kompleks, melibatkan jaringan internasional (Caritas Internationalis).
“Penentuan skala dilakukan dalam 24 hingga 72 jam pertama setelah bencana untuk memastikan bantuan diberikan secara cepat, tepat, dan akuntabel sesuai standar kemanusiaan global,” jelas Rudy.

Relawan sebagai Tulang Punggung Kemanusiaan
Pada hari kedua, Uskup Emeritus KAPal sekaligus Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, memberikan penguatan kepada para peserta. Beliau menegaskan bahwa relawan adalah wajah nyata kasih Tuhan di tengah masyarakat.
“Relawan bukan sekadar tenaga tambahan, melainkan wujud penghargaan terhadap nilai kemanusiaan. Anda diharapkan menjadi penggerak solidaritas berbasis komunitas, memetakan potensi risiko di wilayah masing-masing, dan menjadi tulang punggung Gereja dalam meringankan penderitaan sesama,” ujar Mgr. Aloysius.

Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali pemahaman mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) kebencanaan, pemetaan ancaman, hingga kajian kapasitas wilayah. Harapannya, setiap paroki di Keuskupan Agung Palembang mampu membangun sistem kesiapsiagaan yang mandiri dan kolaboratif demi melindungi martabat manusia dan kelestarian alam.

Setelah purna bakti guru di SD Xaverius 2 Palembang saat ini sebagai pendidik di SMA Xaverius 2 Palembang dan SMP Kusuma Bangsa, Dosen Universitas Katolik Musi Charitas. Sekretaris DPP Santo Yoseph Palembang, jurnalis / kontributor di media lokal dan nasional dan aktif di beberapa organisasi.