Yogyakarta, Katolikana.com — Tiga puluh orang muda Katolik dari berbagai kota di Indonesia mengikuti Pelatihan Laudato Si’ Generation (LSG) Batch 2 yang diselenggarakan Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) bekerja sama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), 13–15 Maret 2026, di Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
Para peserta berasal dari Surabaya, Jakarta, Cilacap, Surakarta, Semarang, Malang, dan Yogyakarta, dengan latar belakang guru, pekerja muda, dan pelajar Katolik. Selama tiga hari, mereka diajak mendalami ajaran ensiklik Laudato Si’, membangun kepekaan ekologis, sekaligus merancang aksi nyata di tengah kehidupan sehari-hari.
Kurikulum Terpadu: Dari Spiritualitas hingga Advokasi
Pelatihan dibuka oleh Matilda Tjundawan selaku ketua panitia dengan mendiskusikan problem lingkungan hidup riil di sekitar ruang hidup para peserta. Sesi demi sesi kemudian membangun kesadaran ekologis secara berlapis.
Cyprianus Lilik K.P., Koordinator Nasional GLSI, memandu peserta melalui Analisis Sosial dan Problem Solving, sementara Kristien Yuliarti — anggota Tim Kerja Nasional GLSI sekaligus pendiri Omah Hijau Malang — menyampaikan spiritualitas Laudato Si’.
Prof. Dr. Pramana Yuda, guru besar Fakultas Teknobiologi UAJY sekaligus Ketua Tim Laudato Si’ UAJY, mengajak peserta mengenali krisis ekologi melalui pengamatan burung sebagai bioindikator kualitas udara dan habitat, serta memperkenalkan konsep soundscape sebagai penanda lingkungan hidup yang sehat.
Dimensi pangan dihadirkan oleh Ibu Ester dari Kebun Candi yang mempraktikkan pertanian urban dan gaya hidup ugahari, serta Bhuki Prima Sari dari Bhumi Bhavana yang memperkenalkan kekayaan ragam pangan nusantara.
Dimensi struktural dan advokasi disampaikan oleh R.D. Marten L.P Jenarut, Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Imam asal Ruteng ini memaparkan alasan Gereja Katolik menolak tawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang diajukan pemerintah melalui PP No. 25 Tahun 2024, termasuk kerangka pertimbangan teologis-moral yang mendasarinya.

Pertobatan Ekologis dan Perutusan Pasca Pelatihan
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Rm. Martin Jenarut. Sebagai bentuk komitmen lanjutan, para peserta menyusun secara partisipatif Tantangan Laudato Si’ 21 Hari yang akan dijalani setelah pelatihan usai.
Salah satu momen paling berkesan datang dari Lala, pelajar kelas 10 SMA Regina Pacis Solo, yang pada sesi refleksi Sabtu malam melontarkan pertanyaan tajam: “Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari perilaku manusia, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan cara pandang kita atas arti kerusakan alam?”
Ketua panitia Matilda Tjundawan menyatakan bahwa momentum ini menjadi ruang berbagi perspektif dan pengalaman yang kemudian bisa dituangkan dalam praktik baik bersama. “Kami yakin benih-benih kebaikan akan ditebar di berbagai pelosok,” ujarnya.

Bagian dari Gerakan yang Lebih Besar
Pelatihan LSG Batch 2 ini merupakan bagian dari upaya GLSI menjangkau orang muda, sesuai prioritas yang ditetapkan dalam Pertemuan Nasional 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ pada September 2025 di Sentul City.
GLSI juga baru saja merampungkan Pelatihan Animator of Animators Batch V secara daring sepanjang Februari–Maret 2026, dan tengah mempersiapkan Pelatihan Animator Laudato Si’ Batch VI yang akan berlangsung April–Juni 2026.
Prof. Pramana Yuda menutup diskusi dengan pesan agar para peserta tidak hanya bergerak dalam aksi ekologis yang antroposentris, melainkan juga mendasarkan setiap tindakan pada rasa hormat dan pembelaan terhadap seluruh ciptaan. (*)
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.