Kemuliaan Tuhan Yesus dan Bapa-Nya

0 17

Kisah Para Rasul 20:17-27; Yohanes 17:1-11a

Katolikana.com – Bacaan Yohanes 17:1-11a, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya sesaat sebelum sengsara-Nya.

Fokus kemuliaan
Doa ini sering disebut doa imam agung, di mana Yesus memohon agar dimuliakan. Kata kunci yang berulang adalah “kemuliaan”, “dimuliakan”, dan “memuliakan”. Memahami makna istilah ini penting untuk menangkap inti relasi Yesus dengan Bapa serta pesan bagi umat Kristen.

Makna kemuliaan
“Kemuliaan” (Yunani: doxa) bukan sekadar kehormatan atau kemasyhuran duniawi. Dalam konteks ini, kemuliaan mengacu pada pancaran kehadiran, sifat, dan kebesaran Allah yang sempurna. Ketika Yesus berbicara tentang kemuliaan, Ia merujuk pada penyataan diri Allah yang kudus, penuh kasih, dan berdaulat, yang dinyatakan melalui karya penebusan di kayu salib.

Memuliakan dan dimuliakan
“Memuliakan” berarti membuat nyata atau mengakui kemuliaan Allah melalui tindakan konkret. “Dimuliakan” adalah keadaan di mana kemuliaan itu dinyatakan dan diakui. Dalam doa ini, Yesus menyebut bahwa Bapa memuliakan Dia, dan Dia memuliakan Bapa. Ini mengacu pada ketaatan Yesus sampai mati di salib sebagai puncak penyataan kemuliaan Allah, sekaligus kebangkitan dan kenaikan-Nya sebagai pengesahan dari Bapa.

Relasi Yesus dan Bapa: saling memuliakan
Istilah-istilah ini menunjukkan relasi yang sangat erat dan setara antara Yesus dan Bapa. Yesus berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau” (Yoh. 17:1). Artinya, kemuliaan bukanlah sesuatu yang diambil sendiri, tetapi diberikan dan dikembalikan dalam kasih yang sempurna. Bapa memuliakan Anak dengan memberikan kuasa atas semua manusia, dan Anak memuliakan Bapa dengan menyelesaikan karya keselamatan.

Relasi berlandaskan kasih dan misi

Relasi antara Bapa dan Putera tidak hanya fungsional, melainkan personal dan intim. Yesus menyatakan bahwa Bapa mengasihi-Nya sebelum dunia dijadikan (Yoh. 17:24).

Kemuliaan yang dibicarakan adalah ekspresi kasih mutlak antara pribadi pertama dan kedua dalam Allah Tritunggal. Melalui doa ini, Yesus menunjukkan bahwa misi-Nya di dunia adalah untuk menyatakan nama Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa— semuanya demi kemuliaan bersama.

Pesan bagi umat Kristen
Pertama, kemuliaan sejati tidak datang dari kekuasaan atau popularitas, melainkan dari ketaatan dan kasih yang berkorban. Yesus dimuliakan justru saat Ia “direndahkan” di kayu salib.

Kedua, umat Kristen dipanggil untuk ikut serta dalam kemuliaan itu melalui persatuan dengan Kristus. Yesus mendoakan agar murid-murid melihat kemuliaan-Nya (Yoh. 17:24), sehingga mereka mengalami sukacita yang sempurna dan hidup dalam kebenaran Allah.

Umat Kristen dapat menghayati pesan ini dengan menjadikan tindakan memuliakan Allah sebagai tujuan utama hidup.

Bagaimana caranya?

Pertama, dengan menaati kehendak Allah seperti Yesus taat.

Kedua, dengan melayani sesama dalam kasih, karena melayani berarti memancarkan kemuliaan Kristus.

Ketiga, dengan menjaga kesatuan di antara orang beriman, sebab Yesus menghubungkan kemuliaan-Nya dengan kesatuan murid-murid (Yoh. 17:11a, 21-22).

Penghayatan iman sehari-hari
Secara konkret, penghayatan itu diwujudkan dalam doa, pembacaan Alkitab, dan sikap rendah hati serta rela berkorban di lingkungan keluarga, pekerjaan, dan jemaat.

Ketika seorang Kristen memilih mengampuni, berbuat adil, dan memberitakan Injil, ia sebenarnya memuliakan Bapa sama seperti Yesus memuliakan Bapa.

Dengan demikian, kemuliaan Allah menjadi nyata dalam hidup manusia, dan relasi anak-Bapa yang penuh kasih itu terus berlangsung selamanya.

Apakah kita siap meneladan Yesus dan ketaatan-Nya?

Selasa, 19 Mei 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.