Katolikana.com—Tahun 2021, Stefanus Cancan mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik nasional.
Sutradara, produser film, dan pendiri Kératif Foundation organisasi—nirlaba yang berfokus pada pemerataan pendidikan seni, khususnya film—ini menekuni dunia perfilman sejak 2014, ketika ia berusia 15 tahun.
Selain penghargaan di tingkat nasional, film-film yang disutradarai Cancan berhasil lolos dan diputar di beberapa festival film di United Kingdom, Berlin, Nigeria, India, dan Filipina.
Film terbarunya lolos sebagai nominasi film pendek terbaik Piala Maya 2022.
“Film merupakan tempat saya bertumbuh dan bisa melihat dunia luar,” ujar Cancan ketika ditemui Katolikana di Lokasi Shooting Yogyakarta.

Masa Keemasan
Menurut Cancan, perfilman Indonesia saat ini sedang berada di masa keemasaan. Sebelum pandemi perfilman mengalami kenaikan dari jumlah penontonya, antusiasme, dan kualitasnya.
“Pandemi melanda, perfilman di Indonesia sempat terhenti pertumbuhan secara statistik. Namun, mulai 2022, perfilman menggeliat lagi. Banyak film baru yang berkualitas muncul. Sekarang bintang-bintang baru bermunculan,” ujar Cancan.
Cancan menambahkan, bukan hanya talenta pembuat film tetapi banyak aktor dan stakeholder di perfilman sedang mengalami masa pertumbuhan.
Kualitas Film Indonesia
Menurut Cancan, secara kualitas perfilman Indonesia bisa dikatakan sangat baik. Hal itu disebabkan oleh ekosistem yang terjadi di dunia perfilman berjalan lancar.
“Kualitas film Indonesia tak kalah saing dengan negara lain. Sangat banyak film Indonesia yang menang di festival-festival ternama, misalnya Berlin, Toronto, Busan,” ujarnya.
Tantangan
Menurut Cancan, tantangan perfilman Indonesia saat ini sangat banyak. Bukan hanya produksi filmnya saja tetapi juga edukasi film.
“Edukasi merupakan tantangan terbesar dalam perfilman,” tegasnya.
“Jumlah kampus dan SMK film di Indonesia sangat minim. Kampus film di Indonesia kualitasnya belum terlalu bagus dibandingkan kampus-kampus film di negara tetangga, seperti Thailand. Tenaga pengajar dan sarana prasarana yang disediakan di kampus juga belum memadai,” tambahnya.

Cancan mengatakan, berbicara mengenai aspek produksi, tantangan utamanya adalah jam kerja.
“Saat ini pekerja film sedang memperjuangkan bagaimana agar produksi film memiliki jam kerja yang sehat. Saat ini jam kerja pekerja film 15-17 jam per hari. Pekerja film berusaha agar jam kerja perhari maksimal 12-14 jam,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan di bidang-bidang lain banyak. Namun yang menjadi tantangan utama adalah edukasi dan jam kerja dalam produksi.

Harapan
Cancan memiliki harapan yang besar untuk perfilman Indonesia. “Semoga industri perfilman Indonesia dapat meningkat secara kualitas, kuantitas, dan kesejahteraan orang-orang di dalamnya,” paparnya.
Cancan menegaskan perfilman Indonesia akan maju bila masyarakat Indonesia juga mendukung perfilman Indonesia.
“Mulailah dengan menyukai dan menonton film Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia tidak suka menonton film Indonesia. Bagaimana perfilman Indonesia bisa maju kalau masyarakatnya tidak mendukung, menonton, dan menyukai film Indonesia?” ujar Cancan.
Cancan menilai, perfilman Indonesia saat ini sudah sangat baik, tidak kalah saing dengan film luar.
“Mari dukung karya-karya film yang diciptakan oleh pekerja-pekerja film yang luar biasa di Indonesia,” pungkasnya.
Kontributor: Eunike Lois Stefania, Zefanya Septiani Haryanto, Hizkia Nandana Umbu Kawuji, Johanes Oxavasco J.P.M.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.