Antologi Secarik Kisah: DOKTRIN “JUST SPEAK UP” – 3

Menemukan makna di balik lomba story telling di bangku SMA.

0 72

Semua berawal dari keinginanku untuk ikut story telling di kesempatan English day 2017. Kala itu adalah semester kelimaku di bangku SMA. Sebelumnya, aku belum pernah mengikuti lomba story telling.

Hari Senin, 20 November 2017, aku mengirimkan formulir kepada OSIS PPSK SMA Xaverius 1 Palembang. Peserta yang terdaftar di panitia berjumlah lima belas orang dari semua kelas. Kelima belas orang tersebut akan diseleksi pada hari Selasa, 21 November 2017 dan menjaring sepuluh orang yang berhak masuk ke babak final pada hari Rabu, 22 November 2017. Aku sangat beruntung karena formulirku masih diterima oleh koordinator lomba. Padahal, batas waktu pengumpulan sudah lewat.

Mulai malam itu aku menghafal dan menghidupkan teks. Aku sengaja mengambil jam belajar. Gladi bersih kulakukan secara pribadi keesokan harinya di saat jam pelajaran sekolah. Saat teman-temanku berpraktek olahraga di lapangan, aku justru berkutat dengan teks narasi “Bali Straits” di dalam kelas. Aku meminta bantuan kakak kelasku untuk membuatkan properti selagi aku berlatih.

Sepulang sekolah, aku bergegas ke paviliun dan berganti kostum ala orang Bali. Setelah makan siang, aku dan teman-teman yang mengikuti English Day menuju ke SMA Xaverius 1. Lomba dimulai pukul 14.00 WIB, maka kami berangkat pukul 13.30 untuk melakukan persiapan di sana.

Moses Gautama/istimewa

Aku mengikuti lomba story telling bersama Fermino Billy Deva Septaldo (Billy). Dia adalah adik kelasku sekaligus utusan dari kontingen Seminari. Billy mendapat urutan tampil ke-7, sedangkan aku tampil di urutan 11. Karena berada di urutan akhir, aku dapat belajar dari peserta lain yang lebih dahulu maju. Sebagai informasi, aku adalah satu-satunya peserta dari kelas XII. Pesaing-pesaingku kebanyakan adalah kelas X dan segelintir orang dari kelas XI.

Aku menjadi minder saat mereka tampil dengan aksen British dan American yang fasih. Aku tidak bisa menghilangkan logat Jawa-ku yang medok. Lagipula, mengubah-ubah suara karakter itu sulit sekali. Maka, aku keluar dari ruangan lomba untuk berlatih mengubah suara.

Sebenarnya peraturan lomba tidak memperbolehkan peserta keluar ruangan sebelum semua peserta maju. Namun, pihak panitia mengijinkan karena aku keluar dengan alasan buang air kecil. Setelah beberapa menit di luar, aku kembali masuk ke dalam. Belum ada 5 menit aku duduk, namaku sudah dipanggil oleh panitia. Aku panik. Setelah dua kali dipanggil, barulah aku melangkahkan kaki ke depan. Aku mulai mempersiapkan properti di meja yang telah disediakan.

Aku pun mulai bercerita di hadapan dua juri dan empat belas peserta lain. Awalnya sulit mengungkapkan kata-kata yang sudah kuhafal. Saat perhatian mereka sudah fokus tertuju padaku, aku baru mengucapkannya dengan lancar dengan gestur yang sesuai. Menurutku, di luar masalah logatku, aku cukup lancar ber-story telling.

Babak penyisihan ini usai pukul 15.45. Peserta yang berhasil memasuki babak final sebenarnya dapat dilihat di akun Instagram SMA Xaverius 1, namun aku tidak bisa mengakses informasi itu karena aturan Seminari. Maka, aku menunggu hasil keputusan dewan juri di luar ruangan lomba.

Teman-teman seminaris yang mengikuti English Day 2017 ini pun melakukan hal yang sama denganku. Pukul 17.30 dewan juri dan panitia keluar dari ruangan. Panitia segera memberitahukan keptusan juri kepada kami. Aku dan Billy masuk 10 besar.

Salah seorang juri menghampiri kami dan mengatakan bahwa logat Billy masih terlalu medok dan aku justru berlogat India. Aku terkejut karena ternyata logat yang kuhasilkan justru seperti orang India. Kendati demikian, aku tetap senang dan bersemangat untuk mempersiapkan diri menghadapi babak final keesokan harinya.

Hari Selasa, 22 November 2017 pukul 14.00 aku menjalani babak final. Aku membawakan cerita yang sama, yakni “Bali Straits”. Kali ini wajahku di-make up oleh kakak kelasku dan pakaianku pun dibuat semirip mungkin dengan pakaian orang Bali. Hal ini membuat kepercayaan diriku naik dan membuat aku yakin untuk tampil ke depan.

Pembukaan story telling-ku, kumulai dengan menggerakkan kepala secara patah-patah seperti gerakan khas tarian Bali. Gerakan ini kutambahkan juga dengan seruan ‘cak cak cak’. Di tengah cerita aku mencoba berinteraksi dengan penonton. Selanjutnya, aku bercerita sama seperti babak penyisihan. Setelah babak final usai, aku langsung kembali ke Seminari karena pengumuman pemenang masih tiga bulan lagi.

Lomba story telling ini mendorong aku untuk mengapresiasi setinggi-tingginya doktrin ‘just speak up’. Doktrin ‘just speak up’ sebenarnya bukan hal baru. Dalam hal ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berbicara di depan umum. Di dunia ini, banyak anak yang ingin bercerita di muka umum. Bahkan, banyak di antara mereka yang mempunyai potensi untuk ber-story telling dalam bahasa asing. Masalahnya, sejak kecil mereka sudah terkungkung dengan ilmu dan aturan yang saklek.

Lalu, kapan mereka bisa bereksplorasi secara mandiri? Mudahnya, kapan mereka punya keberanian berbicara di depan umum? Story telling harus mendorong anak untuk berusaha bercerita dan memukau dunia.

Doktrin ‘just speak up’ tidak hanya berlaku untuk story telling. Dalam kenyataannya, perjalanan panggilanku pun diwarnai doktrin itu. Namun, doktrin ‘just speak up´ dalam konteks ini diartikan dengan keterbukaan. Semua hambatan, halangan, tantangan, dan rintangan (atau apa pun itu namanya), tidak pernah kusimpan sendiri di dalam hati.

Bercerita kepada pembimbing (formator) dan kawan seperjalanan adalah bentuk keterbukaan dan kesediaanku untuk dibentuk menjadi seorang gembala sejati. Bagiku, sikap introvert tidak akan membantu proses pembentukan diri di jalur khusus ini. Umat membutuhkan gembala yang terbuka pribadinya. Keterbukaan tidak lantas menyalahi kaidah-kaidah hukum privasi. Keterbukaan hanya soal kesediaan untuk dibentuk hingga akhir hayat dengan segala kerendahan hati.

Bercerita kepada pembimbing (formator) dan kawan seperjalanan adalah bentuk keterbukaan dan kesediaanku untuk dibentuk menjadi seorang gembala sejati.

Penulis: Moses Gautama 

*Antologi Secarik Kisah adalah karya para seminaris St. Paulus Palembang kelas Rethorica A yang menyelesaikan studinya pada Mei 2019 ini.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.