Keluarga Katolik Asmat dalam Pusaran HIV-AIDS

0 147

Ada satu hal yang menjadi bahan permenungan untuk saya yang sangat mencolok adalah perbedaan antara respon penanganan terhadap peristiwa KLB campak tahun 2018 dan respon penanganan yang diberikan kepada masalah HIV-AIDS ini. Kalau masalah KLB campak dalam sekejap mata, berita sudah beredar ke mana-mana, malah sampai di luar negeri. Sangat berbeda dengan respon terhadap HIV-AIDS ini. Kadang-kadang seolah-olah hilang saja, tidak ada berita yang menggemparkan,” tutur Vikjen Keuskupan Agats, Pastor Vince Cole, MM pada pembukaan Pertemuan Lintas Sektor Penanggulangan HIV-AIDS di Kabupaten Asmat, di Aula Pusat Pastoral Keuskupan Agats pada Rabu, (07/08/2019).

 

Tanah Papua, termasuk Asmat sedang dilanda badai HIV dan AIDS. Data Sistem Informasi HIV-AIDS (SIHA) Dinas Kesehatan Provinsi Papua per 31 Maret 2020 mempelihatkan dalam kurun waktu 28 tahun (1992-2020), penderita HIV dan AIDS di Provinsi Papua mencapai 44.025 kasus.

Pada data itu, Kabupaten Asmat tercatat 177 kasus, jumlah ini sudah tertera sejak 30 September 2018 silam. Artinya, selama satu setengah tahun terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat belum melaporkan lagi kasus HIV dan AIDS yang baru ditemukan di Asmat. Kita dapat memastikan bahwa telah terjadi penambahan kasus HIV-AIDS di Asmat dalam dua tahun terakhir meskipun belum terbaca dalam data SIHA tersebut.

Hampir seluruh penduduk di Kabupaten Asmat menganut agama Katolik, kecuali di daerah Pantai Kasuari ada jemaat yang menganut Kristen Protestan. Mereka adalah jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Selain itu, di beberapa kampung terdapat campuran Katolik dan jemaat GPKAI serta jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI). Sedangkan di Agats dan Atsj ada jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua.

Pada saat perayaan 50 tahun Keuskupan Agats, Minggu, (24/11/2019) silam, Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM menyebutkan bahwa umat Katolik keuskupan Agats mencapai 70 ribu jiwa, tersebar di wilayah kabupaten Asmat, sebagian kabupaten Nduga dan Mappi.

Kondisi geografis Asmat yang sulit turut menyumbang lambannya deteksi dini pengidap HIV. Selain itu, keterbatasan peralatan tes HIV dan tenaga kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) di kampung-kampung terpencil semakin menambah cepatnya persebaran HIV di Asmat.

HIV dan AIDS berdampak langsung terhadap masa depan Gereja Katolik di Asmat. Sebab, mayoritas penduduk Asmat beragama Katolik. Mereka tersebar di 224 kampung di Kabupaten Asmat dan beberapa kampung di kabupaten Mappi dan Nduga.

Bagaimana menjangkau dan mengedukasi umat supaya terhindar dari virus HIV? Tenaga pastoral di Keuskupan Agats sangat terbatas. Satu orang Pastor Paroki menangani beberapa stasi (kampung). Akibatnya, tidak semua stasi mendapatkan pelayanan maksimal.

Di setiap stasi ada dewan gereja stasi, tetapi mereka pun sibuk dengan berbagai urusan keluarga, di samping kapasitas yang tidak mumpuni, lantaran jarang mendapatkan peningkatan kapasitas yang mendukung pelayanan mereka. Selain itu, umat juga tidak selalu menetap di kampung-kampung. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dusun dan tinggal di bevak-bevak. Kondisi ini menimbulkan tantangan berat dalam penyebaran informasi tentang bahaya HIV dan AIDS di Asmat.

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Gereja Katolik keuskupan Agats perlu memikirkan strategi pastoral HIV dan AIDS konteks Asmat. Selain sosialisasi pada saat ibadah hari Minggu, perlu ada anggota dewan gereja stasi yang dilatih secara khusus untuk memberikan informasi dasar terkait HIV-AIDS kepada umat di stasi. Pada akhirnya, segala usaha pencegahan HIV dan AIDS di Asmat harus berbasis keluarga.

Keluarga dalam penghayatan orang Asmat sangat luas. Selain keluarga inti, bapa, mama dan anak-anak, ada pula marga (fam) yang saling terikat satu sama lain. Kekuatan ikatan sosial budaya orang Asmat semacam ini merupakan peluang untuk membangun diskusi dan sosialiasi terkait HIV dan AIDS. Karena itu, setiap Pastor Paroki perlu memberikan perhatian lebih serius pada pastoral HIV dan AIDS berbasis keluarga.

Mengingat HIV dan AIDS erat kaitannya dengan perilaku hidup manusia, maka seluruh materi diskusi dan sosialisasi HIV dan AIDS harus menyentuh aspek perilaku hidup manusia. Keluarga-keluarga Katolik Asmat harus benar-benar menghayati dan mempraktekkan kesetiaan dalam hidup berkeluarga. Suami dan istri harus menjadi panutan bagi anak-anak.

Demikian halnya, pemuda-pemudi Asmat yang telah menikah secara adat dan Gereja harus menjaga dan memelihara kesakralan hidup perkawinan mereka.

Pada saat pertemuan tim HIV dan AIDS keuskupan Agats, Jumat, (27/09/2019), di aula pusat pastoral, Mgr. Aloysius Murwito OFM menegaskan bahwa dalam setiap diskusi, sosialisasi tentang HIV dan AIDS harus mengangkat aspek perilaku moral hidup umat Katolik. Ia juga berharap supaya isu HIV dan AIDS harus diangkat ke permukaan, supaya mendapatkan perhatian semua pihak. Selain itu, orang-orang yang berperilaku berisiko harus mendapatkan kesempatan prioritas untuk tes HIV.

Diskusi dan berbagi pengalaman tentang HIV dan AIDS, dengan mengangkat aspek perilaku moral, dan tes HIV suka rela sangat cocok dilakukan pada kelompok kecil, keluarga-keluarga atau kelompok fam (marga). Mereka bisa berdiskusi secara luas dan mendalam tentang ancaman HIV dan AIDS bagi keberlanjutan hidup keluarga dan fam masing-masing.

Selain di keluarga dan komunitas fam, diskusi HIV dan AIDS bisa dilakukan di lingkungan atau komunitas basis (Kombas). Di setiap paroki dan stasi ada lingkungan-lingkungan, sedapat mungkin setiap minggu sekali dilakukan doa lingkungan sekaligus diskusi HIV dan AIDS. Umat lingkungan diajak untuk berbicara terus-menerus tanpa henti tentang HIV dan AIDS supaya setiap umat dapat terhindar dari virus mematikan ini.

Sosialisasi dan diskusi HIV dan AIDS juga harus mulai berjalan di kelompok kategorial seperti Orang Muda Katolik (OMK), Wanita Katolik, kelompok doa kerahiman, kelompok doa gerakan imam Maria dan lain-lain. Orang harus berbicara terus-menerus tentang HIV dan AIDS supaya setiap pribadi saling mengingatkan untuk berperilaku hidup sehat, setia pada pasangan dan tidak melakukan seks bebas sehingga terhindar dari virus HIV.

Saat ini, HIV dan AIDS sedang mengancam warga di tanah lumpur Asmat. Prostitusi di warung makan di Jalan Muyu kecil dan Jalan Ayam semakin tidak terbendung. Demikian halnya, kafe-kafe dan rumah-rumah penginapan di Agats turut melanggengkan terjadinya transaksi seksual yang tidak aman. Karena itu, Gereja lokal keuskupan Agats perlu membentengi kehidupan umat Allah dengan perilaku hidup yang sejalan dengan ajaran Tuhan Allah: kesetiaan suami-istri, tanpa seks bebas, zinah dan cabul.

Keluarga-keluarga Katolik Asmat perlu mendapatkan pendampingan dan peneguhan sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam sikap dan perbuatan yang membawa mereka ke jurang maut HIV dan AIDS. Penggerak terletak pada Pastor paroki dan dewan Gereja stasi.

Setiap Pastor yang berkarya di Keuskupan Agats perlu memiliki persepsi dan komitmen yang sama tentang HIV dan AIDS serta upaya pencegahannya. Tanpa ada kesamaan pemahaman dan komitmen untuk upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Asmat pada diri setiap Pastor Paroki, maka umat Katolik Asmat akan mengalami masa depan yang suram. Sebab, mereka akan hidup bukan hanya dalam bayang-bayang HIV dan AIDS tetapi akan punah karena virus mematikan itu.

Pastor paroki harus menjadi penggerak. Ia harus berada di depan untuk memimpin gerakkan melawan HIV dan AIDS. Ia harus berbicara terus-menerus tentang HIV dan AIDS tanpa henti. Demikian, umat Katolik di Keuskupan Agats bisa terseleamatkan dari virus, yang hingga sekarang belum ditemukan obatnya.

Semoga seluruh komponen umat Katolik Keuskupan Agats, pimpinan gereja, dewan gereja paroki dan stasi, kelompok kategorial dan segenap umat Katolik bersatu dan berkomitmen kuat untuk usaha pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Asmat. Dengan demikian, umat Katolik Asmat dapat terhindarkan dari virus HIV.

 

Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Tahun 2003-2012 menjadi anggota persaudaraan Fransiskan Papua. Sejak Agustus 2012 sampai sekarang menjadi aktifis pemberdayaan dan perdamaian Papua. Saat ini bekerja pada Yayasan BaKTI Makassar, sebagai koordinator Kabupaten Asmat Program KOMPAK LANDASAN PAPUA.

Leave A Reply

Your email address will not be published.