Kisah Misionaris Indonesia di Negeri Orang (1): Makan dan Minum Harus Disiapkan Sendiri

Masyarakat Indian walau sudah lama dibaptis, mereka belum mengerti cara berdoa.

0 457

Katolikana.com – Katolikana menggelar talkshow #BincangKAMU #KAtolikanaMuda edisi “Ganteng-Ganteng Misionaris” menampilkan kisah tentang suka duka para misionaris ganteng asal Indonesia menjalani panggilannya di negeri orang.

Talkshow #BincangKAMU edisi perdana, Senin (20/7/2020), menghadirkan narasumber tiga misionaris Indonesia yang bertugas di luar negeri: Romo Ramlan Remigius Sihombing, SVD yang bertugas di Amazon, Romo Petrus Santoso, SCJ yang bertugas di Hongkong, dan Romo Theodorus Beta Herdistyan, OFM yang bertugas di Israel. Talkshow ini dimoderatori oleh dua reporter Katolikana, yaitu Albi SIndoro dan Maria Ii Agista.

Awal Mula Menjadi Misionaris

Romo Ramlan Remigius, SVD memilih tiga negara tujuan untuk berkarya yaitu Portugal, Brazil, dan Panama. Gagal mendapat visa ke Panama, tiga tahun kemudian Brazil menjadi tempat Romo Ramlan bertugas. Setelah tiga tahun di San Paulo, Amazon pun menjadi tempat bertugasnya hingga kini.

Romo Petrus Santoso, SCJ bertugas di Hongkong. Tahun 2017 Romo Petrus mengirim surat kepada Romo Provinsial yang berikan pernyataan untuk bersedia mengabdikan diri menjadi misionaris di Asia.

Romo Theodorus Beta Herdistyan, OFM bertugas ke Israel setelah berunding bersama dengan Romo Provinsial dan teman-teman seangkatannya. Setelah ditahbiskan, akhirnya pada Desember 2013, sampailah Romo Beta di Israel.

Perasaan Menjadi Misionaris

Romo Ramlan awalnya cukup cemas dan takut karena mendengar berbagai kabar negatif mengenai Amazon. Namun, rasa takut dan cemas berubah menjadi rasa bangga ketika akhirnya bisa sampai di Amazon. “Sebagai bagian dari SVD yang merupakan kongregasi misi, saya selalu siap untuk menjadi misionaris,” ujar Romo Ramlan.

Romo Petrus sangat bersuka cita saat ditugaskan menjadi misionaris. “Menjadi misionaris adalah pemagangan sebagai orang Kristiani, terutama sebagai imam,” ujar Romo Petrus. Setelah menahan keinginannya untuk menjadi misionaris setelah studi di Filipina, akhirnya mimpinya sebagai misionaris pun tercapai.

“Semua orang ingin ke tanah suci, sehingga bertugas di tanah suci adalah rahmat yang luar biasa,” ujar Romo Beta. Walau tidak pernah bermimpi menjadi misionaris, tetapi kaul ketaatan menjadi pegangan Romo Beta dalam menjalani panggilannya.

Pengalaman Menarik

Setelah enam bulan di Amazon, akhirnya Romo Ramlan berani mengunjungi desa masyarakat Indian. Terdengar suara tembakan karena ada yang sedang berburu, cerita tentang binatang buas kelaparan yang mengincar anak-anak, dan lain-lain.

“Ada satu fakta unik dari masyarakat Indian: walau sudah lama dibaptis, mereka belum mengerti cara berdoa,” papar Romo Ramlan tentang hal unik yang ditemui di Amazon.

Bagi Romo Petrus, situasi politik yang memanas menjadi pengalaman tersendiri. “Saya sering melihat demo antara anak muda dan polisi yang biasanya terjadi di akhir pekan. Namun yang paling terasa dampaknya adalah COVID-19 yang membuat misionaris tidak bisa berkarya bagi umat, dan hanya bisa mendokan umat dari gereja,” tambahnya.

Romo Beta mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa karena bisa bertugas di Kapernaum, tempat Yesus membuat banyak mujizat. Pengalaman menegangkan juga dirasakan saat bisa melihat langsung rudal yang hancur di atas langit saat terjadinya serangan Gaza terhadap Israel.

Tantangan Menjadi Misionaris

Bahasa menjadi tantangan yang paling terasa dialami oleh para misionaris. Namun ada juga beberapa tantangan yang berbeda-beda tiap negaranya.

Romo Ramlan merasa bahwa hanya dianggap Imam ketika sedang melaksanakan Ekaristi. “Makan, minum, serta segala kebutuhan harus ditanggung dan saya siapkan sendiri. Selain itu, umat di Amazon tidak terlalu disiplin dengan waktu, sehingga bisa dikatakan terlalu santai. Tidak ada perlakuan istimewa,” paparnya.

Karakter orang Hongkong yang cukup keras, serta kedisiplinan menjadi tantangan bagi Romo Petrus. Segala hal harus tepat waktu, dan sesuai konteks. Walaupun kadang sedih dan masih kesulitan berbahasa Kantonis, Romo Petrus tetap berusaha menjadi penyembuh bagi para migran yang didampingi.

Romo Beta juga bertugas mendampingi para migran Filipina, dan juga menjadi pendamping peziarah Indonesia. Kesulitan dalam berbahasa Arab membuat Romo Beta belum bertugas memimpin Ekaristi di gereja, namun tetap bisa membantu membagikan hosti karena umat hanya mau diberi hosti oleh Imam.

Selengkapnya, langsung tonton rekaman talkshow di Channel YouTube KATOLIKANA.

Reporter: Maria Ii Agista (MIA)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.